Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Pertahankan Kearifan Lokal, Rohmad Ismail Pilih Pembuatan ATBM

Jumat, 02 Nov 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

PERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL: Rohmad ketika mulai menenun dengan ATBM sepulang bekerja.

PERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL: Rohmad ketika mulai menenun dengan ATBM sepulang bekerja. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Di era modernisasi seperti kini, banyak sekali pakaian tradisional yang dibuat menggunakan mesin atau peralatan elektronik lainnya, tak terkecuali dengan kain jenis tenun ikat. Namun, ini tidak berarti bagi Rohmad Ismail yang terus mempertahankan pembuatan tenun ikat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Tak ayal, dengan terus mempertahankan hal itu tenun ikat buatannya mendapatkan segmen pasar tersendiri.

ZAKI JAZAI

Kain tenun jenis ikat mungkin belum begitu familier bagi masyarakat Kota Keripik Tempe. Buktinya, hingga kini banyak masyarakat yang masih menggunakan pakaian batik untuk menghadiri acara tertentu, termasuk acara formal. Namun, itu tak menghalangi niat Rohmad Ismail untuk terus memproduksi tenun ikat dengan ATBM.

Itu terlihat jelas ketika Jawa Pos Radar Trenggalek menemui Rohmad Ismail di wilayah Desa Buluagung, Kecamatan Karangan, kemarin (1/11). Saat itu setelah melaksanakan tugasnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, terlihat dia sedang mengecek peralatan tenunnya. Ya, itu biasa dilakukan mengingat ketika memasuki sore hari, pekerjanya telah pulang. Jadi dirinya harus mengecek apakah ada kerusakan pada ATBM tersebut.

“Memang di sini (Trenggalek, Red), kain ini (tenun ikat, Red) belum begitu familier dibandingkan di daerah lain. Sebab, kain batik masih mendominasi,” tutur Rohmad Ismail kepada Koran ini.

Kendati demikian, keinginannya mempertahankan kearifan lokal terus dia lakukan dengan cara mempertahankan pembuatan menggunakan ATBM. Segmen pasar tenun ikat miliknya pun terus menunjukkan perkembangan positif. Sebab, kain hasil produksinya tersebut banyak diminati konsumen dari luar daerah. Maklum, proses permbuatannya masih menunjukkan kearifan lokal dengan ciri khas budaya ketimuran. Itu menjadi alasan tersendiri untuk tetap diminati konsumen.

“Mungkin untuk di Trenggalek, hanya saya yang memproduksi tenun ikat dengan menggunakan ATBM, “ katanya.

Itu terlihat, setiap bulannya selalu ada pesanan pelanggan dari luar daerah seperti Jakarta, Surabaya, Malang, dan beberapa daerah lainnya. Bahkan, tenun ikat miliknya pernah menjamah hingga ke Negeri Jiran beberapa tahun lalu.

Terkait produksi, tenun ikat miliknya memang ditekuni sejak puluhan tahun silam. Ketika kecil dirinya sering diajari mendiang sang ayah untuk belajar menenun. Dari situ, setelah lulus dari bangku SMA sekitar 1995 lalu, pria yang akrab disapa Rohmad ini sudah mahir menenun. Meskipun hasil tenunannya diakui acap kali belepotan. Itu terlihat dari tangannya yang sering terkena pewarna kain hingga menjadi bahan pembicaraan teman-temannya ketika meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Kendati demikian, dirinya terus menekuni dan belajar untuk menjadi penenun seperti sang ayah.

Kendati setelah lulus perguruan tinggi dirinya malang melintang mencari pekerjaan, hingga bekerja di apotek dekat rumah dirinya tetap menenun untuk membantu orang tua. Itu terus dilakukan hingga sekitar tahun 2004, ketika dirinya diterima menjadi CPNS.

Baru sekitar tahun 2014 sepeninggal sang ayah, selain bekerja sebagai PNS, dirinya memutuskan untuk tetap menenun dan menelateni usaha yang dulunya dirintis sang ayah sejak 1970.

Semenjak itulah dirinya mencoba berinovasi dengan mengotak-atik beragam motif dan pola. Alasannya, karakteristik peminat di setiap daerah berbeda. Salah satunya motif cengkih yang diminati masyarakat wilayah Trenggalek. Dari motif cengkih ini, Rohmad mengolahnya hingga membentuk sebuah pola. Pola tersebut seperti kombinasi cengkih dengan gunung, kemudian manggis dan beragam pola lainnya. Tak ayal, kombinasi tersebut tenun ikat produksinya mulai bangkit, kendati sempat mengalami kemunduran sepeninggal sang ayah.

“Saat itu karena banyak permintaan, saya kerap lembur sepulang kerja karena memenuhi permintaan konsumen,” tutur pria 45 tahun ini.

Karena banyakya permintaan itulah, dia langsung merekrut pekerja untuk membantunya dalam memenuhi permintaan konsumen. Kini dirinya dibantu tiga pekerjanya mampu memproduksi puluhan tenun ikat setiap bulannya.

“Kuncinya agar bisa bertahan, selain kreativitas, yakni keuletan dan ketelatenan tingkat tinggi. Sebab, untuk 1 potong berukuran 2,5 meter kali 92 centimeter membutuhkan waktu hingga satu hari,” jelasnya

Dengan pencapaian tersebut, Rohmad bertekad tetap mempertahankan tenun ikat ATBM di tengah persaingan tenun modern yang kini banyak beredar di pasaran. Selain ingin mempertahankan kearifan lokal, dari segi kualitas dinilainya lebih bagus. Apalagi dirinya ingin meneruskan cita-cita mendiang sang ayah untuk mengembangkan sektor usaha tenun yang kini acap kali dikesampingkan generasi milenial.

“Tenun bagi saya sudah menjadi budaya ketimuran. Makanya ingin tenun ini tetap eksis di berbagai zaman. Selain itu, juga untuk mewarisi apa yang dulunya diajarkan ayah saya,” pungkas pegawai Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek ini. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia