Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Pendidikan

Jumlah Anak Usia Belajar Naik

Sabtu, 28 Jul 2018 12:20 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENINGKAT : Siswa di SDN 5 Bendorejo bermain pada saat jam istirahat. Siswa baru di SDN ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu.

MENINGKAT : Siswa di SDN 5 Bendorejo bermain pada saat jam istirahat. Siswa baru di SDN ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Para orang tua di Kota Keripik Tempe semakin “melek” tentang pentingnya pendidikan. Salah satu indikasinya, jumlah anak usia belajar di Trenggalek di tahun ajaran 2018/2019 ini mengalami sedikit kenaikan. Di tahun ajaran ini, ada tambahan sebanyak 120 siswa kelas I SD. Ini berbeda jika dibanding tahun ajaran sebelumnya (2017/2018).

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek, hingga kemarin (27/7), dari SDN di 14 kecamatan wilayah Trenggalek tercatat ada 7.352 siswa. Jumlah tersebut terdiri atas 3.768 siswa laki-laki dan 3.584 siswa perempuan. Jumlah ini sedikit lebih banyak dari tahun sebelumnya, yakni 7.232 siswa baru kelas I, terdiri atas 3.684 siswa laki-laki dan 3.548 siswa perempuan. ”Persebaran siswa SDN itu dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan berarti. Tergantung luas wilayah dan jumlah penduduk di sekitar sekolah bersangkutan,” ungkap Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SD Disdikpora Trenggalek Eksatya Amil Dyah Lestari.

Dia melanjutkan, dari jumlah tersebut, siswa SDN terbanyak terdapat di Kecamatan Panggul dengan 897 siswa, terdiri atas 475 siswa laki-laki dan 422 siswa perempuan. Dan disusul Kecamatan Trenggalek dengan 872 siswa, terdiri atas 466 laki-laki dan 406 perempuan. Sedangkan siswa tersedikit di Kecamatan Suruh dengan 278 siswa, terdiri atas 161 siswa laki-laki dan 117 siswa perempuan. Lalu, Kecamatan Bendungan ada 320 siswa, terdiri atas 169 siswa laki-laki dan 151 siswa perempuan. “Rata-rata usia siswa baru tersebut sekitar tujuh tahun. Usia ideal mengenyam pendidikan kelas I SD,” katanya.

Kemungkinan, jumlah tersebut bisa terus bertambah seiring dimulainya tahun ajaran baru. Berbeda dengan pendaftaran SMPN maupun SMAN/SMKN yang dilakukan penyeleksian berdasarkan nilai ujian akhir dan waktu dibatasi, itu tidak berlaku bagi SDN. Kendati waktu pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang ditetapkan disdikpora sama persis dengan PPDB SMPN, tidak dilakukan penyaringan berdasarkan jumlah nilai ujian akhir. Sehingga bagi anak-anak berusia ideal dan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan, bisa langsung mendaftar di SDN yang dikehendaki. Kendati tidak sekolah di pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun taman kanak-kanak (TK) terlebih dulu. Sehingga kemungkinan dengan berjalannya waktu, laporan di tiap sekolah bisa berubah.

Sedangkan terkait jumlah 7.352 siswa baru kelas I tersebut apakah ideal untuk diterima di SDN, disdikpora tidak berani menjawabnya. Sebab sampai saat ini tidak ada data yang mengatakan jumlah spesifik lulusan TK yang melanjutkan pendidikan ke SD, seperti jumlah lulusan SD yang akan melanjutkan pendidikan ke SMP. Apalagi untuk jumlah anak usia ideal yang berhak mendapatkan pendidikan. “Pastinya, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak di sini yang memiliki usia ideal, bisa memperoleh pendidikan. Sehingga anak pada usia itu yang mendaftar di SDN akan langsung diterima, kendati anak berkebutuhan khusus (ABK),” jelas wanita berhijab yang akrab disapa Tari ini.

Guru kelas I SDN 5 Bendorejo Dwi Yuanita menambahkan, kenaikan siswa juga terjadi di kelas yang diampunya. Ini terlihat pada tahun ajaran baru ini, ada 12 siswa. Sedangkan, di tahun ajaran sebelumnya, yang kini kelas II, ada 11 siswa. “Kendati hanya satu siswa, jumlah siswa baru di sini juga mengalami kenaikan. Karena di sekitar ini ada beberapa sekolah dasar, baik negeri maupun swasta,” imbuhnya. (jaz/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia