Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Cara Dhanny Setiawan Manfaatkan Kardus Bekas dan Kertas Duplex

26 November 2018, 13: 12: 16 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

KREATIF: Dhanny menunjukkan sebagian rumah kalender mini hasil kreasinya kemarin (25/11).

KREATIF: Dhanny menunjukkan sebagian rumah kalender mini hasil kreasinya kemarin (25/11). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Barang bekas acapkali menumpuk di sekitar rumah. Namun bagi Dhanny Setiawan, warga Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, barang-barang tersebut menyimpan sejuta manfaat. Bahkan, dia sering diundang ke berbagai daerah untuk mengajarkan pemanfaatan barang bekas.

Sebuah rumah sederhana di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, kemarin (25/11) tampak sepi. Meskipun demikian, si empunya rumah tidak bepergian jauh karena pintu ruang depan masih terbuka lebar. Sejurus kemudian, seorang lelaki yang tidak lain Dhanny Setiawan mempersilakan masuk.

Begitu melangkah masuk, pandangan Koran ini tertuju pada tumpukan kardus maupun majalah bekas. Namun jangan menganggap benda tersebut hendak dibakar atau diloak, tetapi bakal disulap menjadi sebuah benda bernilai ekonomis. “Sampai kini, saya tetap suka mengolah barang bekas menjadi lebih fungsional lagi,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, ketertarikannya pada hal ini sebenarnya sudah cukup lama. Hingga akhirnya ditekuninya sampai hari ini. Bahkan aktivitasnya tersebut membuat dia sering diundang menjadi dosen tamu maupun pengajar di beberapa lembaga pendidikan. Baik itu di lingkup Tulungagung maupun luar Jawa Timur.

Dhanny. sapaan akrabnya, mengakui awal perjalanan aktivitasnya itu dari membuat scrapbook. Tak mustahil, dia menyimpan begitu banyak majalah bekas yang sudah tidak dibaca lagi. Dari benda yang diolah dan disusun sedemikian rupa, ternyata membuat banyak orang tertarik tatkala diunggah ke media sosial (medsos). “Masih ada beberapa scrapbook yang hendak saya kirim ke Jakarta,” ungkapnya.

Kondisi yang agak berbeda kini sedang dilakoninya. Alumnus STIE Perbanas Surabaya ini sedang merekayasa kardus maupun duplex. Dari lembaran kertas tebal ini disulapnya menjadi sebuah kalender universal. Artinya, meskipun ganti tahun, tidak perlu beli kalender baru. Karena angka-angka di kalender tersebut bisa dibongkar pasang. “Angka yang ada di rumah kalender ini pun dari kalender bekas yang saya potong-potong. Jika sudah tidak ada, baru mencetak sendiri dengan Photoshop,” tuturnya.

Pria berumur 46 tahun ini pun berharap apa yang sudah dilakoninya ini terus berkembang. Diakuinya, barang bekas memang menyimpan permasalahan tersendiri jika tidak ada kreasi atau inovasi. Dikhawatirkan ini bisa menggunung dan menimbulkan dampak negatif. Lagi pula dengan adanya bentuk baru juga memiliki nilai jual. “Modalnya memang kreatif dan inovatif. Kalau untuk peralatan sering mendapat bantuan dari rekan-rekan sesama penggiat,” tandasnya. 

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia