Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Awas Kecanduan Bermain Game Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Selasa, 06 Nov 2018 12:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GAME DISORDER: Seorang remaja asyik bermain game di smartphone. Tidak mampu mengendalikan keinginan bermain game perlu diwaspadai.

GAME DISORDER: Seorang remaja asyik bermain game di smartphone. Tidak mampu mengendalikan keinginan bermain game perlu diwaspadai. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Bermain game untuk mengisi waktu luang atau sebagai media hiburan memang tidak salah. Namun perlu diwaspadai jika mulai telanjur kecanduan. Bahkan, World Health Organization (WHO) telah menggolongkan kecanduan game (game disorder) sebagai gangguan kesehatan mental.

Konsultan psikologi Ifada Nur Rohmaniah menjelaskan, kecanduan bermain game bisa berdampak seperti kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang. Kecanduan bermain game ditandai dengan ketidakmampuan diri mengendalikan keinginan bermain game. Akibatnya, individu tidak mampu menghentikan perilaku tersebut.

“Bermain game itu wajar. Namun yang perlu diwaspadai saat kita mulai tidak bisa lepas dan tidak mampu mengendalikan diri,” ujarnya Senin (5/11).

Lanjut dia, setidaknya ada beberapa karakteristik seseorang mulai kecanduan game. Yakni memprioritaskan game di atas kepentingan lainnya, tidak berhenti bermain meski menyadari dampak negatifnya, dan durasi bermain semakin hari semakin meningkat.

Dia menyatakan, tidak semua game bersifat adiktif. Untuk itu, seseorang dapat dikategorikan game disorder jika kegiatannya bermain game benar-benar dapat mengganggu hubungan interpersonal, dan kegiatan lain seperti pekerjaan dan sekolah.

Ini berlaku bagi individu yang terus-menerus bermain game baik di depan komputer maupun smartphone selama berjam-jam. Kegiatan ini berlangsung setidaknya selama 12 bulan dan menimbulkan efek samping seperti mengganggu konsentrasi.

Lebih lanjut, wanita ramah ini menjelaskan, ketika ada benda atau hal-hal yang membuat bahagia, otak akan menghasilkan hormon dopamin atau hormon pembuat bahagia. Dalam keadaan normal, hormon ini tidak akan menyebabkan kecanduan. Namun ketika mengalami kecanduan, objek yang membuat senang akan merangsang otak untuk menghasilkan hormon dopamin secara berlebihan.

Jumlah dopamin yang melampaui jumlah akan mengacaukan bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati sehingga membuat individu merasa bahagia tidak wajar.

Efek itu yang dapat membuat tubuh secara otomatis merasa ketagihan.

“Pada akhirnya ini akan terus berulang-ulang dan membuat kita tidak dapat mengontrol diri untuk berhenti bermain,” tandasnya.

Dia menambahkan, terus-menerus bermain game juga dapat mengganggu konsentrasi dalam beraktivitas. Selain itu, radiasi pada monitor juga dapat mengganggu kesehatan mata.

Selain berdampak pada kesehatan, juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Untuk itu, perlu dilakukan kegiatan penyeimbang. Seperti berinteraksi dengan teman-teman di sekitar.

“Bisa jadi terlalu asyik bermain game akan membuat menjadi tak acuh dan tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski tidak semua game mengakibatkan kecanduan, tetap diperlukan fungsi kontrol. Seperti membatasi frekuensi dalam bermain game dan memperbanyak dengan kegiatan lain.

“Kita dapat memulai dengan membuat kesepakatan dengan diri-sendiri. Mulai atur waktu kapan bermain game kapan berhenti,” jelasnya.

Dia memberikan trik jika anak mulai mengalami kecanduan game, orang tua dapat membuat kesepakatan dengan anak sebagai bentuk kontrol.

“Semisal membuat kesepakatan boleh bermain game asalkan selesai belajar. Ini secara tidak langsung membuat batasan dan kontrol diri,” pungkasnya. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia