Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Hasyim Asyari, Perajin Popor Sekaligus Reparator Senapan Angin

Rabu, 11 Jul 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN: Hasyim sedang mengelas kuningan untuk tabung dan laras senapan angin di bengkelnya kemarin (10/7).

TELATEN: Hasyim sedang mengelas kuningan untuk tabung dan laras senapan angin di bengkelnya kemarin (10/7). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Berawal dari hobi berburu hama pertanian, Hasyim Asyari kini dapat julukan dewa senapan lantaran kepiawaiannya dalam memperbaiki senapan angin. Mayoritas pesanan Warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, ini datang dari luar pulau yang notabene masih banyak perkebunan.

AGUS MUHAIMIN

Suara mesin bubut kayu terdengar cukup membisingkan telinga. Seorang pria paro baya yang diketahui bernama Hasyim Asyari terlihat sangat hati-hati membuat lubang pada potongan kayu mahoni.

“Dulu saya pakai kayu jenis Sono, tapi sekarang sudah langka,” katanya sambil tetap memperhatikan balok kayu yang dia kerjakan kemarin (10/7).

Ya, Hasim-sapaannya sedang membuat Popor atau gagang senapan angin. Kayu Sono memang memiliki karakter yang cocok untuk dibuat popor senapan angin. Selain mudah dibentuk, kayu jenis ini memiliki ketahanan yang bagus. Namun, kayu mahoni juga tidak kalah dalam hal kualitas, apalagi kayu ini terkenal ringan.

Sudah cukup lama Hasyim menekuni usaha menjadi perajin atau reparasi senapan angin ini, sekitar tahun 90-an. Pada saat itu, menjadi perajin popor adalah pekerjaan sampingan saja karena dia lebih memilih menjadi tukang pelitur atau poles kayu.

“Dulu saya pemborong pelitur. Ada banyak orang yang ikut,” katanya.

Sayang, kondisi fisiknya tidak begitu mendukung. Dia pun menjadi pemborong di bidang poles ini. Kemungkinan karena setiap hari berhubungan dengan cat dan pelitur, pernafasannya jadi terkendala. Sehingga pada awal tahun 2000-an Hasyim pilih banting setir dan fokus menjadi perajin popor sekaligus senapan angin.

Hasyim bercerita, pada awal membuka reparasi ini dirinya sempat diremehkan orang. Maklum, kala itu senapan angin menjadi salah satu benda yang cukup langka. Jangankan memperbaiki atau menjadi perajin, pemiliknya saja sangat jarang.

“Saat itu, saya dengar ada bengkel untuk reparasi di daerah Kediri, trus saya coba melihat ke sana,” ungkapnya.

Di bengkel itu, Hasyim dikira hendak membeli atau memperbaiki senapan angin miliknya. Nyatanya, dia hanya ingin mengetahui tempat penjualan bahan atau komponen senapan angin tersebut. Dari situlah akhirnya Hasyim memperoleh informasi mengenai bahan bahan untuk membuat atau memperbaiki komponen senapan angin.

“Alhamdulillah, saat ini sudah tergolong lumayan jumlah pelanggannya,” katanya lantas tersenyum.

Sebagian besar langganan Hasyim ini adalah orang-orang luar pulau. Sebab, di beberapa daerah di sana masih banyak perkebunan, semisal sawit dan karet sehingga jelas banyak hama pertanian.

Selama menjalankan usaha ini, Hasyim kebanyakan tidak pernah bertemu dengan para pelanggan tersebut. Dia mendapat order dari hasil getok tular. Belakangan ini, kecanggihan teknologi membantunya dalam hal pemasaran. Yakni media sosial (medsos) dan internet benar-benar dia manfaatkan untuk menggenjot penjualan. Namun, lagi-lagid ia hanya mendapatkan pesanan via internet (medsos, Red) atau telepon. “Pernah juga pesanan tidak sampai tujuan. Terpaksa kita harus kirim ulang, namanya usaha pasti kadang ketemu kendala,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga pernah menemukan pelanggan yang nakal. Hasil karyanya tidak dibayar. Mungkin karena sudah beberapa kali pesan sehingga Hasyim sedikit longgar dalam hal pembayaran. Padahal, biasanya bayar dulu baru barang dikirimkan. “Ya gak apa-apa, kalau sudah rezeki pasti ada gantinya,” ungkapnya.

Dirinya tidak mungkin mencari pelanggan yang tidak bayar tersebut. Selain karena ongkos yang tinggi, dia juga belum pernah bertemu dengan para pelanggannya secara langsung.

Pada awal menjalankan usaha ini, Hasyim juga harus melalui jalan yang tidak mulus. Dalam hal pengiriman, kadang ada juga ekspedisi yang enggan melayani ketika mengetahui bahwa barang yang dikirim tersebut adalah senapan. Maklum, meskipun senapan angin, jika salah peruntukannya juga bisa menjadi senjata yang berbahaya.

Namun, seiring perkembangan dan kedewasaan masyarakat, hal itu tidak lagi menjadi kendala. Bahkan sebaliknya, karena seringnya dapat pesanan dari luar daerah, dia justru mendapat pelayanan yang baik dari bagian ekspedisi.

“Kalau dulu harus datang ke kantor, kini mereka yang ke sini untuk ambil barang dan dikirim ke lokasi tujuan,” ujarnya.

Untuk reparasi atau pembuatan popor, setidaknya Hasyim membutuhkan waktu sekitar dua hari. Yang paling lama adalah membuat popor karena finishing membutuhkan waktu untuk pengeringan. Komponen lain tidak lama karena dia memiliki peralatan yang lumayan lengkap.

“Sekarang kan ada banyak model popor. Jadi antarpemesan itu kadang tidak sama bentuknya,” terang Hasyim.(ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia