Senin, 25 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Travelling
Koper “Beranak” Hindari Penyitaan Zamzam

Makin Nyaman dan Mudahnya Melaksanakan Umrah di Tanah Suci (2)

09 Desember 2018, 07: 05: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

BELI : Seorang  membeli galon di sekitar Hotel Pullman di Makkah.

BELI : Seorang membeli galon di sekitar Hotel Pullman di Makkah. (RADAR TULUNGAGUNG)

 Selain tata cara beribadah, banyak juga calon jamaah yang “ribut” soal oleh-oleh. Khususnya agar bisa membawa pulang air zamzam dalam jumlah banyak. Sebenarnya, tak perlu perjuangan khusus untuk itu.

Aris Harianto dan Widyaning Setya, Tanah Suci Makkah

Masalah komunikasi tak menjadi kendala. Namun bagaimana cara bisa membawa oleh-oleh, khususnya air zamzam, sering dipertanyakan. Meskipun, setiap jamaah mendapat jatah satu galon kecil (5 liter) air zamzam dari biro perjalanan yang memberangkatkan. Itu pun dirasa tidak cukup.

Berbagai jurus pun diterapkan. Ada yang nggak mau repot membawa zamzam dari Madinah atau Makkah. Tapi cukup membelinya di biro umrah saat tiba kembali di tanah air. Harganya pun tentu cukup mahal. Lima liter zamzam dihargai Rp 500 ribu. Tak jarang para jamaah membelinya saat tiba di bandara saat pulang.

“Ya bagaimana lagi, pas banyak tamu, kita nggak khawatir kehabisan stok. Nggak enak rasanya kalau sampai kehabisan zamzam saat banyak tamu,” ujar Binti Mutammimah Khomsin, salah satu jamaah umrah yang berangkat bareng Koran ini akhir November lalu.

Namun, banyak juga yang menempuh cara ekstrem. Di sela-sela ibadah, baik di Madinah atau pun Makkah, para jamaah bisa mendapatkan air zamzam yang memang disediakan di dalam masjid. Jurusnya, botol air kemasan 600 mililiter telah disiapkan dalam tas. Begitu selesai ibadah, selain minum di tempat, botol tersebut diisi air zamzam untuk dibawa kembali ke kamar hotel.

 Jadi jangan heran, bila banyak koper besar para jamaah berisi zamzam. Botol air kemasan 600 mililiter ditutup rapat dan dilakban bagian atasnya agar tidak mudah tumpah. Tapi cara ini juga berisiko botol pecah dan zamzamnya terbuang percuma. Sebab, proses pengangkutan koper ke dalam bagasi pesawat sangat rentan tertindih koper lain atau bahkan dilempar oleh petugas bagasi.

Tak hanya itu, cara tersebut juga butuh usaha ekstra lainnya. Sebab, tak jarang petugas kebersihan di dalam Masjid Nabawi atau Masjidil Haram melarang kita mengisi zamzam ke dalam botol kemasan. “Haji, haji haram (nggak boleh),” ujarnya. Kecuali bila diminum di tempat karena telah disediakan cup plastik warna putih.

Maklum, selain jamaah dari Indonesia, banyak jamaah dari negara lain seperti Bangladesh atau Pakistan yang melakukannya. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan membawa galon untuk menampung zamzam. Pemerintah Arab Saudi konon miris melihat aksi tersebut.

“Mereka telah menengarai zamzam gratis di masjid itu telah diperjualbelikan di luar,” tutur Muhammad Hirjan, warga Nusa Tenggara Barat yang sudah enam tahun bermukim di Madinah.

Faktanya, banyak pedagang atau kios di sekitar Masjid Nabawi atau Al Haram yang menjajakan zamzam dalam jeriken. Rata-rata ditawarkan seharga 5 real atau sekitar Rp 21 ribu. Namun soal keasliannya tidak terjamin.

Zamzam dalam jeriken ini bisa ditemukan di kompleks kios menuju gate (pintu) 21 dan 23 pelataran Masjid Nabawi. Di masjid tersebut, zamzam memang tersedia berlimpah di dalam masjid.

Berbeda dengan Masjidil Haram Makkah. Zamzam bisa diperoleh jamaah di luar masjid. Tepatnya di depan pintu masuk nomor 21 sampai 24 atau gate King Abdul Aziz. Di sana terdapat tempat seperti tempat wudu. Ada sekitar delapan keran air, tapi bukan tempat untuk bersuci. Pada bagian atas keran, terdapat tulisan berwarna hijau dan putih dalam huruf kapital “Zamzam for Drink!”.

Tempat ini pun menjadi tempat favorit jamaah untuk mengisikan zamzam ke dalam galonnya. Namun, awas keliru. Tak jauh dari keran zamzam tersebut, juga terdapat bangunan serupa yang bukan menyediakan zamzam. Ternyata tempat wudu bagi jamaah yang masuk lewat gate 21 sampai 24. Khususnya jamaah Indonesia yang menginap di tower “jam hijau” kompleks perhotelan.

Begitulah jurus ngangsu zamzam yang memang disediakan gratis bagi jamaah Masjidil Haram Makkah. Jangan heran bila beberapa jamaah merelakan kopernya hanya berisi zamzam dalam botol kemasan 300 sampai 600 mililiter. Oleh-oleh seperti songkok, tasbih, sajadah, atau bahkan kurma, harus mengalah keluar koper. Tak jarang pula, yang semula berangkat ke Tanah Suci dengan satu koper, saat kembali ke Tanah Air kopernya beranak dua atau bahkan tiga koper.

“Ya terpaksa kita siapkan tanda pengenal khusus untuk koper tambahan dari para jamaah. Biar semua koper itu bisa ikut terbang ke tanah air,” terang Ustad Ahmad Mujab Muthohar, tour leader rombongan kami.

Ini wajar. Sebab, urusan benda cair di bagian pemeriksaan keimigrasian sangat ketat. Botol berisi cairan di atas 100 mililiter harus ditinggal alias tidak boleh masuk kabin pesawat. Maka, botol zamzam dalam koper menjadi alternatif “penyelamatan”.

Para jamaah pun mencoba membawa sejumlah botol berisi zamzam dalam tas jinjing. Mereka pun “selamat” dari petugas imigrasi. Tidak ada penyitaan. “Saya pikir nggak masalah kok bila jumlahnya (botol berisi zamzam, Red) dalam wajar,” tukas Endra Gunawan, jamaah Haji asal Karangrejo, Tulungagung, menuturkan pengalamannya.

Namun ada cara lebih jitu lainnya untuk bisa membawa air zamzam dalam jumlah cukup. Tentunya tidak merepotkan alias tak membutuhkan koper khusus. Sebab, pemerintah Arab Saudi membuka konter khusus penjualan zamzam di depan pintu masuk bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Begitu juga di bandara Madinah.

Konter resmi penjualan air zamzam kemasan lima liter tersebut tepatnya berada di bagian luar sebelah kanan pintu masuk bandara King Abdul Aziz. Ada ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter per segi tertampang tulisan dan tumpukan kardus zamzam. Harganya 7 real atau sekitar Rp 30 ribu per galon kemasan 5 liter zamzam. Tapi setelah membelinya, kardus kemasan pembungkus galon zamzam harus dilepas dan dibuang. Jika tidak, petugas bandara akan menyita zamzam tersebut.

“Saya tidak tahu kalau galon zamzam harus dikeluarkan dan dibuang kardusnya. Saya izin keluar bandara untuk beli zamzam lagi, ternyata dilarang. Belum berhasil kali ini,” ucap Miftahku Riza, jamaah asal Pagu, Kediri, yang gagal menyeberangkan 5 liter zamzam melewati petugas bandara Jeddah. 

(rt/jpr/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia