Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Ahmad Toyibin, Pemuda Desa Manfaatkan Limbah Mebel untuk Woodcraft

Rabu, 31 Oct 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

KREATIF: Ahmad Toyibin beraktivitas membuat kerajinan tangan.

KREATIF: Ahmad Toyibin beraktivitas membuat kerajinan tangan. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Di tangan Ahmad Toyibin, limbah kayu menjadi kerajinan unik dengan nilai ekonomi tinggi. Gara-gara banyak pesanan, Warga Desa, Sugihan Kecamatan Kampak, ini menutup usaha angkringan miliknya setahun lalu.

AGUS MUHAIMIN

“Tahun 2013 lalu aku mulai membuat barang dari bekas limbah mebel,” ujar Ahmad Toyibin kepada Koran ini kemarin (30/10). Awalnya hal itu dia lakukan hanya sekadar coba-coba karena melihat banyak sisa limbah dari bengkel atau mebel. Selain itu, memang ada masukan dari beberapa rekannya untuk memanfaatkan sisa pertukangan.

Kala itu dirinya membuat asbak atau tempat putung rokok dari kayu sisa. Dia sendiri tak menyangka ada beberapa rekannya berminat memiliki asbak dari limbah kayu tersebut. Kala itu bentuknya sangat sederhana.

Lambat laun, Ahmad –sapaan akrabnya- mulai berinovasi dengan membuat barang-barang lain dari kayu limbah yang biasa hanya untuk bahan bakar ini. Pasar woodcraft ternyata cukup luas. Ada banyak peluang agar limbah tersebut menjadi pelengkap atau barang dekorasi rumah. Mulai dari tempat tisu, jam dinding, lampu belajar, hingga gantungan baju.

Ide membuat barang dari limbah kayu ini kadang dia dapatkan dengan mencari referensi di internet, kemudian dimodifikasi sesuai keinginan. “Ternyata peminat barang-barang ini cukup banyak,” terang Ahmad.

Suami Lailatul Istibaidah ini memiliki karakter yang aktif dan jenuh ketika terlalu banyak waktu luang. Pagi hari bekerja sebagai tukang kayu, malamnya membuka usaha kuliner, angkringan. Ya, angkringan atau warung lawas ini tengah digandrungi anak muda. Banyak ditemui hampir di semua pinggir jalan protocol. Yakni warung kecil yang menyajikan camilan dan minumam sederhana.

Namun, gara-gara kerajinan dari limbah kayunya cukup ramai, dia memutuskan menutup usaha kuliner tersebut setahun lalu. Padahal sarana promosi yang dia jalankan dari mulut ke mulut atau antar teman saja. “Semakin ke sini, semakin repot. Kalau malam sudah capek,” katanya.

Dia mengungkapkan, membuat kerajinan atau funitur dari limbah kayu mebel tidak sulit. Normalnya dibutuhkan sejumlah alat yang sedikit berbeda dari peralatan pertukangan lainnya. Hal ini tidak begitu menjadi kendala, lantaran selalu ada alternatif lain sehingga produk tersebut bisa dikerjakan maksimal. “Kebetulan aku pakai softwood. Seperti kayu waru atau pinus. Jadi tidak begitu berat dan mudah dibentuk sesuai keinginan,” ungkapnya.

Menurut dia, dua jenis kayu tersebut cukup banyak digunakan untuk perabotan atau furnitur saat ini. Tidak hanya karena lebih ringan, tapi harganya juga relatif terjangkau jika dibandingkan dengan kayu jenis lain seperti jati atau akasia.

Ahmad mengaku sehari bisa memproduksi beberapa unit lampu belajar atau jam dinding. Itu karena dia terbiasa membuat produk ini sebelumnya. Terlebih lagi kini dia memiliki sejumlah rekan kerja yang membantunya. “Jadi ada beberapa pemuda sekitar rumah yang ingin belajar, bisa produksi cepet,” katanya.

Kendati masih tahap belajar, Ahmad mengaku sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Untuk itu, dia pun menyisihkan sebagian dari laba penjualan produk yang didapat. “Kalau harga produknya macem-macem. Mulai 15 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah juga ada,” terangnya.

Ahmad bersyukur bisa berbagi ilmu dengan orang lain. Minimal ke pemuda di daerahnya. Dia berharap mereka nanti memiliki keberanian berupaya secara mandiri setelah belajar darinya. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia