Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Belimbing Bangkok Merah Lebih Nikmat Pakai Pupuk Organik

Selasa, 30 Oct 2018 19:11 | editor : Didin Cahya FS

SEGAR DAN MANIS: Belimbing Bangkok merah berukuran lebih besar dibanding jenis lain.

SEGAR DAN MANIS: Belimbing Bangkok merah berukuran lebih besar dibanding jenis lain. (WHENDY GIGIH PERKASA/ RATU)

TULUNGAGUNG- Belimbing menjadi salah satu buah yang banyak ditanam warga di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu. Di tempat itu belimbing yang dipilih yakni jenis bangkok merah. Selain memiliki rasa lebih manis dibanding jenis lain, ukuran bangkok merah lebih besar dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan warga untuk banyak menanamnya.

Informasi yang berhasil dihimpun dari para petani belimbing setempat, sejak tanam hingga mulai berbuah, membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Ketika usia pohon masih muda, justru merupakan masa emas. Sebab, buah yang dihasilkan lebih bagus, padat, dan rasa lebih manis. Namun ketika usia tanaman sudah tua yakni di atas tiga tahun, kualitas buah tergantung dari perawatan. “Istilahnya kalau masih muda itu masa keemasan,” ungkap Siti, salah seorang petani belimbing bangkok merah.

Perawatan yang diberikan seperti pemberian pupuk, penyiraman air, pemeriksaan kondisi tanaman untuk deteksi penyakit, serta penataan ketika penanaman. Selain itu, buah harus dibungkus plastik (brongsong) untuk meminimalkan serangan hama.

Hal menarik yakni penggunaan pupuk. Petani belimbing memilih menggunakan pupuk organik. Alasannya, berpengaruh pada rasa buah saat dikonsumsi. Pupuk organik membuat rasa belimbing manis. Namun jika menggunakan pupuk kimia, rasa manis yang dihasilkan buah kurang mantab. “Pakai pupuk organik rasa manis lebih enak. Saat pakai pupuk kimia, rasa terlalu manis dan jika tidak tawar, maka akan terasa sedikit serik di tenggorokan,” ujarnya.

Untuk peralihan dari pupuk kimia ke organik, tanaman belimbing butuh masa penyesuaian sekitar tiga tahun. Setelah masa itu terlewati, rasa akan benar-benar berbeda ketika masih pakai pupuk kimia.

Belimbing bangkok merah, bisa dipanen setiap hari. Hitungan kasar, sekitar 80 pohon mampu menghasilkan satu kuintal belimbing setiap hari. Hasil panen masih bisa bertambah, ketika perawatan yang diberikan lebih baik lagi. Harga jual dari petani rata-rata Rp 10 ribu per kilogram, tergantung kondisi. “Bisnis belimbing itu hasilnya lumayan,” ujarnya saat ditemui di kebunnya.

Haris, yang juga petani belimbing mengaku, meski bisnis belimbing bangkok merah cukup menggiurkan, namun ada kendala yang harus diwaspadai. Salah satunya hama cabuk. Sebab ketika tanaman belimbing diserang hama itu, dipastikan produksi bisa menurun. Cara mengatasinya yakni disemprot obat khusus tanaman buah. Beberapa petani juga mengeluhkan penurunan penjualan ketika musim tahuan ajaran baru. “Pembeli uangnya dipakai untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah. Jadi permintaan belimbing menurun,” jelasnya.

Alex Zakaria, salah seorang penikmat belimbing mengaku, rasa belimbing bangkok merah di kawasan Moyoketen lebih manis dibanding daerah lain. Dimungkinkan kondisi tanah dan iklim cocok dengan tanaman tersebut. “Manis dan bikin ketagihan. Paling cocok dikonsumsi saat siang hari atau cuaca panas,” ujarnya.

(rt/whe/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia