Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Jadi Media Belajar Sejarah, Alfa Fachrulrozi Tekuni Sebagai Reenactor

Sabtu, 03 Nov 2018 11:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENYENANGKAN: Alfa (empat dari kiri) saat mengikuti sebuah drama kolosal beberapa waktu lalu.

MENYENANGKAN: Alfa (empat dari kiri) saat mengikuti sebuah drama kolosal beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI FOR RATU)

Kegemaran yang berhubungan dengan kesejarahan memang banyak. Salah satunya historical reenactment dan penggemarnya disebut reenactor. Salah satunya Alfa Fachrulrozi, pemuda asal Desa Beji, Kecamatan Boyolangu.

DHARAKA R. PERDANA

Reenactor adalah sebutan bagi para penghobi reka ulang sejarah. Kegiatan yang mereka lakukan adalah historical reenactment, sebuah proses belajar dengan cara mengulang sejarah yang tertulis secara otentik dalam catatan sejarah.

Mereka identik dengan pakaian yang selayaknya pejuang atau tentara pada zaman dulu. Bahkan, dari situ mereka bisa belajar sekaligus membayangkan kondisi yang mungkin benar-benar terjadi saat terjadi pertempuran. “Bagi saya, menjadi seorang reenactor memiliki banyak manfaat.

Salah satunya bisa mengikuti drama kolosal perjuangan hingga luar daerah,” kata Alfa Fachrulrozi, salah seorang reenactor asal Desa Beji, Kecamatan Boyolangu kemarin.

Menurut dia, kegemaran yang kini digandrunginya itu bukan datang dengan tiba-tiba. Sejak kecil dia memang sudah menyukai hal berbau sejarah. Namun masih sebatas membaca buku dan melihat di film. Hingga akhirnya pada 2014 silam dia benar-benar ambyur di hobi ini. Semua diawali dengan mengoleksi pernik-pernik yang didapat dari mana saja. “Saya pun mulai mengumpulkan pernik-perniknya. Entah dari loakan, pemberian teman, maupun warisan keluarga,” tambahnya.

Meski begitu, ada kalanya Alfa -sapaan akrabnya- mengakui ada beberapa pernik militer yang sulit didapatkan di sekitar Tulungagung atau bahkan Indonesia. Terpaksa dia harus mencari lewat online karena benda yang diinginkannya itu hanya ada di luar negeri.

“Kalau sudah tidak menemukan pernik target, internet menjadi solusinya. Otomatis juga harus keluar biaya,” ujarnya.

Sudah tidak terhitung berapa kali dia mengikuti drama kolosal. Kesempatan inilah yang sangat ditunggu-tunggunya. Karena bisa bergabung dengan para reenactor dari lokasi sekitar penyelenggaraan. Alhasil, kenalannya pun semakin banyak.

Saking senangnya pada hobi itu, pesta pernikahannya sekitar seminggu yang lalu pun dikonsep dengan materi perjuangan. Dia mengambil tema Batalyon Mliwis karena sepengetahuannya, di Kota Marmer memang ada sejarahnya dan ditandai dengan keberadaan monumennya.

“Saya pun ingin cara belajar sejarah ada sedikit perubahan. Sebab dengan reenactor bisa lebih gamblang karena ada praktiknya langsung,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Febri Afnan, rekan Alfa, mengamini pendapat itu. Dia mengakui ide Alfa untuk membuat acara sakral pesta pernikahannya menjadi ajang pertemuan para reenactor layak diapresiasi. Sebab semua yang datang ke situ mengenakan atribut militer pada zaman dulu.

“Idenya cukup luar biasa karena sekalian menjadi ajang kopi darat kami,” kata reenactor asal Trenggalek ini. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia