Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Barber Brother, Komunitas Tukang Cukur di Kota Keripik Tempe

27 November 2018, 10: 38: 13 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERSOSIAL : Personel barber broter memberikan jasa cukur gratis di alun-alun. Cukur gratis biasanya memanfaatkan momen.

BERSOSIAL : Personel barber broter memberikan jasa cukur gratis di alun-alun. Cukur gratis biasanya memanfaatkan momen. (AGUNG FOR RADAR TRENGGALEK)

Setiap warga negara berhak atas kebebasan berserikat dan berkelompok, begitu juga dengan tukang cukur. Di Kota Keripik Tempe, Barber Brother menjadi sarana bersosial serta menghilangkan kesenjangan antar ahli potong rambut.

“Barber itu istilah lain untuk tukang cukur,” ujar Agung Wahyudi, seorang anggota Barber Brother, komunitas atau perkumpulan tukang cukur, kemarin (25/11). Sekitar tiga tahun lalu, istilah ‘barber’ alias tukang cukur ini mulai akrab di telinga masyarakat Trenggalek. Agung menyebut barber shop sebagai salah satu bisnis kreatif. Sebab, dalam pelaksanaannya menuntut kreatifitas pelaku penyedia jasa potong rambut ini.

Secara prinsip tidak ada yang berbeda antara tukang cukur dengan barber. Perbedaan mencolok biasanya terletak pada sarana atau fasilitas yang ada di penyedia jasa cukur rambut ini. “ Sama saja, bedanya paling diservice,” katanya.

Saat ini bisnis jasa cukur rambut bukan lagi profesi yang bisa dipandang sebelah mata. Seiring perkembangan, tidak hanya jasa cukur yang dijajakan, namun juga mulai merambah pada hal lain. Semisal penjualan produk untuk kebutuhan rambut. Tak sedikit pula tempat cukur ini dimodifikasi layaknya kafe atau tempat nongkrong. Sehingga, mereka yang ngantre tidak jenuh karena ada camilan atau minuman yang juga disediakan.

Ide membuat komunitas tukang cukur ini bermula dari pertemuan beberapa orang pelaku usaha potong rambut. Lama kelamaan, pertemuan kian intens dengan jumlah peserta yang juga bertambah. “ Nah dari sana, akhrnya tercetus usulan untuk membuat komunitas ini,” ungkap agung.

Awalnya –sambung Agung- kegiatan kelompok penyedia jasa potong rambut ini hanya sekadar ngopi atau tukar pengalaman dalam dunia cukur. Lambat laun ada gagasan berpartisipasi dalam wilayah social, semisal memberikan jasa cukur secara gratis. “ Akhirnya keterusan, dua minggu sekali kami keliling yayasan atau pondok beri service cukur gratis,” kataya, lantas tertawa.

Biasanya, tidak hanya servis cukur rambut gratis yang diberikan, namun personel-personel barber brother ini juga memberikan edukasi mengenai cara mencukur berikut alat sederhana atau mesin yang bisa digunakan untuk belajar memotong rambut.

Agung mengaku, mesin itu bukan mesin baru melainkan mesin yang biasanya dipakai oleh barber brother mengais rezeki. Kendati begitu, alat tersebut  masih sangat layak untuk digunakan sebagai sarana potong rambut.

Ia beranggapan, apa yang dilakukannya bersama rekan-rekan tukang cukur rambut itu adalah hal yang positif. Harapannya, para santri tidak hanya memiliki pengetahuandalam ilmu agama namun juga sedikit keahliandalam potonmg rambut. “ Lalau selesai dari pondok terus punya keahlian potong rambut kan lumayan, minimal untuk motong keluarga sendiri,” ucapnya.

Kini jasa cukur rambut ini juga sudah melangkah cukup jauh. Mereka juga melek teknologi. “Memanfaatkan media social untuk menjajakan jasa cukur online. Ya mereka biasanya menerima panggilan potong rambut, sehingga konsumen tidak perlu repot menunggu antre. Hanya, hal ini jelas membawa konsekuensia pada harga,” katanya. “ Ya jelas beda harganya, jam juga ditentukan agar yang nunggu di stand bisa tetap terlayani,” kata Fandi Ahmad, anggota barber brother lain.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia