Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon-featured
Features

Pengakuan Warga Desa Nglampir yang Rutin Terkena Banjir Setiap Tahun

01 Desember 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERSIH-BERSIH: Sriyati dan Endah sedang membersihkan lumpur di dalam rumahnya setelah terjadi luapan air kemarin (30/11).

BERSIH-BERSIH: Sriyati dan Endah sedang membersihkan lumpur di dalam rumahnya setelah terjadi luapan air kemarin (30/11). (AGUS DWIYONO/RATU)

Desa Nglampir, Kecamatan Bandung, rutin terkena banjir setiap tahun. Sebab, desa tersebut dilintasi Sungai Parit Raya yang merupakan penampung air dari Trenggalek. Jika hujan deras, luapan sungai sering kali meluber ke permukiman.

Musim hujan masih sering membuat repot warga Kota Marmer bagian selatan. Sebab, setiap hujan, dipastikan beberapa wilayah banjir akibat luapan sungai tidak kuat menampung debit air. Termasuk yang tampak di Desa Nglampir, Kecamatan Bandung Jumat (30/11) sekitar pukul 08.00. Bekas genangan air masih terlihat di tembok rumah warga.

Selain itu, tidak jarang warga gotong royong membersihkan sampah di saluran air dan lumpur ynag masuk rumah. Tidak terkecuali dengan Sriyati beserta anaknya, Endah. Mereka sibuk mengeluarkan perabotan rumah seperti kasur dan kursi untuk dijemur.

Sriyati mengaku bersih-bersih lantaran rumahnya diterjang banjir sekitar pukul 02.00. “Sore hingga malam memang hujan di wilayah Kecamatan Bandung ini,” jelasnya.

Ini bukan kali pertama rumahnya diterjang banjir. Pasalnya setiap musim hujan, akan mengalami hal serupa. Namun banjir kali ini termasuk terbesar. “Banjir terbesar, mirip 2008 lalu,” jelasnya.

Menurut dia, air sungai yang meluap tidak hanya dari wilayah Tulungagung, tapi juga kiriman dari Trenggalek. “Ini banjir kiriman. Bahkan di sini tidak hujan pun, airnya bisa meluap jika di Trenggalek hujan lebat,” ungkapnya.

Wanita 60 tahun itu mengaku sudah menduga jika sungai di sekitar rumahnya akan meluap. Luapan air sungai tiba di rumahnya sekitar pukul 02.00. “Saya waktu malam hanya sendiri. Jadi tidak sempat mengamankan kasur, kursi, dan lain-lain sehingga basah,” ungkapnya.

Dia tidak nyaman tidur jika terjadi hujan lebat. Sebab khawatir terjadi hal serupa. Jika hujan lebat, tentu mewaspadai sesuatu yang tidak diinginkan. Yakni dengan tidak tidur jika hujan lebat dan mengamankan barang-barang agar tidak terkena luapan air. “Kalau ada hujan lebat, tidur saja tidak nyenyak dan sering takut ada luapan lebih besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Endah mengatakan hal senada. Sejak pukul 06.00 dia beserta suaminya, Mahmud, membersihkan rumah dari lumpur. “Saling membantu membersihkan rumah. Mengeluarkan kasur dan kursi basah yang tidak sempat diselamatkan,” ungkapnya.

Menurut dia, luapan air di wilayah selatan rutin terjadi setiap tahun. Itu karena adanya banjir kiriman dari wilayah Trenggalek. “Air yang paling banyak dari wilayah Watulimo, Trenggalek dan melewati wilayah kami. Sebab, arena sungai tidak muat menampung sehingga meluap,” ujarnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia