Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features
Budaya

Kasepuhan Sentono Dalem Majan, Rutin Gelar Haul KAR Khasan Mimbar

Senin, 06 Aug 2018 08:36 | editor : Anggi Septian Andika Putra

PEDULI: Prosesi pengukuhan keluarga sentono dalem Majan.

PEDULI: Prosesi pengukuhan keluarga sentono dalem Majan. (PASENDAM FOR RATU)

Sosok Kiai Ageng Raden (KAR) Khasan Mimbar tentu tak bisa dilepaskan dari sejarah Islam dan keberadaan kabupaten ini. Agar ulama tersebut tetap dikenal dan diteladani, keluarga besar kasepuhan sentono dalem (pasendam) Majan, rutin menggelar haul tokoh itu.

AGUS DWIYONO

Suasana awal Agustus lalu di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, begitu ramai. Ribuan warga dari dalam dan luar Kota Marmer ini memadati lokasi sekitar Masjid Khasan Mimbar. Memang di situ digelar berbagai kegiatan Haul  KAR Khasan Mimbar.

Meski rutin digelar, atmosfir warga untuk berkunjung tak pernah pudar. Sejak pagi hingga malam betah di sekitar lokasi kegiatan.

Apalagi dihadiri tamu undangan dari perwakilan staf TNI AU, kapolres, dandim, perwakilan Pj Bupati Tulungagung, perwakilan parpol, pimpinan bank, perwakilan Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) Madiun, dan lain-lain. “Tidak saja haul, tapi ada bebarapa acara lain,” terang Koordinator Pasendam Majan Raden Ali Shodiq.

Di antara rangkaian kegiatan Haul KAR Khasan Mimbar ini, ada salawat nariyah, pengukuhan keluarga sentono dari Makassar Prof Dr Juwajir SH, MH, oleh sesepuh sentono dalem  Laksana Muda Purnawirawan R. Hari Yuwono dan Laksamana Pertama TNI Hadi Santoso.        

Salain itu, dimeriahkan hadrah yang tergabung dalam Ikatan Seni Hadrah (Ishari) Jatim, tahlil naluri, zikir serentak.

“Tujuan berbagai cara tersebut untuk mengenang jasa KAR Khasan Mimbar maupun para tokoh pendiri Kabupaten Tulungagung,” terang pria calon doktor itu.

Apalagi desa tersebut memiliki kisah kebudayaan dan sejarah yang panjang terkait Kabupaten   Tulungagung. Itu dibuktikan dengan adanya makam tiga bupati Tulungagung di pemakaman sentono dalem. Mereka adalah R.M. Tumenggung Pringgodiningrat, R.M. Tumenggung Joyoningrat, dan R.M. Tumenggung Pringgokusuma. “Kain batik kamardikan majan yang tidak bisa ditemui di tempat mana pun. Jadi  perlu dilestarikan,” ujarnya.

Di samping itu, jalinan silaturahmi keluarga sentono dalem makin erat dan kokoh. Meski sebagian besar tidak berada di Desa Majan, tetap memiliki kedekatan emosional dengan nenek moyang mereka. (*/ed/din)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia