Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Inilah Mimpi Ibu Azka, Salah Satu Korban Lion Air JT 610 asal Blitar

Kamis, 01 Nov 2018 11:23 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MIMPI PEGANG AYAM: Maskur Al Puguh Riyanto menunjukkan foto Tri Hazka Hafidzi yang semasa hidup.

MIMPI PEGANG AYAM: Maskur Al Puguh Riyanto menunjukkan foto Tri Hazka Hafidzi yang semasa hidup. (Syaiful Anwar/Radar Blitar)

Jatuhnya pesawat Lion Air Jt 610 di Perairan Karawang, Jawa Barat, senin 29/10 menjadi  mimpi terburuk bagi keluarga Maskur Al Puguh Riyanto. Pasalnya salah  satu anggota keluarganya  menjadi korban petaka.

LAPORAN : SYAIFUL ANWAR

Tenda memang tidak terpasang di halaman rumah milik Maskur Al Puguh Riyanto, RT 4/2 Dusun/Desa Darungan, Kecamatan Kademangan. Namun ruang utama di rumah tersebut ada karpet yang cukup luas. Di ruangan itu juga disediakan air mineral.

Suguhan itu diberikan karena pihak keluarga menyadari, akan banyak tamu yang datang pasca tersiar kabar jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, pada Senin 29/10,lalu.

Ketika koran ini menyambangi rumah duka, banyak tamu yang datang dan pergi silih berganti. Mereka yang datang merupakan tetangga dan kerabat dari luar kota untuk menyatakan bela sungkawa atas peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

“Setelah mengetahui bahwa anak saya menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air, banyak warga yang datang ke rumah ,” ungkap Maskur Al Puguh Riyanto ayah kandung Tri Hazka Hafidzi.

Meski berusaha tegar tatkala menemui tamu yang mengucapkan bela sungkawa, tapi Maskur Al Puguh Riyanto dan Siti Handiyah ( ayah dan ibu kandung korban) sesekali mengeluarkan air mata, saat menjelaskan kali pertama mengetahui anaknya menjadi korban pesawat jatuh.

“Yang paling histeris, Istri saya (Siti Handiyah) ketika mengetahui Tri Hazka Hafidzi adalah penumpang pesawat Lion Air JT 610,” ujar pria berusia 65 tahun.

Saat itu, dia sangat heran dan kaget, sebab selama hidup dia baru mengetahui istrinya menjerit sembari menangis. Lantas dirinya menghampiri istrinya yang berada di ruang keluarga untuk mengetahui alasan istrinya menjerit histeris.

Setelah ditanya ternyata istrinya kaget karena diberitahu menantunya (istri Tri Hazka) perihal musibah jatuhnya Lion Air JT 610. “Saat itulah pertama kali saya mendengar bahwa anak ketiga saya, menjadi korban pesawat terbang jatuh,” ucap pensiunan guru SD.

Dibilang sedih dan kehilangan, jelas iya. Terlebih Tri Hazka Hafidzi  merupakan anak yang paling rajin dan tekun belajar dibandingkan dua saudaranya. Menurut Maskur-sapaan- Maskur Al Puguh Riyanto, sejak kecil merupakan anak penurut dan tekun belajar.

Tidak seperti anak sebayanya, dimana masa kecilnya (sejak SD hingga SMA) dihabiskan untuk bermain. Berbeda dengan apa yang dilakukan Tri Hazka Faridzi, yakni selalu belajar dan belajar.

“Tidak usah disuruh belajar, dia sudah belajar sendiri. Bahkan waktu untuk bermain dengan teman, justru dihabiskan untuk belajar,” kata pria ramah ini.

Tak heran jika sejak kecil, Azka-sapaan-Tri Hazka  Hafidzi selalu meraih prestasi alias jago pelajaran akademik alias cerdas. Bahkan ketika memasuki perguruan tinggi, Azka diterima di dua universitas ternama. Yakni di Universitas Malang (UM) dan Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN) di tahun 2006.

Waktu itu Azka sempat mengikuti MOS selama satu minggu di UM Malang. Tapi setelah mendapat kabar dirinya diterima di STAN Jakarta, dia lantas pindah ke Jakarta untuk masuk ke STAN.

“Setelah lulus STAN, anak saya lantas mendapatkan penempatan kerja di Semarang,” beber pria yang pernah menjadi guru kelas Azka, ketika duduk dibangku kelas 6 SDN 1 Darungan.

Setelah itu Azka mengikuti ujian yang digelar oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan lulus ujian. Selanjutnya  menempati posisi penting di dalam struktur Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Namun dari tugasnya itulah yang membuat Azka sering pindah tugas di beberapa daerah.

Menurut Maskur anaknya pernah bertugas di Jakarta, Kalimantan, Aceh, Bali dan terakhir di Bangka Belitung (babel), tepatnya di Pangkal Pinang.

“Saya tidak tahu jabatan anak saya yang jelas sejak lulus ujian itu Azka sering pindah tempat kerjanya. Pindah tugasnya hampir di semua provinsi di Indonesia,” jelas bapak tiga anak ini.

Terkait peristiwa tersebut praktis keluarga merasa kehilangan. Menurut dia Azka menyambangi orang tuanya kali terakhir pada Lebaran tahun ini, yakni Juni lalu. Sebab Azka bersama istri dan dua anaknya hanya ke rumah Darungan, sebanyak sekali dalam setahun.

Dia sendiri mengaku tidak mendapat firasat apapun sebelum terjadinya musibah ion Air JT610 jatuh. “Hanya istri saya yang malam hari sebelum kejadian, mimpi memegang seekor ayam yang dipukuli banyak orang,” beber Maskur.

Pihak keluarga berharap jika anaknya meninggal, jasadnya bisa segera ditemukan. Seandainya sudah ditemukan, dia berharap jasadnya dikebumikan di Desa Darungan.

Sebab semua anggota keluarganya masih utuh, termasuk kakek dan neneknya. “Karena anggota keluarga masih utuh, maka saya minta jasad anak saya dikebumikan di tanah kelahirannya,” pintanya. (*/ziz)

(rt/abd/sai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia