Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Pembukaan Police Line Pasar Pon Membawa Berkah bagi Tukang Rongsok

Kamis, 01 Nov 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

JADI DUIT: Cak No sedang menghitung berat barang rongsokan milik pedagang.

JADI DUIT: Cak No sedang menghitung berat barang rongsokan milik pedagang. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Barang-barang bekas terkadang menjadi hal yang tak sedap dipandang. Namun bagi sebagian orang ini merupakan bentuk lain dan bisa menghasilkan uang. Salah satunya tukang rongsokan. Selama tiga hari ini mereka sabar menunggui pedagang yang menjual barang sisa kebakaran.

AGUS MUHAIMIN

Beberapa hari ini, Jalan Dewi Sartika Trenggalek semakin ramai. Tidak hanya oleh pedagang Pasar Pon yang sedang menjajakan dagangan, tapi ada sejumlah orang yang hilir mudik mengumpulkan sisa-sisa barang di Pasar Pon yang terbakar. Mereka adalah tukang rongsok yang membeli barang-barang rusak milik pedagang Pasar Pon. “Pak suwun nggeh (Pak, terima kasih ya),” ucap seorang pedagang setelah menerima uang dari Hariono, seorang tukang rongsok, kemarin (31/10).

Ya, di balik musibah kebakaran Pasar Pon, tukang rongsok ini sedikitnya membawa manfaat bagi pedagang pasar. Barang-barang yang tidak bisa dimanfaatkan lagi masih bisa dijual. Kendati nominalnya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan harga sebelum rusak.

“Kalau masalah harga tidak bisa naik, Om. Meski kita tahu itu milik korban kebakaran,” ucapnya kepada Koran ini.

Kendati begitu, Cak No -sapaannya– mengaku memberikan sejumlah servis untuk sedikit meringankan beban pedagang. Misalnya dengan memberikan tambahan atau tenaga untuk mengambil barang tersebut di dalam pasar. Jadi pedagang tidak perlu repot atau susah payah membawa barang rongsokan yang kotor ini.

“Bantunya dengan tenaga. Jadi kami ambil sendiri dari dalam pasar,” terangnya.

Cak No mengakui, dia mendapatkan keuntungan dari banyaknya limbah atau sisa kebakaran Pasar Pon ini. Setidaknya sudah lima pikap berisi rongsokan dari berbagai bahan dia bawa pulang. Jutaan rupiah dia keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut dari pedagang. 

“Kemarin saja ada pedagang yang terima sekitar 4 juta dari barang sisa itu,” ucapnya. Angka itu juga menunjukkan besarnya kerugian yang mungkin dialami oleh pedagang.

Menurutnya, rongsokan dari kebakaran memang sedikit berbeda dari yang biasa dia dapatkan. Metal yang terbakar cenderung lebih rapuh. Akibatnya, ketika dinaikkan dalam pikap, tak sedikit barang tersebut hancur. Di sisi lain, ada banyak rongsokan kawat sehingga seringkali menyulitkan saat pembongkaran di rumah.

Warga Desa Jatiprahu ini mengatakan, karakter pedagang Pasar Pon majemuk. Rata-rata mereka masih primpen (telaten, Red) mengurusi barang yang rusak ini. Setiap potong barang yang rusak tersebut minta untuk ditimbang agar bisa menjadi duit. Menurutnya, itu merupakan karakter pedagang. Dia pun harus sabar meladeni.

Saat proses penimbangan, seringkali dia meminta pedagang tersebut untuk memfoto catatan barang rongsokan yang dia terima dari pedagang tersebut. Itu karena tidak menutup kemungkinan suatu hari baru diketahui ada kesalahan penghitungan.

Dengan adanya bukti foto itu, Cak No juga bersedia jika beberapa hari ke depan pedagang minta penghitungan ulang jika memang ada kekurangan pembayaran.

“Isone ngewangi yo mung ngene iki (Bisanya membantu yang hanya begini),” ucapnya mengulangi.

Ada beberapa jenis barang rongsok yang dia terima selama membuka lapak tiga hari di ruas Jalan Dewi Sartika ini. Seperti metal dan aluminium. Dua material tersebut yang masih banyak di lokasi terbakar.

Cak No menerapkan standar harga yang sama. Untuk besi dia beli Rp 4 ribu per kilo. Sedangkan untuk aluminium, dia beli Rp 18 ribu per kilo. Dengan catatan, barang tersebut murni atau tidak tercampur dengan material lain.

Untuk barang-barang rongsokan pasar, sangat jarang ditemui lelehan alumunium yang murni. Kebanyakan bercampur dengan material besi atau kawat.

“Kalau sudah campur seperti itu ya dilihat dulu, banyak besinya atau aluminiumnya,” terang dia. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia