Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Apa Itu Jelly Art? Simak Pengalaman Kakak Adik Ini

16 November 2018, 11: 55: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

UNIK: Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah ketika proses mengerjakan jelly art.

UNIK: Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah ketika proses mengerjakan jelly art. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Semangkuk jelly yang kenyal mungkin sudah biasa. Namun apa jadinya jika semangkuk jelly bening ditambah kreasi seni. Tentu dapat meningkatkan nilai jual yang tinggi. Adalah Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah, kakak-adik ini berkreasi jelly art.

Siapa sangka, hasil berselancar di dunia maya justru membawa berkah bagi Imroattus Sholichah dan Siti Fatimah. Kala itu, Siti -sapaan akrab- Siti Fatimah asyik bermain Facebook dan menemukan salah satu pebisnis kuliner.

Dalam posting-an tersebut, ditemukan teknik berkreasi dengan jelly atau jelly art. Karena penasaran, wanita berhijab ini lantas mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai teknik jelly art. Termasuk berkenalan dengan pebisnis kuliner asal Malang.

“Saat itu saking penasarannya, saya mencoba berkenalan dengan salah satu pebisnis kuliner asal Malang ini. Saya tanya mengenai apa itu jelly art,” ujarnya mengawali cerita kemarin.

Bermula dari perkenalan tersebut, Siti pun berinisiatif mengajak sejumlah temannya untuk belajar membuat jelly art sekaligus berencana mengundang pebisnis kuliner asal Malang sebagai mentor.

Desember 2014, bertempat di kediamannya di Jalan MT Haryono 152, Kelurahan Kepatihan, digelar pelatihan mengenai teknik pembuatan jelly art.

“Waktu itu ada sekitar 10 teman yang ikut pelatihan di sini. Alat dan bahan pun dari pelatihnya, kita belajar bareng,” terangnya.

Selepas pelatihan, Siti pun memutuskan belajar secara otodidak. Dengan dibantu sang adiknya, terus berkreasi.

Teknik jelly art diadaptasi dari teknik gelatin art yang populer di Meksiko. Jelly yang bening diibaratkan sebagai kanvas kosong yang siap untuk dikreasikan. Jelly yang berwarna disuntikkan dan dibentuk pada jelly bening hingga membentuk gambar tertentu.

Diperlukan ketelatenan dan kreativitas untuk dapat membuat sebuah jelly art. “Memang terlihat rumit dan susah. Ini yang membuat sebagian orang nggak telaten dan enggan belajar lagi,” ujarnya.

Mengawali bisnis jelly art bukan tanpa halangan. Dari yang masih kesulitan dalam teknik pembuatan, juga bingung untuk memasarkan. Ini karena bahan-bahan pembuatan jelly pun tidak sembarangan.

Jika sembarangan, hasilnya tidak maksimal dan pecah. Pada 2015, sedikit demi sedikit Siti mencoba peruntungan dengan mulai menawarkan aneka jelly buatannya ke kantin-kantin puskesmas dan bakery.

Tak disangka, jelly buatannya mendapat respons positif. Ini menjadi motivasinya untuk terus berkreasi dan berinovasi. Selain itu, karena belum banyak yang dapat membuat jelly art, wanita 33 tahun ini pun berniat untuk terus kembangkan bisnis kuliner.

“Saya merasa belum banyak yang jual yang seperti ini di Tulungagung. Lalu tahun 2016 saya coba memasarkan lewat Instagram. Alhamdulillah hingga sekarang banyak jualan online dan berhenti offline,” tandasnya.

Sementara itu, Imroattus menjelaskan, salah satu kendala ketika berjualan offline adalah harus memiliki stok barang. Padahal, jelly buatannya tidak dapat bertahan lama.

Ini yang membuatnya memutuskan hanya membuat jelly art berdasarkan pesanan. “Kebetulan saya ngajar di PAUD kalau pagi. Kalau harus stok jelly dengan jumlah banyak, bingung membagi waktunya. Akhirnya sekarang kita hanya membuat sesuai dengan pesanan,” jelasnya.

Disinggung mengenai inspirasi dan ide dalam membuat jelly art, anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku media sosial menjadi sumber referensinya dalam berkreasi.

Kini, kakak-beradik ini tak kian serius kembangkan bisnis kuliner. Dibuktikan dengan merambah pada pembuatan puding karakter, cokelat karakter, dan brownis lumer.

Selain tetap berbisnis kuliner, juga kerap menggelar kelas kursus untuk membuat jelly art.

Menurut dia, salah satu tujuan mengadakan kelas kursus yakni untuk memberdayakan para ibu-ibu agar memiliki keterampilan.

“Sudah tiga tahun terakhir ini sering diundang untuk mengisi kelas keterampilan membuat jelly art. Senang bisa membagi ilmu ke sesama dan membantu untuk pemberdayaan perempuan,” pungkasnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia