Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Aloysius Yoseph Ismono, Perajin Pohon Natal

OLEH : ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

05 Desember 2018, 17: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

UNIK: Aloysius Yoseph Ismono ketika menyelesaikan pohon Natal berbahan koran untuk penuhi pesanan.

UNIK: Aloysius Yoseph Ismono ketika menyelesaikan pohon Natal berbahan koran untuk penuhi pesanan. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Bagi umat Kristiani, Natal menjadi momen istimewa.Berbagai pernak-pernik khas Natalmulaidiburu sejumlah warga. Termasuk karya AloysiusYoseph Ismono, salah satu perajin handcraft berbahan dasar barang bekas.

Dengan kreativitas, aneka botol bekas dan koran diubah menjadi pernak-pernik khas untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus tersebut.

Berbagai lintingan koran bekas dan botol bekas menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Tulungagung ketika mengunjungi kediaman Aloysius Yoseph Ismono di Jalan Mastrip I/16 Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung.

Dengan telaten,Ismono -sapaan akrabnya- seadng melilitkan hiasan untukpohonNatal di depannya.“Maaf sedikit berantakan. Ini sedangmengerjakan pesanan orang-orang,” sambutnya ramah.

Pria 55 tahun ini menceritakan, momen Natal seperti sekarang membawa berkah baginya. Sejak awal November lalu, dia telah menerima banyak pesanan untuk pembuatan pohon Natal. Mulai ukuran besar hingga ukuran mini sekitar 70 sentimeter.

Tak hanya datang dari Tulungagung, pemesan juga hingga Blitar, Trenggalek, bahkan Surabaya.

Dia mengaku, rata-rata yang dipesan pohon Natal ukuran kecil dan sedang. “Puji Tuhan banyak pesanan jelang Natal sejak akhir Oktober sampai awal November lalu. Naik sekitar 100 persen dari biasanya,” terangnya.

Ayah dua anak ini mulanya membuat pohon Natal hanya sekadar iseng. Kala itu, sedang melihat sisa koran bertumpuk tidak terpakai. Lantas dimanfaatkan untuk membuat sebuah bintang besar sebagai hiasan di puncak pohon Natal.

Tak disangka, mendapat respons positif. Bahkan tak sedikit yang mencoba untuk belajar padanya. “Ya, saat itu ada sisa bahan dari pesanan orang. Coba-coba saja berkreasi, ternyata responsnya bagus,” jelasnya.

Memanfaatkan koran bekas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Sebab, koran merupakan barang sederhana, tapi bernilai jual tinggi.

Dengan memanfaatkan barang bekas, akan menjadi salah satu langkah positif untuk mengurangi jumlah sampah dan dapat meningkatkan ekonomi. Inilah yang menjadi motivasinya untuk serius tekuni bisnis handcraft dua tahun lalu. “Daripada dibuang, mending dibuat kerajinan dan bisa dijual,” jelasnya.

Dibantu sang istri, pria yang dulunya guru matematika ini mengaku, salah satu kesulitan yang dialami adalah terkait bahan baku. Keterbatasan persediaan bahan baku saat pesanan banyak menjadi kendala.

Selama ini dia mendapat bahan baku dari bank sampah dan dari loak atau pengepul. Namun tak jarang barang yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Sedangkan untuk membuat satu pohon Natal setinggi tiga meter, diperlukan kurang lebih 250 botol bekas.

“Kadang botol-botol yang didapat sudah nggak bagus. Jadi harus benar-benar dipilah mana yang layak digunakan dan tidak,” urainya.

Selain kesulitan dalam bahan baku, pemasangan lampu juga menjadi tantangan dalam membuat pohon Natal. Pasalnya, lampu Natal menjadi poin penting untuk memperindah pohon Natal.

“Paling penting sebenarnya pada lampunya. Hiasan itu hanya pendukung saja. Kadang sudah dipasang dari puncak, begitu sampai bawah ada lampu yang mati, harus bongkar dari awal lagi,” ungkapnya.

Mengenai referensi pembuatan, media sosial untuk menambah ide.

Untuk pembuatan satu pohon Natal ukuran tiga meter, Ismono mampu menyelesaikan dalam waktu tiga hari. Sedangkan untuk pohon Natal berukuran kecil, mampu menyelesaikan dua hingga tiga pohon Natal dalam sehari.

“Sebenarnya yang lama itu saat proses pengecatan dan finishing saja. Untuk membentuk kerangka nggak lama kok,” tandasnya.

Lanjut dia, untuk pohon Natal berukuran kecil memanfaatkan lintingan koran sebagai bahan baku. Sedangkan untuk pohon Natal ukuran besar, memanfaatkan botol bekas sebagai bahan baku.

Mengenai harga, bervariasi, tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kerumitan. Untuk satu pohon Natal ukuran 70 sentimeter, dibanderol dengan harga Rp 150 ribu. Sedangkan untuk pohon Natal berukuran tiga meter, dibanderol Rp.650 ribu.

Dia berharap, upayanya memanfaatkan barang bekas dapat membantu mengurangi jumlah limbah. “Sebenarnya barang apa saja bisa dimanfaatkan menjadi barang berekonomi tinggi, asal telaten dan ulet,” pungkasnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia