Sabtu, 17 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Sukaji Bakal Hadapi Kasusnya Sendiri

Jumat, 09 Nov 2018 15:20 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Grafis Sukaji

Grafis Sukaji

TRENGGALEK – Sukaji, tersangka kasus dugaan uang pelicin penyertaan modal PDAU 2007 tampaknya bakal menghadapi kasus tersebut sendirian. Sebab, keberadaan anggota pansus yang diduga menerima uang tunjangan hari raya (THR) alias uang pelicin saat proses penyertaan modal perusahaan daerah aneka usaha (PDAU) tak mudah ditemukan. Bahkan, ada beberapa orang dikabarkan meninggal dunia.

“Wah saya gak mengikuti perjalanan kasus PDAU,” ungkap Husni Tahir Hamid, seorang anggota dewan saat ditanya seputar kasus PDAU.

Diakuinya, dirinya salah seorang anggota dewan periode 2004-2009. Namun, kala itu dia anggota dewan yang junior sehingga tidak begitu diperhitungkan dalam pembahasan PDAU. Untuk itu, dia tidak bisa memberikan penjelasan mengenai persoalan PDAU.

“Waktu itu saya di komisi IV,” katanya.

Pihaknya mengaku prihatin dengan kasus yang menjerat seorang anggota dewan dalam kasus penyertaan modal PDAU ini. Menurut dia, ini sebagai pembelajaran sekaligus peringatan bagi wakil rakyat agar lebih amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat.

“Saya kira kita harus mengoreksi diri masing-masing bahwa hukum itu tidak selesai dalam satu tahun, tapi bisa diungkap di tahun-tahun berikutnya ketika ada bukti,” terangnya.

Ditanya siapa saja yang masuk dalam pansus penyertaan modal PDAU, pihaknya mengaku sudah tidak ingat secara lengkap. Maklum, peristiwa itu sudah terjadi sekitar sebelas tahun silam.

“Pansusnya Pak Sukaji itu siapa saja ya, Pak Surani, Pak Majid, tapi infonya sudah meninggal semuanya,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Samsul Anam yang juga anggota dewan periode 2004-2009. Dia mengaku tidak tahu-menahu mengenai dugaan adanya uang pelicin dengan dalih THR saat pembahasan penyertaan modal PDAU.

“Saya gak tau,” katanya

Politisi yang kini menjabat sebagai ketua DPRD ini mengaku fokus pada kegiatan alat kelengkapan dewan pascaditinggalkan seorang anggotanya lantaran ditahan. Itu karena Sukaji salah satu dari pimpinan alat kelengkapan di dewan (ketua komisi I, Red) sehingga memiliki pengaruh besar dalam jalannya alat kelengkapan tersebut. Di sisi lain, ini menjadi kewenangan partai atau fraksi untuk pengisian posisi alat kelengkapan yang kosong tersebut.

“Kami hanya bisa menunggu sikap partai,” katanya.

Mengenai tugas lain seperti program pembentukan perda, menurut dia masih bisa didukung oleh rekan-rekan dewan yang lain. Samsul mengungkapkan ada beberapa kegiatan besar yang sebenarnya menjadi domain komisi I. Semisal Pilkades serentak 2019 serta menyelesaikan raperda inisiatif dewan tentang budaya integritas.

“Yang senior masih ada, jadi masih bisa support,” terangnya.

Sebelumnya, Partai Golongan Karya (Golkar) belum menentukan sikap terkait kasus yang menimpa salah seorang kadernya. Di sisi lain, Sukaji dikenal sebagai kader kawakan yang dikenal memiliki loyalitas tinggi kepada partai.

“Kami belum ada laporan dari kejaksaan. Dari pihak yang bersangkutan juga belum ada informasi,” terang Ketua DPD Partai Golkar Wakidi kemarin (2/11).

Kini pihaknya lebih memilih menunggu laporan resmi dari kejaksaan terkait kasus yang menimpa kadernya tersebut. Itu agar pihaknya memiliki gambaran mengenai perkara yang dihadapi kader sehingga bisa diambil kesimpulan dan langkah yang harus dipilih oleh partai.

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia