Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Gawat Krisis Persediaan Pupuk Bersubsidi, Nasib Ribuan Petani Terancam

05 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Gawat Krisis Persediaan Pupuk Bersubsidi, Nasib Ribuan Petani Terancam

TULUNGAGUNG – Para petani di Kota Marmer tampaknya harus melipatgandakan kesabaran. Alokasi pupuk bersubsidi untuk seluruh dalam kondisi kritis. Bahkan, di antara 19 kecamatan ada yang melebihi kuota yang ditetapkan.

Kendati demikian, Dinas Pertanian (Disperta) Tulungagung belum bisa berbuat banyak karena masih menunggu penekenan surat keputusan (SK) dari Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mengenai realokasi.

Kasi Pupuk, Pestisida, dan Teknologi Pangan Triwidyono Agus Basuki mengatakan, kini persediaan pupuk bersubsidi memang dalam kondisi kritis. Jumlah yang tersedia sudah semakin menipis.

Padahal permintaan petani sedang banyak. “Pada musim hujan ini banyak permintaan, tetapi persediaan pupuk tidak banyak,” katanya saat ditemui di kantornya Selasa (4/12).

Menurut dia, disperta belum bisa berbuat banyak mengenai ini. Sebab, semua urusan pupuk merupakan wewenang dari pusat. Pihaknya hanya menyalurkan lebih lanjut ke bawah, khususnya untuk para petani. “Kuota yang diterima kabupaten ini berasal dari pusat. Kami hanya break down ke bawah,” jelasnya.

Dari data yang dihimpun Koran ini, persediaan pupuk urea tinggal 1.319 ton atau 4,74 persen, ZA tinggal 352 ton atau 3,09 persen, SP-36 sisa 96 ton atau 5,84 persen, phonska 1.330,8 ton atau 7,57 persen.

Sedangkan pupuk organik terhitung lumayan banyak, yakni 4.648 ton atau 26,34 persen.

Okky -sapaan akrabnya- melanjutkan, pola penggunaan pupuk di setiap kecamatan memang agak berbeda. Petani di wilayah pegunungan pada awal tahun atau saat musim kemarau memang jarang yang mencairkan kuotanya.

Namun saat awal masa tanam di musim penghujan, mereka langsung mencairkan dalam jumlah besar. “Kalau masyarakat di dataran rendah sejak awal tahun langsung mencairkan. Tak mustahil ada yang kehabisan kuota,” terangnya.

Terkait ini, pria berbadan besar memang menunggu adanya realokasi pupuk dari pemerintah pusat. Sebab, di daerah lain yang baru bisa menyerap 40 persen saja. Dari informasi yang dia dapat, nantinya itu bakal dialihkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan.

“Kami hanya berharap, kondisi ini bisa segera teratasi. Namun dengan catatan, SK dari Pemprov Jatim sudah turun. Jadi kami bisa mengetahui seberapa banyak tambahan pupuk yang kami terima di pengujung tahun ini,” jelasnya.

Okky mengakui, saat kondisi pupuk bersubsidi menipis, para petani banyak yang beralih menggunakan pupuk nonsubsidi. Mereka tampaknya tak mau ambil risiko buruk terjadi pada tanamannya. Meskipun dengan risiko harga lebih tinggi dibandingkan pupuk bersubsidi. “Risiko ini sering diambil daripada gagal tanam,” ujarnya.

Sementara itu, Sukijan, salah satu petani di Desa/Kecamatan Kauman berharap alokasi pupuk yang kini semakin menipis bisa segera dipenuhi. Mengingat para petani sangat butuh tambahan pupuk untuk menunjang masa tanam di awal musim penghujan ini. “Kami berharap alokasi kembali normal dan petani tidak kesulitan mencari,” katanya.

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia