Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Minta Uang Pelicin, Ketua Komisi I DPRD Dibui

Kamis, 01 Nov 2018 13:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

KENA BATUNYA: Sukaji (rompi merah muda) keluar dari ruang penyidikan kejaksaan menuju mobil yang membawanya ke Rutan Kelas II B Trenggalek.

KENA BATUNYA: Sukaji (rompi merah muda) keluar dari ruang penyidikan kejaksaan menuju mobil yang membawanya ke Rutan Kelas II B Trenggalek. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Ketua Komisi I DPRD Sukaji dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Trenggalek Rabu (31/10). Anggota dewan dari Partai Golkar ini ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Trenggalek dalam kasus dugaan penyertaan modal perusahaan daerah aneka usaha (PDAU), tepatnya percetakan PT Bangkit Grafika Sejahtara (BGS) 2007.

Dia diduga menerima uang pelicin dari seorang berinisial GT di lingkungan Pemkab Trenggalek untuk menyetujui penambahan modal PDAU. Disangkakan kepadanya pasal 5 dan 11 dan 12 a Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Berdasarkan pantauan Koran ini di lapangan, berbarengan dengan azan Duhur siang kemarin (31/10), Sukaji keluar dari ruangan pemeriksaan Kantor Kejari Trenggalek. Dia mengenakan rompi warna merah muda dan buru-buru masuk ke mobil dinas (mobdin) kejaksaan nopol AG 1121 YP yang langsung membawanya ke Rutan Kelas II B Trenggalek.

Kajari Trenggalek Lulus Mustofa mengatakan, kasus yang melilit Sukaji bermula dari penambahan anggaran untuk penyertaan modal PDAU tahun 2007 silam. Sebelumnya direncanakan Rp 1 miliar, tapi ada penambahan Rp 9,8 miliar.

“S (Sukaji, Red) kami tetapkan sebagai tersangka karena untuk mengegolkan itu minta uang,” katanya kepada Koran ini.

Kala itu, Sukaji menjabat sebagai ketua pansus (panitia khusus) ranperda penyertaan modal kepada PDAU tahun 2007. Lulus menambahkan, jumlah uang yang diminta Sukaji kepada GT, seorang pejabat di internal pemkab, sekitar Rp 200 juta.

“Alasannya, itu (uang 200 juta, Red) sebagai tunjangan hari raya (THR) kepada anggota dewan,” katanya.

Permintaan tersebut disetujui dan ditransfer melalui rekening milik P (salah seorang pegawai pemerintah) dan dicairkan sekitar Rp 165 juta. Sisanya, Rp 35 juta dalam rekening milik P tersebut lantas dibawa oleh Sukaji.

“Itu rekening koran, alat bukti sudah cukup kami peroleh,” katanya.

Selama 20 hari ke depan akan dilakukan penahanan terhadap Sukaji. Sementara ini dia dititipkan di Rutan Kelas II B Trenggalek.

“Kami sangkakan kepadanya (Sukaji, Red) pasal 5 dan 11 dan 12 a (UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi),” tegas dia.

Lulus juga mengisyaratkan jika tidak hanya Sukaji yang bakal menjadi tersangka dalam kasus di perusahaan milik pemerintah ini.

Sementara itu, Kasipidsus Kejari Trenggalek Yusup Hadiyanto menambahkan, pihaknya masih mendalami kasus penyertaan modal tersebut.

Disinggung lebih detail mengenai aliran dana yang diberikan GT kepada Sukaji, pihaknya masih enggan memberikan penjelasan. Kendati tidak dimungkiri uang tersebut rencananya diberikan kepada para anggota dewan.

“Pengakuan tersangka memang seperti itu,” katanya.

Pihaknya menyakinkan jika dalam penanganan atau pendalaman kasus nanti ditemukan fakta-fakta baru, akan ditindaklanjuti. Di sisi lain, jika mengacu pada UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pemberi maupun penerima gratifikasi diancam dengan hukuman pidana.

“Tidak menutup kemungkinan, selama ada dua alat bukti akan kita tindak lanjuti,” tandasnya.

Begitu juga saat ditanya perlakuan kepada P yang dipinjami rekening untuk pemberian uang pemulus penyertaan modal tersebut. “Semua itu tergantung dari niatnya. Kita akan dalami lagi,” ulangnya. 

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia