Senin, 25 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Travelling
Prabowo dan Jokowi Cukup Familier di Pedagang

Makin Nyaman dan Mudahnya Melaksanakan Umrah di Tanah Suci (1)

08 Desember 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

BISA BICARA INDONESIA :  Pedagang di sekitar gate 21 Masjid Nabawi, Madinah   cukup familier dengan pembeli dari Indonesia.

BISA BICARA INDONESIA : Pedagang di sekitar gate 21 Masjid Nabawi, Madinah cukup familier dengan pembeli dari Indonesia. (USTADZ JOHAN FOR RADAR TULUNGAGUNG)

 “Sudah bukan saatnya lagi masih memikirkan bagaimana nanti di Tanah Suci Makkah Al Mukaramah. Kuatkan niat hanya untuk beribadah dan bismillah berangkat umrah!”

Aris Harianto dan Widianing Setya, Tanah Suci Makkah

Kadang masih ada pertanyaan, bagaimana nanti saat di Tanah Haram kalau kita tidak bisa berbahasa Arab. Bagaimana nanti kalau kita ingin beli oleh-oleh dan berkomunkasi dengan pedagang di sana? Bagaimana pula dengan arah jalan dari penginapan ke masjid atau sebaliknya? Sejumlah pertanyaan ini sering menghantui mereka yang ingin menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.

Semua pertanyaan itu sirna tatkala Koran ini mengikuti program haji kecil tersebut akhir November lalu. Mulai tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah, ungkapan berbahasa yang kita kenal sudah terdengar di telinga. “Apa kabar, Haji?” sampai “Ayo beli, murah, murah!” dan lainnya jamak terucap oleh penduduk Arab.

Begitu pun saat Koran ini memulai aktivitas dari penginapan menuju Masjid Nabawi di Madinah Al Munawarah. Kebetulan hotel tempat menginap berjarak sekitar 300 meter dari Masjid Nabawi. Sepanjang perjalanan menuju masjid dipenuhi kios pedagang beragam barang. Mulai aksesori khas Timur Tengah, perlengkapan ibadah seperti sajadah atau songkok (kopiah), atau bahkan makanan, tersedia di sana.

Para pedagangnya pun sudah cukup fasih berbahasa Indonesia. “Ayo, ayo murah, cuma dua real (mata uang Arab)” serta “Haji, Hajjah sini, apa kabar?” merupakan kalimat yang paling sering terucap dari mulut para pedagang. Tujuannya, tentu untuk menggaet jamaah haji atau umrah untuk membeli barang yang mereka jajakan. Awalnya malu-malu, toh banyak juga jamaah umrah rombongan Koran ini yang membeli barang.

Bahkan, nama kedua calon presiden (capres) Indonesia yang tengah berkompetisi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 pun kerap terdengar. Mungkin begitulah cara para pedagang di Madinah menggaet calon pembelinya dari jamaah umrah Indonesia. “Hidup Prabowo!” dan “Hidup Jokowi!” selalu terdengar dari depan kios pedagang di sepanjang jalan yang Koran ini lalui.          

Begitu jamaah mendekat, para pedagang tersebut kembali bertanya, ”Dari Jakarta atau Bandung?” sambil mengarahkan telunjuknya kepada jamaah. “Dari Surabaya,” timpal salah seorang jamaah. “Oh, Surabaya Pasar Turi,” sergah mereka.

Basa-basi pun tetap berlanjut, ”Bagaimana kabar Pak Jokowi dan Pak Prabowo?” ucap mereka. “Alhamdulillah mereka baik,” jawab kami. “Oh thayib (baiklah, Red) mari silakan masuk, lihat-lihat saja!” giring mereka. Ujung-ujungnya jamaah pun tergiur membeli barang sekadarnya untuk oleh-oleh seperti cenderamata atau songkok putih dan hitam.

Kok tahu nama-nama capres Indonesia? Mereka mengaku intens mengikuti perkembangan berita terkini di Indonesia lewat YouTube. Masyarakat Madinah pun mengikuti perkembangan rencana pemilihan kepala negara Indonesia. “Makanya kita sering sharing sama orang-orang Indonesia yang bermukim di sini tentang Indonesia,” tuturnya sambil menambahkan ungkapan semoga si-A dan si-B menang.

Entah dari mana mereka juga tahu bahwa kami rombongan dari Indonesia. Selain dari fisik, bisa jadi penggunaan perlengkapan salat seperti sarung dan songkok  menjadi ciri khas ke-Indonesiaan. Jangan heran bila para pedagang itu langsung menyapa dalam bahasa kita.

“Sebenarnya ada jamaah juga dari negera lain (se-Asia) yang berpenampilan mirip jamaah umrah Indonesia. Namun jamaah Indonesia lebih dikenal daripada mereka,” kata Ustad Muhammad Hirjan, salah seorang muthawif (pembimbing umrah) rombongan kami.

Bahkan, tambah Hirjan, bila jamaah umrah Indonesia berjalan bareng jamaah dari negara lain, maka jamaah Indonesia lah yang akan disapa oleh para pedagang di Madinah tersebut. “Seolah-olah bahasa Indonesia itu bahasa ketiga setelah bahasa Arab dan Urdu yang berlaku di sini,” celetuknya.

Koran ini pun coba mendekati salah seorang pedagang. Dia menyapa ramah, ”Apa kabar Indonesia?”. “Ahamdulillah,” jawab saya. Kemudian, kami pun bertanya, bagaimana kok bisa berbahasa Indonesia. Pedagang yang mengaku bernama Abdullah Karim itu berkata, karena jamaah Indonesia baik dan ramah.

Kami menanyainya lebih detail bagaimana dengan jamaah dari Asia lainnya. Mereka bilang jumlahnya masih kalah dibanding jamaah umrah dari Indonesia. “Indonesia bagus dan baik,” ucapnya. “Jamaah dari ….. (negara lain se-Asia) bakhil (pelit, Red),” imbuhnya.

Ooohhh pantas. Jamaah haji dan umrah dari Indonesia dikenal paling suka berbelanja oleh-oleh. Meski sebagian memilih membeli di tanah air. “Kurang mantap hati ini kalau tidak bawa langsung dari sini (Madinah, Red),” tegas Miftahku Riza, jamaah umrah asal Pagu, Kediri.

Apalagi, kata Riza, para pedagang di Madinah juga menerima pembayaran dengan mata uang rupiah. Apalagi transaksi memakai rupiah lebih menguntungkan dibanding real. Riza mengaku sempat menukar rupiah ke real di tanah air. 1 real dihargai Rp 4.200. Namun pedagang di Madinah menerima pembayaran 1 real dihargai Rp 4.000. “Lumayan kan,” ucapnya.

Karena itu, Riza berpesan, calon jamaah umrah sebaiknya berbekal real secukupnya saja. Toh pedagang di Madinah juga menerima rupiah sebagai alat pembayaran. “Boleh ke sini bawa real secukupnya saja,” imbuhnya.

Tak hanya pedagang di sekitar Masjid Nabawi yang cukup lancar berbahasa Indonesia, pun di tempat lain. Misalnya saat rombongan jamaah umrah mengunjungi Jabal Uhud dan Jabal Nur atau Rahmah. Para pedagang piawai menawarkan dagangan dengan bahasa Indonesia. “Sepuluh real dapat tiga,” ucap pedagang buah delima. “Ayo 50 ribu rupiah atau 15 real, murah,” ucap pedagang gaun hitam panjang untuk perempuan. Pedagang-pedagang asal Bangladesh, Afrika, dan lainnya itu bisa dijumpai di setiap titik keramaian jamaah umrah atau haji di Madinah.

(rt/jpr/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia