Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Semula Memanfaatkan Kain Sisa, Andreati Sukses Jadi Desainer Kebaya

Jumat, 09 Nov 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

ELEGAN: Andreati ketika menata salah satu koleksi kebaya hasil karyanya.

ELEGAN: Andreati ketika menata salah satu koleksi kebaya hasil karyanya. (Andreati For RATU)

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan desainer, bukan berarti tak mampu berprestasi. Itu dibuktikan Andreati, perancang kebaya asal Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, yang karyanya melalang buana hingga luar kota. Selain perancang busana, wanita tersebut juga seorang make-up artist (MUA).

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Panasnya terik matahari tak menyurutkan semangat Jawa Pos Radar Tulungagung untuk bertandang ke rumah Andreati. Andreati atau orang mengenalnya dengan nama Andrea Ali adalah seorang perancang busana dan MUA.

Andre, sapaan akrabnya, memanfaatkan rumahnya sebagai galeri koleksi kebayanya. “Silakan masuk, monggo duduk dulu,” sambutnya ramah.

Dia yang sedang mengandung empat bulan ini lantas menceritakan awal mulanya menjadi perancang busana yang tidak memiliki ilmu dasar mengenai sketsa dan pembuatan baju. Bahkan semasa muda, Andre mengambil SMK jurusan tata boga.

“Sama sekali nggak terpikir akan menjadi perancang busana. Khususnya untuk kebaya begini. Saya tidak ada basic desainer sama sekali,” terangnya.

Karirnya dalam dunia mode justru berawal dari make-up. Setelah menikah memutuskan untuk ikut kelas hairstylist dan make up. Tak disangka, kelas make up membuatnya ketagihan dan ingin terus belajar. Terutama mengenai hairstylist dan tata rias pengantin. Salah satu motivasinya adalah mengasah keterampilan dan dapat menjadi ibu rumah tangga mandiri.

“Saat itu ada program dari pemerintah mengenai tata rias kecantikan solo putri. Acaranya gratis, kenapa tidak dicoba?” tandasnya.

Demi terus mengasah kemampuan dan mengaplikasikan ilmu yang didapat, lantas memutuskan mulai membuka jasa potong rambut dan rias pengantin. Meski dalam skala kecil, dirinya tetap menikmati.

Hingga November 2014, bertepatan dengan ulang tahunnya, Andrea resmi membuka bisnis MUA dan fokus pada rias pengantin.

“Setelah ikut kelas, memang hanya membuka salon kecil-kecilan. Pelanggan pun hanya teman dan tetangga. Sampai akhirnya 2014 berani membuka bisnis MUA untuk rias pengantin, alhamdulillah berjalan sampai sekarang,” ujarnya.

Awal mula menjadi MUA bukan tanpa rintangan. Salah satu yang dialami wanita 37 tahun ini adalah pada wardrobe atau perlengkapan baju pengantin. Itu membuatnya untuk bertekad belajar membuat kebaya.

Dia mengaku, awal mula mulai belajar membuat kebaya karena salah seorang temannya akan menikah.

“Saat pertengahan 2015, ada teman yang memakai jasa MUA saya. Dia juga minta dengan kebaya. Dari situ saya mulai belajar membuat kebaya secara otodidak,” terangnya.

Perlahan tapi pasti, kebaya rancangan Andre pun mulai dilirik masyarakat. Untuk itu, dirinya pun terus mengembangkan desain kebayanya. Tak kurang akal, selain membuat kebaya, juga membuat hairpeace atau hiasan rambut untuk pengantin. Bermula karena banyaknya menerima tawaran merias pernikahan berhijab.

Ketika itu dirinya memanfaatkan kain-kain sisa membuat kebaya untuk membuat berbagai kreasi hairpeace. Meski bisnis MUA dan kebayanya mulai berjalan lancar, lantas tak membuat ibu satu anak ini berpuas diri. Dia kembali menimba ilmu mengenai MUA dan hairstylist dengan seorang MUA profesional.

“Tahun 2017 saya ambil kursus dengan Reza Azru. Di situ saya ingin meng-upgrade ilmu dari para MUA profesional,” jelasnya.

Kiprahnya dalam dunia mode kembali dilirik. Pada April 2018 lalu dia mendapat undangan dari salah satu agensi model di Malang. Andre diminta untuk tampil dalam runway dengan memamerkan kebaya-kebaya karyanya. Mendapat kesempatan untuk dapat mengikuti fashion show membuatnya kian mantap untuk menggeluti bisnis mode. Meski menjadi show pertama baginya, namun semua berjalan lancar.

“Bersyukur show pertama lancar. Dari situ saya makin yakin untuk terus berkarya dalam dunia mode. Ikut show ternyata membuat ketagihan,” selorohnya seraya tertawa.

Berkat kesuksesannya menampilkan karya-karya kebaya yang anggun dan elegan, membuatnya kian dilirik pasar. Hingga pada Oktober 2018, dia diundang oleh seorang wedding organizer (WO) di Ternate untuk menjadi salah satu penata rias dalam acara malam penggalangan dana untuk bencana Palu. Dalam acara itu, dia pun berkesempatan untuk merias putri-putri berbakat dari Ternate. Salah satunya finalis Putri Indonesia 2015, yakni Nazila Putri Daeng Barang. Nazila merupakan perwakilan Provinsi Maluku Utara dalam kontes kecantikan Putri Indonesia 2015 yang sekaligus sebagai Putri Kelautan 2015. Mendapat kesempatan untuk merias tokoh publik, membuatnya kian bersyukur dan bersemangat untuk terus berkarya.

“Saya tidak menyangka yang saya rias adalah finalis Putri Indonesia. Itu menjadi motivasi saya untuk jangan pernah membatasi diri meski usia terus bertambah,” tekadnya.

Disinggung mengenai inspirasi desain kebaya, Andre menerangkan jika lebih menyukai warna-warna playful dalam kebaya rancangannya. Warna-warna seperti ungu, pink, merah, dan hitam menjadi andalannya.

Selain itu, model kebaya asimetris menjadi ciri khasnya dalam berkarya.

“Saya tidak pernah bisa membuat satu model kebaya untuk dua kali. Kalaupun bisa, pasti tidak bisa persis. Sebab, saya selalu memodifikasi,” tandasnya.

Hingga kini kebaya buatannya berhasil melalang buana hingga ke luar kota. Seperti Batam, Papua, dan Cirebon. (*/ed/din) 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia