Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Airsoft Team 511, Komunitas Penyuka Replika Senjata

Usia 17 Tahun ke Bawah Izin Ortu

Jumat, 02 Nov 2018 16:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GANDRUNG HOBI: Para anggota komunitas replika senjata pada salah satu event.

GANDRUNG HOBI: Para anggota komunitas replika senjata pada salah satu event. (AYU FEBRIANA ANUGRAHINI / RADAR BLITAR)

DI Blitar, ada banyak pehobi airsoft atau replika senjata. Mereka berkumpul dan membentuk komunitas bernama Airsfoft Team 511. Komunitas ini rutin mengadakan skirmish atau latihan pertempuran yang berlokasi di rumah-rumah tua. Untuk urusan hobi, peralatan mahal tidak menjadi masalah. Lebih dari itu, pehobi airsoft juga harus memiliki kejujuran dan sportivitas saat berlatih bersama.

LAPORAN : AYU FEBRIANA ANUGRAHINI

Personel pasukan khusus bersenjata laras panjang tampak menelusuri lorong-lorong di wilayah perumahan Yonif 511 Kota Blitar. Pandangan mata awas menghadapi kemungkinan penyergapan tiba-tiba dari lawan. Ini bukan skenario perang, tapi gambaran dari skirmish atau latihan pertempuran komunitas Airsoft Team 511.

Ya, aksi latihan tempur tersebut sekilas memang terlihat mirip dengan perang betulan. Menggunakan kostum lengkap, helm, pelindung tubuh, dan replika senjata api bertenaga gerak pegas, gas, atau elektrik, sekilas nampak seperti perang yang biasa terlihat film-film aksi.

Airsoft memang bukan permainan anak-anak. Namun dimainkan orang-orang dewasa yang gemar mengoleksi replika senjata. Hobi ini bisa digolongkan hobi mahal. Sebab, satu unit senjata mainan, baik laras panjang maupun airsoft gun dapat dihargai belasan hingga puluhan juta. Terlebih jika kualitasnya bagus dan impor. Untuk kualitas menengah dihargai Rp 1,5 juta Rp 3,5 juta. “Ada banyak jenis airsoft. Belum lagi peralatan lain seperti helm yang mencapai 1,5 juta per set. Belum lagi kostum lengkap mencapai 2,5 juta,” kata Wahyu Wibisono, seorang pehobi airsoft.

Komunitas yang sudah lebih empat tahun terbentuk ini sering bertempur di medan tempur sungguhan. Bahkan sampai ke hutan-hutan sekunder dan rumah-rumah tua yang tidak dipakai. Dengan anggota aktif sebanyak 40 orang, didominasi laki-laki. “Untuk anggota yang di bawah 17 tahun harus ada izin dari orang tua. Kami juga dalam naungan pembina dari Yonif 511,” jelas Wahyu.

Tempat favorit skirmish antara lain tempat kosong di pegunungan atau di bangunan-bangunan kosong. Sebagian dari tempat-tempat ini kerap digunakan militer sungguhan untuk berlatih tempur. “Keunikan skirmish full mengenakan kostum dan senjata lengkap persis seperti kostum militer. Jadi terasa seru seperti perang beneran,” jelas pria 32 tahun ini.

Wahyu mengatakan, medan seperti bangunan kosong atau tempat tempat angker ini sengaja dipilih karena dapat meningkatkan adrenalin pemain airsoft. Menjadi tantangan tersendiri untuk menakhlukkan lawan.

Memang, airsoft bukan sekadar hobi. Di dalamnya juga ada manfaat olahraga, melatih kewaspadaan, dan juga kerja sama tim. Untuk itu, dituntut kebugaran fisik dan kewaspadaan kuat. Dalam satu permainan, setidaknya bisa berlangsung 6 jam. Tidak jarang, berlangsung dalam kondisi cuaca yang ekstrem, dingin dan berkabut atau bahkan malam hari. “Kondisi tubuh memang harus prima saat bermain,” lanjutnya.

Wahyu mengungkapkan, permainan airsoft pada dasarnya mirip outbound. Ada unsur leadership dan team work. Bedanya, di airsoft lebih bebas berinisiatif. Faktor yang tidak kalah penting adalah kejujuran dan sportivitas. Sebab, dalam permainan ini, tidak ada bukti seseorang itu telah tertembak atau tidak, kecuali bekas memar di bagian tubuh terbuka. Satu-satunya penanda adalah kejujuran dan sikap ksatria pemain itu sendiri. “Ya, akhirnya semua dikembalikan ke pemain sendiri,” jelas pria bertubuh atletis ini.

Pemain airsoft berasal dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari dosen, pengusaha, polisi, dan sebagian anak-anak indigo pun ada yang ikut dalam anggota. Hingga mahasiswa juga turut dalam komunitas ini. “Siapa pun yang menjadi leader, yang lain harus menghargai,” imbuh Wahyu.

(rt/rid/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia