Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Eli Sunarko, Juru Kunci Petilasan Ki Ageng Singoyudho Tradisi Mbelik

Senin, 06 Aug 2018 16:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

SANG PENJAGA: Eli Sunarko saat di lokasi pertunjukan budaya di Kelurahan Sumbergedong kemarin (3/8)

SANG PENJAGA: Eli Sunarko saat di lokasi pertunjukan budaya di Kelurahan Sumbergedong kemarin (3/8) (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Setiap Jumat Kliwon di bulan Sura (penanggalan Jawa, Red), terdapat tradisi mbelik di Kelurahan Sumbergedong. Budaya itu merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan setahun sekali sebagai wujud syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Agus Muhaimin

Suara terompet dan kendang terdengar bertalu-talu di seputaran Kelurahan Sumbergedong, kemarin (3/8). Ratusan atau bahkan ribuan warga berjubel memadati pusat suara tersebut berasal di Kelurahan Sumbergedong.

Mereka membentuk sebuah lingkaran besar. Di tengahnya, terdapat sejumlah personel kesenian jaranan yang berlenggak-lenggok mengikuti irama musik. Balita hingga manula tampak menikmati pertunjukan budaya asli Kota Keripik Tempe ini.

Ya, hiburan atau pertunjukan itu merupakan salah satu rangkaian budaya yang setiap tahun digelar oleh masyarakat Trenggalek, khususnya di Kelurahan Sumbergedong. Sebagai wujud syukur kepada Tuhan, mereka secara rutin menyelenggarakan kegiatan ini.

Pagi hari, sebelum pertunjukan budaya ini, warga Kelurahan Sumbergedong  menggelar ziarah ke tempat petilasan Ki Ageng Singo Yudho. Di dekat lokasi ini, terdapat sumber mata air yang selama ini menjadi salah satu lokasi yang dianggap sakral bagi warga setempat. Pada malam hari sebelumnya, warga kelurahan ini menggelar syukuran di kelurahan.

"Kalau istilah kekiniannya bersih desa. Tapi, sebenarnya ini juga budaya untuk menjaga kerukunan warga," kata Eli Sunarko, pria yang juga sebagai juru kunci petilasan Ki Ageng Singo Yudho ini.

Keberadaan Eli Sunarko selama ini tak lain yakni menggantikan orang tuanya yang meninggal pada tahun 2008 silam sebagai juru kunci mbelik atau sumber mata air yang tak pernah kering tersebut.

Juru kunci memang bukan sebuah jabatan yang bergengsi. Tapi bagi Mbah Bo-sapaan Eli Sunarko, itu merupakan amanah yang harus dilaksanakan dan dijalani dengan ikhlas.

Pada momen-momen tertentu, dengan sabar dia melayani pengunjung petilasan sumber mata air tersebut. Baik mereka yang berdoa maupun mengambil air yang konon memiliki unsur mineral yang baik ini.

"Yang mengabulkan doa itu Tuhan. Air atau yang lainnya itu hanya sarana Tuhan mengabulkan doa umatnya," jelas dia.

Mbah Bo tidak mengetahui secara detail asal-usul mbelik atau petilasan Ki Ageng Singo Yudho ini. Yang dia tahu, sumber mata air itu sudah ada sejak zaman kerajaan. Selain salah satu sumber mata air tertua, ada yang unik dengan sumber tersebut. Yakni tidak pernah kering maupun keruh meski terjadi banjir.

"Setahun sekali dikuras, meskipun sebenarnya gak ada kotoran atau lumutnya," katanya.

Tradisi nguras sumber mata air tersebut digelar atau dilaksanakan setiap hari Jumat pasaran Kliwon bulan Sura. Jika dulu kegiatan ini hanya diawali dengan selamatan (kenduri, Red) alias syukuran. Namun, kini ada inovasi baru yakni dengan menambah hiburan kesenian lokal jaranan.

"Kata nenek moyang saya dulu hanya syukuran saja, terus sejak saya kecil ditambah hiburan jaranan," kenangnya.

Pria 59 tahun ini mengungkapkan, salah satu wejangan dari para leluhurnya yang dirasa cukup berat adalah mempertahankan budaya atau tradisi tersebut. Pasalnya, bukan tidak mungkin perkembangan dan budaya-budaya kekinian yang kini masuk ke negeri ini bisa berdampak pada kebudayaan lokal.

Untuk itu, dia mengaku sangat respek terhadap generasi muda saat ini yang getol dan antusias untuk mendalami kearifan budaya-buda lokal.

"Ini menjadi tugas kita bersama melestarikan tradisi atau budaya dan menjaga kerukunan dengan sesama," imbuhnya.(ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia