Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features
Fatrin Balkis Haryanti, Pelestari Seni Tari

Pernah Ikut Sanggar, Berhenti karena Tak Punya Biaya

Minggu, 04 Nov 2018 17:25 | editor : Didin Cahya FS

LUWES: Fitrin Balkis Haryanti memperagakan salah satu gerakan tari Gambyong.

LUWES: Fitrin Balkis Haryanti memperagakan salah satu gerakan tari Gambyong. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

 Dunia seni melekat erat pada Fitrin Balkis Haryanti. Terutama kesenian tari. Selain melestarikan budaya lokal kepada generasi muda, mengajarkan karakter melalui tari menjadi tujuannya.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Tak sulit menemukan rumah Fitrin Balkis Haryanti yang terletak di Perumahan Sobontoro Permai blok L no 22 Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. Di rumahnya ini, Fitrin -sapaan akrabnya- mendirikan sanggar tari Siswobudoyo. Sanggar yang berdiri sejak 10 tahun silam menjadi langkah kecilnya untuk terus melestarikan budaya lokal. Terutama kesenian tari.

Kepada Koran ini, Fitrin pun menceritakan pengalamannya. Lahir dari keluarga berdarah seni membuatnya terbiasa hidup dengan dunia seni. Kedua orang tua Fitrin aktif dalam ketoprak siswobudoyo. Itulah yang membuatnya tertarik belajar seni. Dia pun memutuskan bergabung dengan sebuah sanggar tari. Di sanggar, kemampuannya kian terasah. Namun sayang, kendala biaya membuatnya harus berhenti. “Jadi waktu kecil dulu memang ikut sanggar, tapi berhenti karena nggak mampu bayar,”jelasnya mengawali cerita.

Dia akhirnya belajar bersama otodidak bersama sang adik. Hingga menginjak usia SMP, Fitrin mendapat tawaran mengisi acara manten untuk kali pertama. ”Saat SMP dapat tawaran manggung itu senangnya minta ampun. Saya bisa menyalurkan hobi dan bakat saya lagi,”ujarnya seraya tertawa.

Menurut dia, bukan seberapa besar hasil yang diperoleh dari menari. Namun dapat kembali menari menjadi motivasinya untuk terus berlatih. Setelah menikah, wanita 44 tahun ini memutuskan berhenti dari panggung tari. Namun kecintaannya pada tari tak pernah berkurang. Dia kerap diminta mengajar tari anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Kala itu dia tak memasang tarif. Pasalnya, dapat berbagi ilmu tari saja sudah membuatnya senang. Terlebih pada generasi muda. Dengan demikian menjadi salah satu langkah kecil untuk terus melestarikan budaya lokal. “Setelah menikah itu tetangga sekitar banyak yang minta tolong ke saya melatih anak-anaknya untuk perpisahan sekolah. Kadang juga untuk lomba 17-an. Saya tidak pasang tarif, yang penting anak-anak bisa tampil,” terangnya. Dengan demikian, anak-anak menjadi nyaman dan mau untuk belajar. “Yang terpenting membuat anak-anak itu nyaman dulu dengan kita. Kalau sudah begitu, mau diajari nari itu mudah,” tandasnya.

Baginya, ada perbedaan ketika melatih usia anak-anak dengan dewasa. Usia dewasa lebih sulit. Pasalnya, usia dewasa yang baru kali pertama menari dianggap kurang bisa luwes. Jauh lebih mudah jika melatih usia anak-anak. Sebab anak-anak cenderung mudah meniru. “Kalau anak-anak itu bisa dengan mudah becermin pada kita. Tapi kalau usia dewasa, pasti kurang luwes. Tapi semua itu tidak menjadi masalah karena bagian dari proses dan belajar,” selorohnya tertawa.

Untuk itu, dia membagi materi tarian ke dalam beberapa tingkatan berdasar tingkat kesulitan tari. Tari gembira diajarkan pada usia 3 hingga 8 tahun. Setiap gerakan dari tari ini merupakan dasar dari gerakan tari-tari lain. Untuk tingkat pengembangan, tari-tari yang mengenakan properti mulai diajarkan pada usia kelas III hingga VI SD. Seperti tari lilin. Untuk tingkat lanjut seperti usia SMP, SMA, dan dewasa, tarian seperti sang gita menjadi materi yang diajarkan.

Wanita berprofesi guru TK ini mengaku selama sepuluh tahun mendirikan sanggar, tidak pernah menyangka dapat melahirkan sejumlah penari-penari berprestasi. Yang teranyar, dua anak didiknya berhasil terpilih menjadi perwakilan Kabupaten Tulungagung dalam rangka Pekan Seni Pelajar tahun 2017. Selain itu, banyak anak didiknya meraih juara sekaresidenan dalam berbagai kompetisi tari. Dia tidak menyangka jika sanggar tari yang didirikannya hanya dengan modal nekat dan motivasi dari teman-teman seperti sekarang.

“Kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi saya adalah saat anak-anak didik saya berhasil dalam suatu kompetisi. Baik hanya tingkat kecamatan maupun sampai karesidenan,” tuturnya.

 Dia mengaku sedari awal tidak berniat mendirikan sanggar. Namun motivasi dari teman-temannya membuatnya berani mencoba. “Waktu itu saya hanya berani membebani setiap anak 10 ribu per bulan untuk biaya latihan. Karena saya sendiri juga tidak tahu harus memberi tarif berapa. Yang terpenting dapat berbagi ilmu,”imbuhnya.

Kedepan, wanita berhijab ini bercita-cita ingin memiliki reog kendang dan seni hadrah. Pasalnya, dua kegiatan tersebut yang sering diminta anak-anak sekolah. Selain itu, juga sebagai wujud pelestarian kesenian lokal. “Semoga saja bisa melengkapi untuk reog kendang. Karena itu kan salah satu budaya lokal yang harus dikenalanak generasi sekarang,” katanya.

(rt/jpr/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia