Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Daur Ulang Kayu Bekas Jadi Miniatur ala Imam Muhtar

Senin, 29 Oct 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

DARI MANA SAJA: Imam saat mengerjakan miniatur hasil karyanya bersama beberapa saudaranya.

DARI MANA SAJA: Imam saat mengerjakan miniatur hasil karyanya bersama beberapa saudaranya. (DOK PRIBADI FOR RATU)

Untuk menciptakan sebuah karya seni kreatif memang tidak menuntut pernah belajar. Bahkan dari sebuah hal tak terduga pun bisa menjadi landasan untuk membuat karya. Tak menutup kemungkinan, sebuah karya yang unik bisa menarik minat orang lain untuk membeli.

Hal inilah yang dialami Imam Muhtar, warga Desa Dukuh, Kecamatan Gondang. Kalau anaknya tidak merengek minta dibuatkan miniatur perahu, belum tentu pikirannya tergugah untuk membuat hal yang lain. Padahal dia sebenarnya tidak memiliki dasar sebagai seniman atau perajin.

Hasil karya daur ulang Imam Muhtar

Hasil karya daur ulang Imam Muhtar

“Awalnya anak saya meminta dibuatkan miniatur perahu setelah bepergian ke tempat wisata. Eh, tak tahunya keterusan sampai sekarang,” katanya.

Menurut dia, bahan utama yang dipakainya itu adalah kayu bekas yang ditemukan di lingkungan sekitar rumah. Apa pun jenis kayu dengan bentuk yang unik bisa dimanfaatkan untuk berkarya.

Bahkan, akar-akaran yang ditemukan di pinggir sungai pun tidak menjadi masalah.

“Saat memancing ikan, sering juga menemukan akar unik. Langsung saja dibawa pulang ke rumah untuk dijadikan karya seni,” jelasnya.

Begitu sampai di rumah, belum tentu dia bisa langsung menggarapnya. Mengingat sewaktu-waktu ada panggilan dari pihak SMPN 2 Gondang kepadanya.

Alhasil, pria 39 tahun ini pun hanya bisa menggarap jika benar-benar ada waktu luang.

“Kalau siang saya memang jadi pesuruh sekolah. Makanya lebih banyak waktu mengerjakan saat malam tiba,” ujarnya.

Agar sesuai dengan yang diharapkan, kesabaran dan ketelatenan memang menjadi kunci. Untuk itu, dia tidak mau terburu-buru menyelesaikan pesanan orang. Terpenting hasilnya seperti yang diinginkannya maupun si pemesan itu sendiri.

Tak mustahil ada satu karyanya yang baru rampung dua minggu setelah proses awal dimulai.

Untuk ke depan, pria berkulit sawo matang ini ingin mengembangkan hasil karyanya. Namun dia masih mencari momen yang tepat agar nanti benar-benar bisa berkembang. Apalagi untuk saat ini, ada salah satu karyanya yang terbang ke Surabaya dan dijadikan pajangan di sebuah perusahaan.

“Kini terus saya kembangkan dan membuat hal-hal baru. Semoga bisa menjadi lebih baik lagi,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia