Selasa, 19 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

RSUD Tak Layani Lagi Fisioterapi

28 Juli 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SUDAH TUTUP: Sejumlah pasien tengah mengantre untuk mendapatkan pelayanan fisioterapi di RSUD dr Soedomo, kemarin (27/7).

SUDAH TUTUP: Sejumlah pasien tengah mengantre untuk mendapatkan pelayanan fisioterapi di RSUD dr Soedomo, kemarin (27/7). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Sebagian masyarakat yang ingin mendapat pelayanan fisioterapi di RSUD dr Soedomo harus bersabar. Pasalnya, mulai hari ini rumah sakit pelat merah tersebut tidak bisa memberikan pelayanan fisioterapi untuk pasien BPJS. Itu karena rumah sakit tersebut belum memiliki tenaga spesialis rehab medik.

Sebelumnya, rumah sakit tersebut masih melayani pasien fisioterapi BPJS lantaran periode 21 Juli hingga 21 Desember nanti masih dalam masa transisi untuk peraturan anyar tersebut. Dalam Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 5 Tahun 2018 disebutkan, pada masa transisi, penjaminan bisa dilakukan asal ada assessment dari kedokteran medik. Ini pula yang selama ini dilakukan. Karena tidak ada spesialis rehab medik, pasien fisioterapi mendapat rujukan dari dokter spesialis saraf sebelum ditangani fisioterapis.

“Setelah koordinasi lebih lanjut, ternyata jika tidak memiliki tenaga spesialis rehab medik, pelayanan tersebut tidak bisa diklaimkan ke BPJS,” ungkap dr Saeroni, Direktur RSUD dr Soedomo, kemarin (27/7).

Menurut dia, sebenarnya masih ada cara lain dalam memberikan pelayanan fisoterapis bagi pasien BPJS. Misal, kerja sama dengan dokter spesialis rehab medik untuk memberikan supervisi secara berkala (sebulan sekali) kepada fisioterapis. Hanya, selama ini jumlah tenaga spesialis rehab medik cukup jarang. Kalaupun ada, sudah tentu bekerja sama dengan rumah sakit lain.

“Makanya, mulai besok (hari ini), sementara kami tidak bisa melayani pasien BPJS (fisioterapi, Red),” katanya.

Dia menyebutkan, setiap hari ada sekitar 20 pasien BPJS yang membutuhkan fisioterapi di rumah sakit ini.

“ Kalau yang SKTM atau umum masih bisa dilayani,” jelas dia.

Di lokasi terpisah, Herlin, seorang fisioterapis RSUD dr Soedomo mengaku telah memberikan informasi kepada pasien BPJS terkait aturan baru tersebut. Dengan harapan, tidak menyalahkan para medis yang tidak bisa memberikan pelayanan kepada pasien BPJS.

“Kami edukasi banyak yang mau pakai jalur umum. Jadi mereka bayar langsung pelayanan fisioterapi,” katanya.

Dia menjelaskan, biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien sekitar Rp 45 ribu. Itu untuk tindakan terapi atau menggunakan alat-alat terapi di rumah sakit. Jika ada pasien BPJS yang keberatan dengan hal itu, bisa datang ke klinik atau rumah sakit swasta yang bisa melayani mereka.

“Kami dan rekan-rekan ada klinik gratis untuk pasien fisioterapi yang kurang mampu,” katanya. (hai/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia