Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Suka Duka Warga Dusun Suwaru yang Mendadak Jadi Relawan Pengatur Jalan

Jumat, 09 Nov 2018 13:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TANPA PERLENGKAPAN: Masyarakat Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, ketika menjadi relawan pengatur jalan untuk mengantisipasi kecelakaan setelah tebing jalan longsor.

TANPA PERLENGKAPAN: Masyarakat Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, ketika menjadi relawan pengatur jalan untuk mengantisipasi kecelakaan setelah tebing jalan longsor. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Hujan deras yang mengguyur Kota Keripik Tempe sejak Senin (5/11) berakibat bencana di beberapa wilayah. Salah satunya, longsornya tebing jalan utama Trenggalek-Munjungan di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak. Hal itu menggugah masyarakat setempat menjadi relawan pengatur jalan.

ZAKI JAZAI

Pemandangan yang tidak biasa terlihat di jalan utama yang menghubungkan wilayah Teranggalek dengan Kecamatan Munjungan. Tepatnya di wilayah Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, kemarin (8/11). Saat itu, dari arah Trenggalek dengan kondisi jalan yang menanjak, terlihat beberapa kendaraan baik roda dua juga roda empat (R4) seperti mobil pikap dan lain sebagainya berhenti di pinggir jalan. Selang beberapa menit, setelah ada sejumlah kendaraan dari arah berlawanan turun, kendaraan yang berhenti tersebut melanjutkan perjalanan kembali.

Sembari itu, terdengar suara teriakan dari sejumlah pemuda setempat. Ternyata, sistem pengaturan jalan seperti itu telah dilakukan warga karena tebing jalan setinggi 20 meter dan lebar 15 meter di wilayah tersebut longsor. Akibat peristiwa itu, jalan hanya bisa dilalui dari satu arah atau perlu sistem buka-tutup jalur.

“Daerah sini letaknya jauh dari pusat kota sehingga hampir tidak ada petugas yang mengatur jalur. Makanya kami berinisiatif melakukan pengaturan sendiri,” ungkap Sutrisno, salah satu warga setempat yang melakukan pengaturan jalan.

Bukan tanpa alasan, sebab semenjak tebing jalan tersebut longsor pada Selasa (6/11) sekitar pukul 05.00, banyak pengguna jalan khususnya pengguna R4 yang tidak mau mengalah. Kendati sudah dipasangi rambu-rambu imbauan, pengguna dari arah Trenggalek tetap saja melajukan kendaraan dengan kencang melewati jalan tersebut. Itu sangat berisiko. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, juga pengguna jalan lain.

“Sebenarnya wajar karena kondisi jalan yang menanjak mereka memacu kendaraannya dengan kencang, khususnya dari arah Trenggalek. Namun kini karena baru saja terjadi longsor, lebar jalan tidak seperti sebelumnya,” katanya.

Jika di saat bersamaan ada pengguna R4 lain dari arah berlawanan, lebar jalan yang ada kini tidak cukup bagi mereka untuk bersimpangan. Tak ayal, jika dibiarkan, bisa mengakibatkan tabrakan. Bukan tidak mungkin akan mengakibatkan korban jiwa dan kerugian material.

Beberapa saat setelah rambu-rambu imbauan dipasang, kerap kali hampir terjadi tabrakan. Hal itu yang menimbulkan adu mulut antarpengendara karena sama-sama menganggap yang paling benar. Bahkan, masyarakat setempat kerap melerai pengendara tersebut agar adu mulut yang dilakukan tidak berlanjut.

Dari situlah warga setempat berinisiatif untuk menjadi relawan pengatur jalan. Selain itu, juga untuk mengantisipasi jatuhnya korban karena kondisi jalan yang masih rawan akibat longsor.

“Kami melakukan tindakan ini tanpa persiapan yang matang sehingga peralatannya seadanya,” tutur pria 43 tahun ini.

Senada juga diungkapkan Kirmanto, salah satu warga lainnya. Dalam proses pengaturan jalan, dirinya dan masyarakat lain berbagi tugas. Pada ujung jalan yang berjarak sekitar 10 meter dari lokasi longsor, masing-masing ada dua orang yang bertugas membuka-tutup jalur. Selain itu, ada dua orang lainnya yang bertugas di sekitar arah longsor untuk mengarahkan pengemudi tersebut langsung berbelok agar tidak memasuki area longsor.

“Semua warga di sini yang tidak sibuk, kompak untuk menjadi relawan pengaturan jalan, kendati tidak ada yang memberi upah,” imbuhnya.

Karena tanpa alat yang memadai, jika akan ada kendaraan yang melintas atau menutup kendaraan dari arah berlawanan, dilakukan dengan cara berteriak. Tidak ada lagi khususnya kendaraan R4 yang melintas berpapasan hingga terjadi kecelakaan. Itu dilakukan hingga malam hari. Untuk malam harinya, karena kondisi penerangan yang minim, sebagai alat penerangan digunakan lampu senter agar bisa lebih jelas dilihat pengendara.

“Sekitar pukul 20.00 kegiatan seperti ini kami hentikan. Sebab saat itu hampir tidak ada kendaraan yang melintas hingga esok harinya. Kendati demikian, kami berharap jika ada pengguna jalan yang melintas, harap selalu membunyikan klakson. Mengingat selain jalan yang menanjak, juga ada tikungan yang tajam sehingga tidak bisa melihat pengendara dari arah berlawanan,” jelasnya. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia