Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Dwi Aniffatul Azizah Mampu Buktikan Diri Jadi Juara 1 Tembang Macapat

Kamis, 08 Nov 2018 10:48 | editor : Anggi Septian Andika Putra

SUKA SEJAK KECIL: Dwi Aniffatul Azizah saat mengikuti sebuah acara beberapa waktu lalu.

SUKA SEJAK KECIL: Dwi Aniffatul Azizah saat mengikuti sebuah acara beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI FOR RATU)

Melagukan sebuah tembang macapat memang tidak bisa sembarangan. Karena antara satu tembang dan lainnya memiliki guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan berbeda. Namun bagi Dwi Aniffatul Azizah bukan menjadi masalah dan mengantarnya menjadi juara I se-Jawa Timur (Jatim).

DHARAKA R. PERDANA

Seni budaya Jawa ibarat kata sudah mbalung sungsum di dalam diri Dwi Aniffatul Azizah. Mengingat sejak kecil, cewek asal Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru, ini sudah dikenalkan pada seni budaya yang adi luhung ini. Tak mustahil, di sekolahnya pun dia dikenal cukup cakap dalam hal seni budaya.

Saat wawancara kemarin (7/11), siswa SMAN 1 Karangrejo mengaku tidak menyangka bisa menjadi juara I di ajang Lomba Nembang Macapat di Universitas Negeri Malang (UM). Apalagi sejak semula, dia tidak pernah menargetkan untuk menjadi yang terbaik. Jadi dia hanya berusaha tampil lepas seperti yang diinginkan para pembimbingnya.

“Saya hanya berusaha tampil sebaik mungkin dan tidak grogi. Alhamdulillah bisa menjadi yang terbaik,” katanya.

Menurut dia, menyanyikan tembang macapat memang tidak sama dengan campursari dan lain sebagainya. Karena di setiap tembang ada cengkok khusus yang harus dikuasai. Beruntung, dia sedikit banyak sudah memahami hal itu dan hanya perlu dipoles sedikit.

“Cengkok macapat memiliki kekhasan dan harus dipahami sebelum menyanyikannya,” tambahnya.

Anif -sapaan akrabnya- mengaku sangat mencintai dan menggandrungi seni budaya Jawa. Apalagi kesukaannya bermula dari lingkungan keluarga. Ayahnya terbiasa menulis dengan aksara Jawa dan lama kelamaan membuatnya tertarik terjun ke dunia ini.

“Ini menjadi landasan untuk terus mencintai seni budaya peninggalan leluhur. Bahkan akan terus melestarikannya,” ungkapnya.

Bagi cewek yang juga menggemari bacaan sejarah dan cerita pewayangan ini, di era modern seperti kini keberadaan seni budaya memang harus terus dipertahankan. Karena ini bisa menjadi benteng maupun pembentuk jati diri. Jadi sejak dini, seorang anak harus diperkenalkan agar tidak kehilangan siapa dia sebenarnya.

“Saya akan terus menggeluti hal ini dan meraih prestasi,” tandas cewek yang juga bercita-cita menjadi guru bahasa Jawa ini. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia