Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Bahan Cari di Bengkel, Gamelan Hadi Purwoko Tembus Pasar AS

Rabu, 07 Nov 2018 11:50 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERUS BERKARYA: Hadi Purwoko alias Ipong (kaus putih) saat membuat demung, Senin (5/11) lalu.

TERUS BERKARYA: Hadi Purwoko alias Ipong (kaus putih) saat membuat demung, Senin (5/11) lalu. (AGUS DWIYONO/RATU)

Meski belajar otodidak, Hadi Purwoko bisa membuktikan bahwa dirinya mampu membuat perlengkapan gemelan. Bahkan, karya pria 29 tersebut tembus hingga Amerika Serikat (AS) dan Suriname.

AGUS DWIYONO

Hadi Purwoko tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang memiliki emperan lebar di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.

Di samping rumah Hadi Purwoko, terdapat ruangan khusus dengan ukuran sekitar 4x5 meter. Di sanalah tempat yang biasa dipakai Ipong, sapaan akrab Hadi Purwoko, beserta tiga orang lainnya membuat kerajinan gamelan.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung datang Senin (5/11) lalu, tampak beberapa orang sibuk beraktivitas. Beberapa perlengkapan gamelan semisal demung dan saron berserakan. Beda dengan perlengkapan gemelan lain, termasuk gong dan kenong yang tersusun rapi.

Diemperanrumah itu, tampakpuluhan lempengan besi dengan ukuranberagam. Nanti lempengan besi tersebut akan jadikandemung.

“Ukuran potongan lempengan besi akan menentukan jenis nada atau suara,” ungkap Ipong.

Dari sekian perlengkapan gamelan yang dimiliki Ipong, mayoritas jenis demung dan saron. Hampir setiap hari dia membuat dua benda itu, dibantu beberapa tetangganya.

Dia mengaku,dalammembuatdemungdansaron,bahanyangdipakai yaitu pertruk bekasyangdidapatdariberbagai bengkeldiTulungagung maupun luarkota. Namun, tidaksemua perbekas bisa digunakanmembuatkerajinan itu.

“Cari bahannya jauh-jauh, tidak hanya di Tulungagung. Saat mencari per, perlu memperhatikan ketebalannya. Sebab tidak semua bisa digunakan untuk demung,” ungkapnya.

Proses membuat demung maupun saron dimulaidengan menentukan ukuran potonganper truk. Kemudiandiperhalus dengan menggunakangerinda dandibor di setiap potonganperpada sisi ujung.

“Proses terlama yakni pemotongan. Sebab alat yang kami gunakan masih manual,” jelasnya.

Di setiap potongan yang sudah dibentuk, akan ditaruh di atas pangkon yang sudah disiapkan. Setiap pangkon ada tujuh hingga sembilan potongan besi sesuai dengan keinginan pemesan.

“Setelah ditaruh di pangkon, nanti dicek lagi suaranya agar sesuai keinginan pemesan,” ungkapnya.

Dia menyatakan, keahlian membuat perlengkapan gamelan didapat secara otodidak. Itu berawal saat dirinya beserta teman-temannya ingin miliki alat gamelan. Namun dana minim untuk membeli alat-alat tersebut. Bermodal nekat, akhirnya coba membuat perlengkapan gamelan sendiri.

“Setelah peralatan gemelan jadi, banyak teman yang suka. Mulai itulah menekuni pembuatan kerajinan,” jelasnya.

Dia pernah merasakan peristiwa pahit saat membuat peralatan gamelan, seperti jari-jari terkena gerinda.

Dia menjelaskan, hasil jerih payah selama ini sudah membuahkan hasil. Termasuk memberi nama usahanya Karyo Laras Bumine Senterewe. Melayani pembuatan perlengkapan gamelan untuk kesenian jaranan, karawitan, wayangan, dan lain-lain.

Usahakerajinan yang kini dia tekuni sudah berdirisekitar tiga tahun lalu.

“Pernah mengirim gemelan hingga ke Amerika Selatan dan Suriname. Kalau pelanggan di Indonesia hampir semua kota pernah memesan,” jelasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia