Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Selama Tujuh Hari, Sukaji di Karantina di Mapenaling

Jumat, 02 Nov 2018 14:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

DI SINI: Selama tujuh hari ke depan, Sukaji tidak bisa menerima kunjungan dari siapapun. Di blok ini, dia menjalani masa pengenalan lingkungan Rutan Kelas II B Trenggalek.

DI SINI: Selama tujuh hari ke depan, Sukaji tidak bisa menerima kunjungan dari siapapun. Di blok ini, dia menjalani masa pengenalan lingkungan Rutan Kelas II B Trenggalek. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Ketika Koran ini hendak mengunjungi dan bertemu dengan tersangka Sukaji di Rutan Kelas II B Trenggalek, pihak rutan sepertinya tidak bisa memberikan izin. Sebab, kini status Sukaji adalah tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Trengaglek. Untuk itu, jika ada kepentingan harus mendapatkan izin dari Kejari Trenggalek. Di sisi lain, Sukaji tengah menjalani masa pengenalan lingkungan.

“Selama tujuh hari ini tidak boleh dibesuk,” ujar Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Klas IIB Trenggalek Adi Santosa.

Dia mengungkapkan, selama tujuh hari Sukaji akan menghabiskan hari-harinya di dalam tahanan. Hanya sesekali waktu saja saat ada materi pengenalan lingkungan dia akan dibawa ke ruangan lain. Artinya, dia dikarantina selama seminggu penuh.

“Semua kegiatan dilakukan di dalam tahanan. Mulai bersih diri hingga beribadah,” tegas dia.

Ini berbeda dengan tahanan atau penghuni rutan lain, yang bisa beraktivitas di area rutan ini.  Adi menyebutkan, selama masa pengenalan lingkungan (mapenaling) ada beberapa materi yang diberikan kepada tahanan baru tersebut. Mulai dari peraturan atau tata tertib hingga program atau kegiatan di rutan.

Tak ada perlakuan khusus bagi Sukaji. Artinya, tidak melihat latar belakang maupun kasus yang bersangkutan sehingga bisa mendapat pelayanan yang berbeda di rutan ini. Hanya kebetulan saja, tidak ada tahanan baru lain yang sedang menjalani karantina. Dia kini sendiri di dalam tahanan. 

“Yang dipisah di sini hanya tahanan narkotika saja, lainnya campur,” terangnya.

Menurut dia, itu karena kondisi fisik rutan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengelompokan tahanan atau narapidana. Tercatat kini ada sekitar 200 warga binaan di rutan tersebut. 80 persen di antara mereka warga asli Kota Keripik Tempe, sisanya narapidana layaran atau kiriman dari lembaga pemasyarakatan lain. (hai/ed/tri)

Miliki Kapabilitas Tinggi di Dewan

Selama ini, Sukaji dikenal sebagai salah seorang tokoh yang memiliki kapabilitas di legislatif. Selain mengisi posisi ketua dalam alat kelengkapan dewan, dia juga tengah dipercaya sebagai ketua pansus Ranperda tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Ketenteraman, dan Perlindungan Masyarakat.

“Pak Sukaji memang salah satu yang berkapabilitas tinggi di dewan,” ujar Sekretaris Dewan Abu Mansur.

Menurut Abu Mansur, kini Sukaji tidak bisa melaksanakan kegiatan atau tugas seperti biasanya. Baik itu di lingkungan komisi maupun pansus. Meski begitu, Abu Mansur melihat tidak ada masalah dalam pelaksanaan sejumlah agenda di dewan. Mengingat dewan bersifat kolektif kolegial. Artinya, kekosongan karena ketiadaan ketua bisa diisi oleh wakil atau anggota yang lain.

“Kami yakin masih bisa di-handle. Di pansus itu ada empat orang wakil ketua. Begitu juga di komisi, masih ada wakil dan sekretaris,” katanya.

Disinggung mengenai hak keuangan yang bersangkutan, Abu mengaku kini masih dalam telaah. Itu karena dari beberapa pedoman mengenai hak keuangan dewan, tidak disebutkan secara pasti hak anggota yang menyandang status tersangka.

Dia mencontohkan, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan Anggota dan Pimpinan Dewan, disebutkan mengenai besaran reses atau pun tunjangan komunikasi intensif. Dalam pasal tersebut, tunjangan diberikan untuk meningkatkan kinerja atau melaksanakan kunjungan. Padahal dengan kondisi saat ini, hal itu tidak mungkin dilakukan.

“Kami masih koordinasi dengan inspektorat mengenai hal ini. Jangan sampai kelebihan atau kurang,” katanya. (hai/tri/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia