Selasa, 13 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Anak Lumpuh Setelah Suntik MR, Orang Tua Ini Jalan Kaki Cari Keadilan

Rabu, 07 Nov 2018 11:20 | editor : Anggi Septian Andika Putra

CARI KEADILAN: Suyanto, dengan membawa poster melakukan aksi jalan kaki menuju Kediri, kemarin (6/11).

CARI KEADILAN: Suyanto, dengan membawa poster melakukan aksi jalan kaki menuju Kediri, kemarin (6/11).

TULUNGAGUNG - Begitu jelas terlihat keringat Suyanto, warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, yang bercucuran saat melintas di Jalan Panglima Sudirman sampai Jalan Pahlawan, Senin (6/11).

Bukan tanpa alasan, pria itu nekat melakukan aksi jalan kaki dari Tulungagung menuju Kediri. Untuk memprotes dugaan malpraktik yang dialami putranya, Wildan, berusia 12 tahun.

Saat jalan kaki,pria58tahun tersebut rela membawa poster diletakkandi tubuhbagiandepan. Poster di depan bagian tubuh tertulis “Anakkukorban rubella”, sedangkan posterdibelakangbertuliskan “menuntutkeadilanuntuk anakku Wildan”.

Selain itu, tampak beberapa foto Wildan sewaktu sehat hingga mendapat perawatan di rumah sakit.

Wildan merupakan salah satu siswaMTs Lirboyo,Kediri. Nasib Wildan kini mengalamikelumpuhan setelahdapatimunisasi measles and rubella (MR)Rabu(24/10)lalu.Kini kondisinyatidak banyakberubah dandirawatdiRumahSakit SaifulAnwar(RSSA) Malang.

“Aksi ini sebagai bentuk menuntut keadilan kepada anak saya yang sekarang lumpuh setelah diimunisasi oleh petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kediri di sekolahnya,” jelasnya.

Denganmataberkaca-kaca, dia menceritakankondisi putranya yang kini dirawat diRSSA Malang. Bahkan, putranyaitu sempatdikabarkan meninggalduniadalamprosesperawatan.

“Kini kondisi anak saya dirawat di RSSA Malang dan belum banyak mengalami perubahan,” ujarnya.

Menurut dia, kejadian berawal dari imunisasi MR yang digelar Dinkes Kediri di Pondok Pesantren Lirboyo khususnya di MTs Lirboyo. “Sebelum suntik MR dilakukan, Wildan memang sakit gejala tipus dan sempat izin ke pondok maupun sekolahnya untuk pulang Jumat (19/10). Namun Senin (22/10), Wildan kembali masuk dan ikut kegiatan belajar mengajar. Waktu itu kondisinya belum pulih betul saat petugas melakukan imunisasi MR pada Rabu (24/10),” jelasnya.

Setelah pemberian vaksin MR selesai, beberapa hari kemudian Wildan mengeluh kakinya lemas dan susah bergerak.

Bahkan semakin hari kondisinya tambah memburuk dan Wildan hingga kini tidak bisa berjalan. “Pagi disuntik, sore sudah lemas,” ungkapnya.

Dia berharap, kaki anaknya dapat dipulihkan kembali. Sebab, upaya pengobatan medis sudah di berbagai tempat. Mulai dari RS Kediri, RSUD dr Iskak Tulungagung, hingga sekarang dirawat di RSSA Malang yang memiliki kelengkapan sarana dan dokter mumpuni.

“Saya minta pertanggungjawaban dari dinas terkait. Karena waktu disuntik tidak ada konfirmasi atau persetujuan dari wali murid,” ungkapnya.

Menurut dia, dari keterangan dokter yang menangani penyakit Wildan, anaknya mengalami guillain-barre syndrome (GBS), yaitu gangguan kekebalan tubuh yang menyerang sistem syaraf.

“Beban pikiran yang kini saya rasakan adalah biaya pengobatan selama rawat inap di rumah sakit. Untuk pengobatan butuh plasmapheresis sebanyak lima kali dengan total biaya sekitar 120 juta,” ungkapnya. (yon/ed/din)

(rt/jpk/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia