Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Ini dia, Siswoyo Yang Getol Lestarikan Kesenian Reog Kendang

Senin, 05 Nov 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

SATU JIWA: Siswoyo selalu memperhatikan kualitas suara yang dihasilkan dari kendang buatannya. Dengan begitu, irama musik lebih mantap saat menari jaranan reog kendang.

SATU JIWA: Siswoyo selalu memperhatikan kualitas suara yang dihasilkan dari kendang buatannya. Dengan begitu, irama musik lebih mantap saat menari jaranan reog kendang. (WHENDY GIGIH PERKASA/RATU)

Reog kendang merupakan kesenian asli Tulungagung. Itu sudah dipatenkan dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Kota Marmer. Bertahannya reog kendang ini juga tidak lepas dari para pelestari dan sesepuh yang getol memperjuangkan. Salah satunya Siswoyo.

WHENDY GIGIH PERKASA

Sebuah rumah di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, tepatnya di sebuah gang kecil sebelum masjid besar, menjadi tempat tinggal Siswoyo bersama keluarganya. Halaman rumah itu cukup luas dan kini sudah dipaving sehingga lebih rapi dan bersih. Di sanalah tempat yang biasa dipakai para pelajar atau pun orang dewasa untuk berlatih jaranan reog kendang.

Saat Koran ini datang Jumat (2/11) sore lalu, kebetulan belum ada jadwal latihan. Namun, bukan berarti Siswoyo dan keluarganya duduk manis. Banyak pekerjaan lain yang juga berhubungan dengan reog kendang harus diselesaikan. Salah satunya kendang khusus reog kedang.

Tidak heran, di teras rumah terdapat puluhan kendang dengan ukuran beragam. Kecil, sedang, besar, semua ada.

“Disesuikan dengan penarinya. Tidak mungkin penari anak-anak bawa kendang besar,” ungkap Siswoyo.

Dalam membuatnya, bahan yang dipakai yakni kayu nangka dan lulang atau kulit dari sapi. Tahapan yang cukup sulit yakni membuat rongga di dalam kendang. Untuk proses ini sudah menggunakan mesin. Namun proses lainnya seperti membentuk bagian luar, masih manual memakai tatah.

Reog kendang memiliki aturan baku terkait jumlah personel, yakni ada enam orang. Jumlah itu sesuai dengan tipe kendang yang dimainkan. Misalnya kendang I, kendang II, keplek, dan lain sebagainya. Namun ketika lebih dari enam penari, misalnya 12, 18, atau pun lebih, bakal lebih rancak.

Keahlian Siswoyo dalam kesenian reog kendang ternyata tidak lepas dari faktor keturunan. Sebagian keluarganya termasuk ayah, ibu, paman, dan lainnya, merupakan pekerja seni. Khususnya jaranan reog kendang. Karena itulah, Siswoyo mampu menguasai dengan baik seluk beluk reog kendang yang sudah ada sejak zaman penjajahan.

“Tahun 1960-an pernah berhenti sejenak karena dilarang. Ketika itu masih penjajahan. Tapi kemudian bangkit lagi. Sekarang sudah lebih maju,” ujar pemilik sanggar Reog Kendang Dhodog Sadjiwa Jati itu.

Reog kendang tak lagi tampil dalam acara tertentu. Misalnya pitonan atau turun tanah tujuh bulanan bayi, pernikahan, serta sunatan. Kini reog kendang sudah kerap tampil dalam berbagai event. Misalnya menyambut tamu dari luar daerah atau pun luar negeri, acara siraman, hari jadi, berbagai perlombaan bergengsi, dan lain sebagainya.

“Sekarang ini yang justru dicari yang model lama. Derakannya mantap, suara gamelannya juga mantap,” ujar Siswoyo.

Setiap gerakan dari tari reog kendang juga bermakna. Ada 12 gerakan pakem (tetap) yang harus dilakukan ketika menari reog kendang. Beberapa di antaranya gerak menthokan atau enthok (hewan sejenis angsa). Dalam gerakan ini posisi penari menunduk-nunduk.

Ada juga gerakan sundangan yang diibaratkan dari sungu atau tanduk lembu sura. Gerak ngongak sumur (melihat sumur) dan blang-blung (suara benda jatuh di sumur).

Kemudian gerak pidak kecik, gejug bumi (menghentak bumi memakai kaki), dan masih ada gerakan lainnya.

Meski kini banyak yang dimodifikasi, semua gerakan pakem dalam tari reog kendang wajib dilakukan. Sebab, itu akan menambah kemantapan dalam menari.

Gerakan juga terlihat lebih bagus dan sesuai dengan sejarah tari tersebut. Gerakan pakem itulah yang selalu ditekankan Siswoyo dalam melatih.

Pria berusia 65 tahun itu tidak sendiri dalam melatih. Dia ditemani Yuyun Andayani yang tak lain anak kandungnya. Tidak hanya melatih, semua perlengkapan jaranan reog kendang mampu dibuat Siswoyo. Misalnya udeng, iket, gongseng, kostum, celana, dan berbagai aksesori lainnya.

Sudah banyak sekolah atau pun lembaga pemerintahan yang menjadi binaan Siswoyo dalam hal grup reog kendangnya. Bahkan, dia juga kerap diminta melatih hingga luar kota. Misalnya Trenggalek, Surabaya, Malang, Jakarta, dan lain sebagainya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia