Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon-featured
Blitar

Reaksi Aktivis Antikorupsi Jadi Tersangka, Kaitkan Kasus Fadli Zon

Siapkan Sembilan Pengacara

02 Desember 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

Triyanto

Triyanto (DOK. RADAR BLITAR)

BLITAR KOTA – Triyanto, tersangka kasus dugaan tindak pidana menyiarkan atau memberitakan kebohongan soal surat panggilan KPK yang ternyata palsu angkat bicara soal penetapan dirinya. Aktivis antikorupsi itu tidak merasa kaget dengan penetapan tersangka oleh Polres Blitar tersebut.

Pria yang dikenal dengan pakaian serba hitamnya itu sudah siap dipanggil sewaktu-waktu untuk pemeriksaan sebagai tersangka. Kini pihaknya sedang berkoordinasi dengan tim pengacaranya untuk langkah berikutnya. “Ini saya sedang koordinasi dengan teman-teman pengacara. Rencananya besok (hari ini, Red) kami bertemu untuk membahas,” katanya saat ditemui di salah satu kawasan wisata di Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul,  Sabtu (1/12).

Soal langkah apa saja yang akan ditempuh, kata dia, pihaknya tidak bisa menjelaskan secara detail. Sebab masih akan membahas lebih lanjut dengan tim pengacaranya. “Ini masih akan saya konsultasikan dengan kawan-kawan dan juga relawan, apa saja langkahnya,” tegasnya.

Ada setidaknya sembilan pengacara yang akan mendampingi Triyanto. Kini pihaknya sedang berupaya berkonsultasi dengan kuasa hukumnya tersebut. “Yang pasti, saya sudah siap untuk menghadapi ini semua. Saya juga bakal siapkan saksi-saksi tak terduga di pengadilan,” ungkapnya.

Menurut Triyanto, kasus yang dialaminya ini mirip dengan kasus yang menimpa Fadli Zon. Saat itu, Fadli mem-posting kalimat pembelaan rekannya Ratna Sarumpaet yang dianiaya oleh sejumlah oknum ormas tertentu dan berkomentar di media massa. Namun aksi penganiayaan itu ternyata bohong.

Ratna Sarumpaet telah mengaku bohong di hadapan media. Hingga akhirnya kebohongan ini bergulir di kepolisian. “Namun dalam kasus ini yang menjadi tersangka itu si Ratna yang berbohong. Bukan Fadli Zon yang mem-posting berita penganiayaan Ratna Sarumpaet yang ternyata bohong. Jika memang kasus tersebut mirip dengan saya, seharusnya Fadli dan kawan-kawanya juga ditetapkan tersangka,” jelasnya membandingkan.

Menurutnya, ketika Fadli mem-posting berita tentang penganiayaan Ratan Sarumpaet itu belum tahu bohong atau tidak. Sama halnya dengan Triyanto yang saat itu mem-posting foto-foto surat panggilan KPK kepada beberapa pejabat di Kabupaten Blitar yang ternyata palsu. “Yang pasti, saat saya mem-posting itu, saya tidak tahu surat panggilan itu asli atau palsu. Saya saat itu hanya dapat informasi (foto surat panggilan, Red) dari teman saya staf di Dinas PUPR Kabupaten Blitar,” ujar pria ramah ini.

 Triyanto mengatakan, yang harus dicatat dalam kasus ini sebenarnya adalah pembuat dan pengirim surat panggilan KPK palsu tersebut. Polisi harus bisa mengungkap siapa pembuat surat palsu tersebut. “Saya berharap polisi dalam hal ini harus objektif dan adil. Emak-emak yang mem-posting informasi penculikan (di medsos, Red) karena ketidaktahuan saja dilepas. Kenapa bapak-bapak yang mem-posting surat panggilan KPK yang ternyata palsu itu tidak dilepas?” ujarnya lantas terkekeh.

 Sesuai informasi, minggu depan rencananya Triyanto dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka di Polres Blitar. Pemanggilan itu untuk yang kesekian kalinya setelah dilaporkan pada pertengahan Oktober lalu. “Rencananya jika tidak salah Selasa (4/12) saya diperiksa lagi,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Jumat (30/11) lalu secara resmi Polres Blitar menetapkan Triyanto sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana menyiarkan atau memberitakan kebohongan terkait surat panggilan KPK.

Dari berstatus hanya terlapor, kini status aktivis antikorupsi Blitar ini menjadi tersangka. Namun untuk sementara polisi belum melakukan penahanan. “Ini kan masih kami tetapkan tersangka. Masih ada tahapan selanjutnya,” Kasatreskim Polres Blitar AKP Rifaldy Hangga Putra.

 Rifaldy mengatakan, penetapan tersangka itu berdasarkan hasil dari penyidikan selama ini. Penyidikan saksi-saksi dan beberapa saksi ahli. Dia menyebut setidaknya ada 22 saksi yang sudah diperiksa. Bahkan polisi juga meminta keterangan dari beberapa saksi ahli. “Untuk saksi ahli, kami datangkan saksi ahli bahasa. Selain itu, juga ahli pidana dan ahli ITE (informasi dan teknologi elektronik). Juga dari ahli digital forensik Mabes Polri,” terang perwira berpangkat tiga balok di pundak ini.

(rt/abd/kan/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia