Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Wildan Diduga Derita GBS, Bukan Lumpuh karena Suntik MR

Jumat, 09 Nov 2018 12:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Aksi jalan kaki dari Tulungagung-Kediri yang dilakukan Suyanto, warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, mencari keadilan terkait anaknya, Wildan, beberapa waktu lalu

Aksi jalan kaki dari Tulungagung-Kediri yang dilakukan Suyanto, warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, mencari keadilan terkait anaknya, Wildan, beberapa waktu lalu (Dokumen)

TULUNGAGUNG – Aksi jalan kaki dari Tulungagung-Kediri yang dilakukan Suyanto, warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, mencari keadilan terkait anaknya, Wildan, 12, mengalami acute flaccid paralysis (AFP) atau lumpuh layu pascaimunisasi measles rubella (MR) di MTs Lirboyo, Kediri, menuai beragam reaksi. Termasuk Kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Mochammad Mastur.

Menurut dia, sakit dialami Wildan bukan karena MR. Jika dilihat, berdasarkan program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim), itu merupakan bulan pemberian imunisasi ORI difteri putaran III. “Mestinya karena November adalah bulan imunisasi difteri. Imunisasi MR sudah selesai tahun lalu,” jelasnya kemarin (8/11).

Dia melanjutkan, penyebab AFP yang dialami Wildan bukan karena pemberian imunisasi. Namun karena guillain barre syndrome (GBS) itu diperoleh setelah pemeriksaan di RSUD dr Iskak Tulungagung. GBS merupakan kondisi langka disebabkan sistem imun menyerang sistem saraf pariferal. Dengan begitu, kondisi tersebut membuat saraf meradang dan mengakibatkan kelumpuhan otot mulai dari tungkai. Yang dikhawatirkan dari penyakit itu, apabila kelumpuhan menyerang otot pernapasan.

“Sementara ini, kami menduga karena terkena GBS,” terangnya.

Dia mengatakan, karena kondisi medis, kini Wildan dirujuk di RS Syaiful Anwar, Malang. Kondisi Wildan dipastikan membaik. Bahkan, Wildan dimonitor langsung tim dari provinsi. Dalam proses pengobatan, Wildan menjalani perawatan perupa plasma exchange atau metode penggantian plasma. Plasma exchange merupakan penggantian cairan plasma yang metode pengobatannya mirip seperti cuci darah.

Dia memastikan pengobatan Wildan tidak dipungut biaya alias gratis. Akan ditanggung oleh BPJS atau provinsi melalui jaminan kesehatan daerah.

“Insyaallah pembiayaan free,” jelasnya.

Dia menambah, dengan adanya informasi itu, diharapkan masyarakat tidak perlu khawatir mengenai imunisasi. Intinya, program imunisasi untuk melindungi anak dari berbagai penyakit dan dijamin aman dilakukan. Pasalnya, sebelum memberikan imunisasi, akan dilakukan screening. Itu untuk memastikan kondisi kesehatan calon penerima vaksin. Untuk beberapa anak memiliki riwayat penyakit seperti kejang, akan dilakukan pemberian vaksin khusus. Jika ditemukan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), pihaknya memastikan segala biaya ditanggung pemerintah. “Jangan takut membawa anak imunisasi.

Pasti kita lakukan screening dulu. Untuk anak sedang sakit atau panas, pasti kami larang diimunisasi,” jelasnya.

Dia menegaskan, hampir seratus persen dampak dari imunisasi adalah panas. Untuk itu, setiap selesai imunisasi diberi obat penurun panas. Tujuannya, antisipasi jika anak mengalami panas.

“Obatnya diminum jika anak memang panas. Kalau tidak, ya jangan,” terangnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Wildan yang merupakan salah satu siswa di MTs Lirboyo Kediri mengalami kelumpuhan pascaimunisasi MR di sekolahnya. Kejadian bermula ketika ada kegiatan imunisasi MR masal digelar petugas Dinkes Kediri di pondok pesantren Lirboyo Rabu (24/10) lalu. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia