Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Peringati Hari Jadi Kasepuhan Perdikan Majan, Gelar Berbagai Kegiatan

16 November 2018, 09: 40: 54 WIB | editor : Didin Cahya FS

Peringati Hari Jadi Kasepuhan Perdikan Majan, Gelar Berbagai Kegiatan

(YASENDAM FOR RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG- Grebeg Agung Maulud merupakan upacara tradisi yang dilaksanakan oleh keluarga kasepuhan sentono dalem perdikan Majan bersama masyarakat Tulungagung untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi Grebeg  Agung Maulud di kasepuhan tersebut memiliki beberapa agenda. Yakni dibuka dengan jamasan dan kirab pusaka kanjeng kyai golok sebagai tanda Hari Jadi Bumi Perdikan Majan Ke-291, dengan arak arakan tumpeng dan buceng, sekaligus diiringi kesenian genjring khas kasepuhan perdikan Majan. Arak-arakan mulai dari pendapa kasepuhan perdikan Majan menuju serambi Masjid Agung Al Mimbar Majan. Lantas tumpeng tersebut dibagikan kepada pengunjung yang sudah menunggu.

Menurut pelaksana acara tersebut Raden Ali Sodik, hampir semua orang tentu sudah tidak asing dengan istilah grebeg. Kata grebeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa ‘Gembrebeg’ yakni suara keras yang timbul ketika eyang Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar keluar dari dalem pendapa untuk mengajak masyarakat Tulungagung menggelar salawat di Masjid Agung Al Mimbar dengan ditandai dikeluarkanya pusaka kanjeng kyai golok pemberian raja Mataram atas perintah mensyiarkan agama islam dan nikah majan  dikadipaten Ngrowo pada tahun 1727 Masehi. Keluarga eyang Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar membagikan tumpeng kepada masyarakat yang hadir. Tumpengan merupakan  makanan tradisional,  dikawal oleh pasukan genjring yang menunjukkan seni bela diri dengan bunyi jedor dan sholawat . Seiring perjalanan waktu, nama gembrebeg berubah menjadi grebeg

Di Indonesia sendiri, lanjut dia, upacara grebeg dilaksanakan di tiga kota yakni Jogjakarta, Solo  dan kasepuhan perdikan Majan Tulungagung. Dikarenakan Jogjakarta, Solo, dan kasepuhan perdikan Majan memiliki hubungan kekeluargaan dari trah eyang penembahan Panembahan Senopati R. Sutowijoyo atau raja Mataram yang ke I. 

Dia menjelaskan, awalnya setiap 12 Maulud yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tradisi grebeg Agung Maulud mengadakan tabligh akbar di Masjid Al Mimbar  yang dihadiri masyarakat sekitar. Tetapi sekarang grebeg Agung Maulud dihadiri masyarakat luas. Bahkan Datu' Ramli dari Malaysia dan warga Thailand hadir juga bersama raja, sultan, datu. Penglingsir dan pemangku adat yang sekaligus memeriahkan acara grebeg Agung Maulud tahun 2017. 

Dalam acara grebeg Agung Maulud juga dilaksanakan pengukuhan Barisan Adat Raja Sultan Nusantara ( Baranusa) dan Majelis Cendekiawan Kraton Nusantara(MCKN)  provinsi Jawa Timur di serambi masjid kasepuhan Majan. Acara tersebut juga diisi gelar budaya religi, expo dan lainya.  Musik genjring dan permainan bela diri dari barisan adat raja sultan nusantara di halaman Masjid Al Mimbar juga digelar, bercerita tentang nilai-nilai keislaman.

Acara ini kemudian ditutup dengan makan bersama dengan hidangan yang disediakan  pihak keluarga kasepuhan sentono Majan.

Dengan cara menggabungkan syiar Islam dengan tradisi budaya setempat ini, eyang Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar berhasil menarik simpati masyarakat untuk mempelajari dan kemudian memeluk agama Islam di kadipaten Ngrowo pada tahun 1727. Tradisi ini dianggap sukses besar sehingga terus dilanjutkan dikasepuhan perdikan Majan.

Seiring berjalannya waktu, acara semakin meriah dan antusiasme dari masyarakat juga semakin meningkat. Maka, meskipun masyarakat tulungagung sudah banyak menganut Islam tradisi ini terus dilangsungkan oleh kasepuhan perdikan majan hingga sekarang. Meskipun mengalami pengembangan  tradisi ini dianggap sebagai salah satu warisan kebudayaan yang terus dilestarikan oleh pihak keluarga sentono dalem perdikan Majan. 

Tradisi Grebeg Agung Maulud mengalami perkembangan dari segi jenis kegiatannya. Untuk menambah keramaian dan semarak Grebeg Agung Maulud, pihak kasepuhan perdikan majan menyelenggarakan acara gebyar Sungai Ngrowo kamardikan tulungagung, yakni pasar malam dan gebyar budaya religi yang dilaksanakan Bulan Maulud dan ditempatkan disepanjang Sungai Ngrowo Majan.

Apabila mengunjungi gebyar Sungai Ngrowo, Anda akan menemukan pasar malam ini beda dari yang lain. Gebyar Sungai Ngrowo diisi berbagai jenis stand, mulai dari kuliner khas, pakaian batik kamardikan Majan , mainan tradisional dan berbagai oleh-oleh khas Tulungagung. Yang membedakan gebyar Sungai Ngrowo dengan pasar malam lain adalah adanya berbagai wahana bermain untuk anak-anak maupun orang dewasa seperti kora-kora, ombak banyu, kincir angin, atraksi ekstrem motor hingga rumah hantu.

Pada 12 Maulud Malam yang merupakan kelahiran Nabi Muhammad dilaksanakan pembacaan sejarah singkat Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar dan sejarah singkat  pusaka kanjeng kyai golok di serambi Masjid Al Mimbar dan dihadiri oleh sesepuh sentono dalem, abdi dalem , pejabat pemerintahan, dan masyarakat umum.

Untuk Anda yang ingin menyaksikan sendiri bagaimana keseruan tradisi ini, harap memastikan waktu berkunjungnya, karena acara ini hanya dilaksanakan setahun sekali dan menurut kalender masehi, acara Grebeg Maulud selalu berubah karena disesuaikan dengan kalender Jawa.

(rt/did/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia