Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Selain Lestarikan Budaya, Dari Wayang Orang Ternyata Bisa Meresapi 3T

03 Desember 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MASIH BERTAHAN: Grup wayang orang Hari Budoyo saat tampil di lapangan Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, dengan lakon Kresna Duta, Sabtu (1/12) malam lalu.

MASIH BERTAHAN: Grup wayang orang Hari Budoyo saat tampil di lapangan Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, dengan lakon Kresna Duta, Sabtu (1/12) malam lalu. (DHARAKA R. PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

 TULUNGAGUNG – Keberadaan wayang orang di Kota Marmer ibarat kata memang bagai menunggu turunnya hujan di musim kemarau. Padahal, salah satu seni pertunjukan panggung ini menyimpan berbagai piwulang luhur atau pembelajaran. Karena itu merupakan refleksi dari kehidupan nyata, seperti halnya yang ditunjukkan dalam pergelaran wayang kulit.

Salah satu guru bahasa daerah, Bambang Santoko mengatakan, sebenarnya masyarakat Tulungagung masih haus hiburan tradisional. Sebab di dalamnya berisi tontonan, tatanan, dan tuntunan (3T). Jadi bisa menjadi solusi pembelajaran terhadap jati diri. “Banyak hal yang bisa dipelajari dari wayang orang,” katanya kemarin.

Dia menambahkan, apa yang ditampilkan di setiap pertunjukan wayang orang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Karena yang ditampilkan di atas panggung biasanya terimplementasi dan pernah dialami hampir semua orang. “Ini juga bisa jadi kaca benggala kehidupan,” jelasnya.

Pria 31 tahun ini tidak menampik, kini jumlah grup wayang orang di kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini jauh berkurang dibandingkan beberapa dekade silam. Mayoritas tidak mampu bertahan dari gempuran berbagai kesenian modern. Meskipun begitu, dia berharap grup wayang orang yang tersisa bisa terus bertahan. “Anak-anak kecil pun harus diperkenalkan kesenian ini sejak dini. Jadi saat beranjak dewasa bisa tetap mencintai kesenian peninggalan leluhur ini,” tuturnya.

Sementara itu, Angga Prasetyo, salah satu warga Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru mengakui, kesenian seperti ini harus terus bertahan. Karena ini bisa menunjukkan eksistensi seni tradisional di Tulungagung. Di kabupaten ini, sampai kini banyak ditemukan grup kesenian. “Untuk wayang orang memang tidak banyak. Saya hanya bisa berharap itu bisa terus eksis dengan tampil di depan khalayak luas seperti halnya yang ditampilkan di Desa Bangoan, Sabtu (1/12) malam lalu,” ujarnya.

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia