Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Pengalaman Warga Sekitar yang Mengikuti Penelitian di Gua Tenggar

23 November 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

KERJA KERAS: Aktivitas para peneliti, bappeda, dan warga sekitar Gua Tenggar beberapa waktu lalu.

KERJA KERAS: Aktivitas para peneliti, bappeda, dan warga sekitar Gua Tenggar beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI FOR RATU)

Gua Tenggar di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, yang dulunya menjadi jujugan wisatawan perlahan berubah fungsi.

Yakni menjadi lokasi yang menyimpan khazanah sejarah peradaban purba. Berikut penuturan mereka yang pernah terlibat langsung dalam penelitian.

Arif Darmawan, salah satu pemuda Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, ingat betul pengalaman beberapa tahun lalu. Dia sering beraktivitas di sekitar Gua Tenggar hingga dijadikan lokasi wisata alternatif.

Namun tanpa disadari, ternyata di dalam gua menyimpan begitu banyak fosil hewan. “Sebenarnya mengerti, tapi kurang tahu itu fosil apa saja,” katanya kepada Koran ini.

Pikirannya pun semakin terbuka tatkala tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tulungagung dan Universitas Airlangga mengajaknya untuk turut serta.

Apalagi dari survei permukaan, sudah cukup banyak fosil hewan yang ditemukan. Dari situ, dia memahami jika ada kekayaan sejarah yang tersimpan di situ.

“Padahal kami awalnya hanya ingin membuat wisata alternatif saja. Waktunya pun hampir bersamaan dengan Bukit Jodo,” jelasnya.

Sebagai orang awam, Arif dan rekan-rekannya pun mau saja diajak melakukan penelitian. Berbekal peralatan seadanya, mereka mengikuti ke mana tim peneliti melangkah.

Kendati demikian, di benak mereka merasa bersyukur diberi kesempatan seperti ini. Karena mendapat ilmu secara cuma-cuma tanpa harus duduk di bangku perkuliahan.

“Kami jadi mengetahui jenis setiap fosil yang ditemukan. Berikut cara memperlakukan agar tak sampai merusak,” ujarnya.

Pemuda ramah ini tidak memungkiri jika fenomena batu akik yang booming beberapa tahun lalu sempat membuatnya ketar-ketir. Sebab, salah satu yang diincar adalah batu fosil, khususnya fosil kayu.

Jadi mau tidak mau dia dan sembilan rekannya yang lain harus waspada. Tak terkecuali saat di situ disediakan spot foto selfie meski sekarang tinggal bekasnya saja.

“Dengan adanya rencana pengembangan oleh pemkab, kami pun akan membenahi area ini. Karena kini hanya tinggal puing-puingnya saja untuk fasilitas pendukung,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Andri Syambudi, Kasi Penelitian dan Pengembangan Bappeda Tulungagung. Mengikuti penelitian tim ahli yang melakukan penelitian di Gua Tenggar merupakan kesempatan berharga baginya.

Dia sekaligus belajar dunia fosil maupun sejarahnya. “Sejak awal saya memang mengikuti penelitian di gua itu. Apalagi sebelumnya saya pernah menemukan fosil di Pantai Kedungtumpang saat masih di dinas kebudayaan dan pariwisata,” katanya.

Karena diutus langsung dari pemkab, maka Andri -sapaan akrabnya- harus mendokumentasikan setiap kegiatan yang diikutinya berikut rinciannya. Setelah itu langsung dilaporkan kepada bupati Tulungagung.

Kendati demikian, apa yang sudah dicapai saat ini tidak lepas dari kerja sama yang baik antara tim perintis dan semua pihak yang mendukung.

“Kami berharap apa yang tersimpan di Gua Tenggar bisa menambah khazanah pengetahuan. Apalagi nantinya bakal dikembangkan lebih lanjut,” pungkasnya.

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia