Polisi Mulai Selidiki Kasus
BERITA TERKAIT

TULUNGAGUNG – Polisi tak ingin berlama-lama menangani kasus pelecehan seksual yang menimpa NF salah satu santri di pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Ngunut. Korps baju cekelat itu, kemarin (15/5) mulai terjun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan pasca laporan dari pihak keluarga korban pada Sabtu lalu. Di mana proses penyelidikan untuk mengumpulkan barang bukti dan menjerat tersangka itu, dimulai dengan meminta keterangan bocah 10 tahun tersebut.“ Ya masih dalam proses penyelidikan, hari ini(kemarin) polisi memang meminta keterangan dari korban yang berada di RSUD dr Iskak,” jelas Kasubag Humas Polres Tulungagung AKP Saeroji kemarin (15/5). Selain itu polisi meminta keterangan dari ponpes. Dengan begitu diharapkan bisa mengungkap kronologi kasus yang menimpa santri tersebut. Menangapi kasus pelecehan seksual menimpa NF, Koordinator Pekerja Sosial Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif, Sunarto mengatakan, sudah menerima laporannya. Dia menjelaskan, bagaimana tentang upaya untuk menanggapi kasus pelecehan seksual, yang jelas melakukan pendampingan mulai awal. Yakni mulai pemeriksaan hingga pemulihan kondisi kesehatan dan psikisnya. “ Korban kasus pelecehan seksual mengalami trauma,” ungkapnya. Padahal untuk mengembalikan kondisi psikologis anak supaya pulih, memang tidak mudah. Sebab butuh waktu, dan terkadang ada kendala intern pihak keluarga. Minimal butuh waktu tiga bulan pendampingan untuk mengembalikan kondisi psikis anak. Itupun jika dilakukan konsultasi rutin satu minggu sekali dan masih butuh bantuan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dengan begitu, peran orang tua begitu besar. Agar anak bisa kembali hidup normal, dan tidak terbelenggu dengan pengalaman pahit. “ Orang tua harus mengerti seberapa parah trauma pada anak, kebanyakan kasus dengan satu atau dua kali konsultasi orang tua sudah menganggap trauma pada anak sudah sembuh, karena melihat anak sudah mau bermain bersama teman-temannya. Padahal itu belum tentu dikatakan sembuh perlu diadakan tes untuk mengetahuinya. Namun kami akan terus berusaha melakukan pendampingan,” tegasnya. Belajar dari kasus yang sudah ada, jarang sekali korban pelecehan seksual bisa kembali normal dalam kurun waktu tiga bulan. “ Saya pernah menangani kasus pelecehan seksual, pada waktu itu korban kelas empat sekolah dasar, dan saya melakukan pendampingan hingga korban duduk di sekolah menengah atas,” jelasnya. Biasanya dalam pendampingan, dia melakukan terapi dan nasehat untuk melupakan masa lalu. Jika korban mengalami trauma berat biasanya dilakukan pengobatan di psikiatri. “ Kalau trauma tidak terlalu parah cukup dengan psikolog namun kalau sudah parah perlu mendapat pengobatan dari psikiatri,” ungkapnya. Melihat kasus pelecehan tersebut pihaknya mengimbau kepada masyarakat perlu diajarkan pada anak tentang bagian tubuh dan fungsinya. “ Anak harus dikenalkan dengan bagian-bagian tubuhnya dan kondisi sekitar sejak kecil,” pungkasnya. Seperti diberitakan lalu, nasib dan kisah pilu dihadirkan NF, warga di Kecamatan Kalidawir. Niat hati ingin menjadi santri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Ngunut. Namun bocah itu justru mengalami trauma, semenjak menjadi korban pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Hingga berakibat pendarahan dan terpaksa di rawat di RSUD dr Iskak sejak Selasa (9/5). Diduga pelaku pelecehan seksual dilakukan oknum di mana tempat bocah tersebut menimba ilmu. Sedangkan kekerasan fisik dimotori kakak kelasnya. “ Ya memang benar ada kejadian memilukan ini,” ungkap kakak sepupu korban, Aziz Prasida, kemarin (14/5). (hki/din)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar