Minggu, 21 Apr 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Terapkan Pola Asuh Permisif, Anak Tak Mandiri dan Hilang Motivasi

26 Oktober 2018, 11: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

CERIA: Sekelompok anak saat asyik bermain perosotan di Taman Aloon-aloon Tulungagung.

CERIA: Sekelompok anak saat asyik bermain perosotan di Taman Aloon-aloon Tulungagung. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk buah hati tercinta. Tak terkecuali melalui pola asuh yang baik. Ada beberapa tipe pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak. Salah satunya pola asuh permisif.

Pola asuh permisif merupakan pola asuh hubungan orang tua dan anak yang memiliki tingkat kehangatan tinggi, tapi kurang kontrol orang tua. Orang tua cenderung bersikap lunak kepada anak. Bahkan hampir selalu menuruti permintaan anak.

Menurut konsultan psikologi, Ifada Nur Rohmaniah, dalam pola asuh permisif, anak cenderung tidak mengerti aturan. Anak bebas dan tidak dapat membedakan mana yang sesuai dengan aturan dan tidak.

“Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung menuruti semua kemauan anak. Akibatnya, anak tidak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri,” jelasnya.

Lanjut dia, anak yang diasuh dengan pola asuh ini cenderung tidak disiplin karena orang tua menghindari konfrontasi. Anak pun akan merasa bebas dalam bertindak.

Wanita berambut pendek ini menjelaskan, beberapa dampak yang kemungkinan akan terjadi jika orang tua terlalu menerapkan pola asuh permisif pada anak. Salah satunya anak tidak punya kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving). Sebab, anak terbiasa diurus dengan orang tua sehingga buah hati tidak belajar menyelesaikan masalah.

“Anak akan bergantung dengan orang tua. Tentu saja ini kurang tepat bagi perkembangan anak,” tuturnya.

Dampak lain yang dapat terjadi adalah anak akan kehilangan motivasi dan sulit untuk mandiri. Sehingga anak akan cenderung untuk ikut-ikutan dengan teman, dan tidak dapat memutuskan sendiri. Jika dibiarkan, akan terbawa hingga anak dewasa. Ketika menginjak dewasa, anak masih bergantung dengan orang tua.

“Jika ini dibiarkan terus-menerus, saat anak menginjak usia dewasa seperti kuliah atau kerja, tidak dapat bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dan ini buruk,” ujarnya.

Dia mengatakan, anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh seperti itu cenderung kurang disiplin dan mementingkan kepentingan sendiri. Ini karena yang bersangkutan terbiasa sedari kecil setiap keinginannya selalu terwujud.

Untuk menghindari hal-hal tersebut, orang tua diharapkan memilih pola asuh yang dapat mendukung perkembangan anak. Pola asuh yang dianggap ideal adalah orang tua tegas mengajarkan etika pada anak, tapi tetap dengan kasih sayang.

“Disiplin. Namun orang tua tetap menjadi pendengar dan teman bagi anak. Dengan demikian, anak tidak merasa takut pada orang tua,” jelasnya.

Dalam mengasuh anak hendaknya tetap mengutamakan komunikasi dan relasi. Memberikan ruang pada anak untuk dapat mengutarakan pendapat adalah hal penting.

Dia mengimbauorang tua agar ketika berkumpul lebihbanyak menjadi pendengar bagi anak. Sebaiknya orang tua memanfaatkan masa keemasan anak. Yakni usia 0 hingga 5 tahun untuk menerapkan etika. Karena jika diterapkan sedini mungkin, akan menjadi kebiasaan anak hingga dewasa.

“Intinya, keberhasilan membangun kedekatan bukan karena seringnya waktu berkumpul, tapi karena kualitas berkumpul,” pungkasnya. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia