Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Muktiharsaya, Kolektor Tosan Aji dan Benda Antik

Rabu, 07 Nov 2018 15:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

NYENI: Mukti sedang menimang sebilah tombak di rumahnya, Senin (5/11).

NYENI: Mukti sedang menimang sebilah tombak di rumahnya, Senin (5/11). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Semakin nyleneh dan lawas sebuah benda, makin dimanti. Apalagi jika benda itu punya nilai sejarah. Pencinta barang-barang antik kadang harus rela blusukan ke desa-desa untuk menemukannya. Begitu pula dengan Muktiharsaya, warga Desa Nglongsor, Kecamatan Tugu ini.

AGUS MUHAIMIN

Beberapa hari ini suhu di Kota Keripik Tempe cukup gerah, tanda musim hujan semakin dekat. Namun, rasa tidak nyaman itu hilang seketika saat Koran ini masuk ke rumah milik Muktiharyasa, warga Desa Nglongsor.

Di teras rumah yang cukup besar itu, terdapat dipan atau tempat tidur kuno dengan alas karpet merah dari Madura. Konon pada zaman dulu, pemuda Madura yang hendak menikah wajib memiliki dipan tersebut. Di sudut lain terdapat kentongan sederhana dengan tinggi sekitar satu meter yang juga tak kalah klasik.

Di bagian dalam, nyaris semua benda-benda kuno yang menjadi furnitur rumah tersebut. Mulai dari meja, lesung, grobog, hingga sketsel lawas menjadi pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga.

“Ini lesung sedikit dimodifikasi jadi kursi,” ungkap Muktiharyasa sambil mempersilakan Koran ini duduk.

Suami Nuridha Ruli Andani ini menyenangi benda-benda antik sejak duduk di bangku sekolah menengah. Kala itu, dia mendapat warisan dua benda pusaka dari sang kakek. Seiring berjalannya waktu, Mukti -sapaannya- semakin demen (suka) dengan tosan aji (istilah benda pusaka, Red). Kini dia memiliki ratusan tosan aji yang disimpan di rumah tersbeut.

“Lama-lama aku juga tertarik dengan benda-benda antik,” akunya.

Dia melihat pada bilah tosan aji tersebut terkandung sejarah atau kebudayaan leluhur. Rata-rata produk setiap masa memiliki karakter dan ciri berbeda. Salah satunya dilihat dari pamor dalam bilah keris. Hal ini sudah sangat dipahami pecinta tosan aji. Namun tidak demikian dengan generasi muda kini. Untuk itu, dia pun bersyukur minimal setahun sekali telah ada pameran tosan aji di Trenggalek.

Menurut dia, pameran menjadi salah satu sarana memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda. Mengingat kini cukup jarang ditemui generasi muda yang demen dengan tosan aji.

“Kalo daerah kulonan, semisal Solo dan sekitar, pemudanya demen dengan tosan aji,” katanya.

Pria 47 tahun ini berpendapat, melalui tosan aji tidak hanya belajar sejarah. Namun, benda-benda tersebut juga menjadi salah satu komuditas atau sarana investasi. Semakin lama atau lawas, nilai ekonominya tidak turun, justru semakin mahal.

Perawatannya pun terbilang sangat mudah. Jamasan atau mencuci pusaka hanya dilakukan setahun sekali. Peranti yang dipakai juga tidak mahal dan mudah didapatkan. Biasanya dia menggunakan buah mengkudu, daun nanas, dan minyak nonalkhohol untuk menghilangkan karat.

“Minyak urang-aring atau baby oil juga bisa. Sangat gampang kok,” katanya.

Untuk persoalan benda antik, Mukti biasanya memafaatkan jaringan penggemar tosan aji yang dimiliki. Artinya, dia menindaklanjuti sekecil apa pun informasi mengenai benda-benda kuno tersebut. Karena itu, tak heran jika dia harus blusukan ke desa-desa mencari atau mendapatkan benda tersebut.

Beberapa tahun lalu, benda-benda seperti lesung, grobog dan sejenisnya boleh jadi tidak begitu dipelihara dengan baik oleh pemiliknya. Bahkan, cenderung menjadi barang bekas yang tak bisa lagi dimanfaatkan.

“Awalnya memang begitu, tapi kini masyarakat sudah tahu bahwa benda-benda tersebut memiliki harga yang tinggi,” katnaya.

Akibatnya, kini dia harus merogoh kocek cukup dalam. Minimal membawa modal yang cukup besar saat eksplorasi benda-benda kuno itu. Menurut dia, itu pantas karena selain nilai sejarah dalam benda ini, bahan atau material yang digunakan juga baik.

“Rata-rata menggunakan kayu yang tua, kadang juga utuh sehingga pasti itu dulu kayunya sangat besar,” terang dia. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia