Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Blitar

Perkebunan Kruwuk Dibakar Warga, Aparat Penegak Hukum Belum Bertindak

Senin, 05 Nov 2018 16:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

HANGUS: Salah seorang mandor Perkebunan PT Rotorejo Kruwuk menunjukkan sisa belukar yang terbakar, kemarin.

HANGUS: Salah seorang mandor Perkebunan PT Rotorejo Kruwuk menunjukkan sisa belukar yang terbakar, kemarin. (SYAIFUL ANWAR/RADAR BLITAR)

BLITAR KABUPATEN – Ratusan pohon jenis sengon dan jabon milik perkebunan PT Rotorejo Kruwuk, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, mati terbakar. Itu setelah puluhan warga membakar puluhan hektare lahan perkebunan di beberapa titik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran ini, peristiwa pembakaran sudah terjadi sejak seminggu lalu. Akibatnya, ribuan pohon jenis sengon dan jabon rusak parah dan rusak ringan.

Ada sekitar 400 pohon jenis sengon dan jabon yang mati terbakar. Sejatinya, pihak perkebunan telah melaporkan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun, belum ada tindak lanjut.

“Beberapa waktu lalu kami sudah melaporkan pembakaran lahan perkebunan ke pihak kepolisian. Namun belum ada tindakan apa-apa dari pihak berwajib,” jelas Khairan, salah seorang mandor perkebunan PT Rotorejo Kruwuk.

Menurut dia, rusaknya ribuan pohon akibat pembakaran itu berdampak pada kerugian yang dialami oleh pihak perkebunan mencapai ratusan juta rupiah. Ada sekitar 400 pohon yang tidak bisa dimanfaatkan karena hangus terbakar.

“Kerugian lebih dari Rp 100 juta karena pohon sengon dan jabon yang terbakar, rata-rata berusia empat tahun ke atas dan siap tebang,” ungkap pria bertubuh tegap ini.

Dia berharap agar aparat keamanan bertindak tegas. Sebab, aksi pembakaran lahan perkebunan masuk tindakan kriminal. Jika hal ini dibiarkan, warga dikhawatirkan akan nekat.

Sebab, aksi pembakaran lahan tersebut sudah terjadi sejak seminggu dengan lokasi pembakaran berbeda-beda. Selain merugikan pihak perkebunan, aksi pembakaran lahan juga dikhawatirkan berpotensi terjadinya musibah kebakaran yang lebih besar dan meluas.

“Kini musim kemarau belum usai. Jadi potensi untuk terjadinya kebakaran hutan cukup besar, khawatirnya akan merembet ke permukiman warga,” jelas pria ramah ini.

Menurut dia, ada beberapa motif yang membuat puluhan warga membakar lahan perkebunan. Dia menduga, ada beberapa pihak yang menyebarkan isu adanya redis dari pemegang hak guna usaha (HGU) seluas 150 hektare.

Nah, mendengar adanya isu yang tidak bertanggung jawab itu, lantas puluhan warga bersedia untuk diajak membakar dan melakukan perusakan. Untuk itu, dia berharap agar pihak yang berwajib segera menangkap provokator di balik pembakaran lahan perkebunan itu.

“Warga hanya dimanfaatkan. Informasinya setelah dibakar, warga akan menerima lahan redis dan bisa ditanami palawija seperti singkong,” ujar Khairan.

Sementara itu, Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha mengaku belum menerima laporan. “Kami belum ada laporan. Memang kalau ada kejadian ya kami tindak tegas. Tentunya, anggota kami perintahkan untuk melakukan penyelidikan ke lokasi,” ujarnya. (ful/ed/ynu)

(rt/sai/yan/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia