Sabtu, 23 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Proses Pembuatan Sandal Bakiak Agar Lebih Awet

31 Desember 2018, 05: 05: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

KAYU: Karidi saat memasang pengikat kaki sandal bakiak dari karet ban bekas.

KAYU: Karidi saat memasang pengikat kaki sandal bakiak dari karet ban bekas. (wHENDY GIGIH P/RADAR TULUNGAGUNG)

 TULUNGAGUNG- Wilayah Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, ternyata dahulu merupakan salah satu pusat pembuatan sandal bakiak. Yakni, sandal yang terbuat dari kayu dengan pengikat dari karet ban bekas yang dipaku di dua sisinya. Kini, hanya ada beberapa orang yang masih bertahan. Salah satunya Karidi.

Pria berusia 80 tahun itu masih bertahan membuat sandal bakiak. Masih adanya pembeli, membuat Karidi tetap semangat meproduksi sandal yang sudah ada sejak zaman penjajahan itu. Alasan lain, sandal bakiak masih diminati pembeli dari luar kota. Salah satunya Jakarta.

Saat tiba di rumah Karidi, terlihat tumpukan kayu halaman depan rumah dan teras. Kayu itu merupakan jenis kayu waru. Ini yang akan digunakan untuk membuat sandal bakiak. Sebenarnya kayu jenis apapun bisa dipakai untuk bakiak. Namun kayu waru dianggap paling bagus, karena ringan namun tetap kuat. Selain itu, tahan air dan rayap.

Untuk membuatnya, kayu harus dipotong sesuai ukuran. Selanjutnya dibentuk menggunakan golok ataupun pisau besar. Tahap berikutnya diamplas hingga halus, terutama bagian atas atau yang bersentuhan langsung dengan kulit telapak kaki. Ketika membentuk sandal bakiak inilah, disesuaikan ketebalannya. Rata-rata, ketebalan sekitar separuh jari telunjuk orang dewasa. Namun ada juga yang dibuat lebih tipis.  

Setelah halus, dilanjutkan pengecatan ataupun dipernis. Tujuannya agar sandal bakiak lebih awet dipakai sebab tidak akan mudah dimakan rayap. Agar lebih menarik, dipilih warna cerah. Seperti merah, hijau, dan kuning. Bukan hanya itu, Karidi juga melukis berbagai gambar di sandak bakiak buatannya. Contohnya gambar bunga, daun, kupu-kupu, dan lain sebagainya. “Saya membuat sejak 1960an ketika masih belum menikah,” ujar karidi.

Sandal bakiak yang sudah dicat, dijemur di bawah terik matahari. Proses ini membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua hari. Jika cuaca tidak mendukung misalnya karena hujan, pengeringan bisa lebih lama. “Initinya membuat bakiak ini tidak bisa tergesa-gesa, harus telaten,” kata bapak Sembilan anak itu.

Untuk mendapatkan bahan baku, kakek 18 cucu itu tidak sulit. Dia membeli dari penjual kayu lokal. Peralatan yang dipakai masih tradisional. Beberapa di antaranya kapak, golok, gergaji, amplas, kuas. Untuk gergaji ataupun amplas, terkadang menggunakan listrik. Namun untuk membentuk sandal, masih manual.

Dalam sehari, Karidi mengaku tidak memproduksi sandal bakiak. Sebab tidak bisa tergesa-gesa. Selai itu, dia hanya dibantu Rio, anaknya. Rata-rata, bisa membuat lima atau lebih sedikit.

Pemasaran, Karidi menjual eceran dan grosir. Eceran biasanya sekitar Rp 10 ribu, namun juga bisa kurang dari itu. Pembeli eceran masih banyak dari kalangan santri pondok pesantren dan desa. Untuk pembeli grosir, Rp 120 ribu untuk setiap kodi alias 20 pasang sandal bakiak. “Saingan terberat yakni sandal jepit karet. Sandal bakiak pernah ramai pada 1965,” jelas Karidi.

(rt/whe/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia