Sabtu, 23 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Kisah Perjuangan Usul Menekuni Kerajinan Barongan Hampir Tiga Dekade

Bermodal Tekad Kuat, Hadapi Persaingan Kerja

08 Januari 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MASIH EKSIS: Usul menunjukkan sebagian kerajinan hasil karyanya kemarin (7/1).

MASIH EKSIS: Usul menunjukkan sebagian kerajinan hasil karyanya kemarin (7/1). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Menjalani sebuah pekerjaan memang harus bermula dari hati yang tulus agar terus awet. Tak terkecuali apa yang dijalani Usul, warga Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru. Hampir tiga dekade lamanya dia menekuni kerajinan barongan. Semangatnya terus menyala untuk membuat barongan kendati kini persaingan lebih ketat.

DHARAKA R. PERDANA

Hari itu, Usul yang keranjingan bergabung dengan grup jaranan, merasa kebingungan untuk mencari perlengkapan yang kurang. Apalagi grupnya merasa keberatan dengan harga barongan yang ada di pasaran. Meskipun kini harga Rp 150 ribu terhitung kecil, pada 1990-an sudah sangat besar. Alhasil, dia pun bertekad membuat sendiri untuk menghemat pengeluaran.

Bermodal tekad kuat dan memperhatikan apa yang diajarkan para senior, pria tua yang sekarang sudah berusia 68 tahun ini bisa membuat sendiri. Bahkan, bisa dikatakan kini dia menjadi salah satu sesepuh perajin barongan berikut peralatan jaranan di Kota Marmer.

Ditemui di kediaman sederhananya di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, pria yang hanya memiliki nama satu kata itu mengakui jika kini tingkat persaingan perajin barongan memang cukup ketat. Mengingat jumlahnya memang jauh lebih banyak dibanding saat dia masih muda dulu. “Tapi saya tetap membuat asalkan ada kayu bahan bakunya,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, selama ini dirinya berusaha untuk menyelesaikan sendiri jika ada pesanan. Namun juga harus melihat apakah si pemesan terburu-buru atau tidak. Jika harus segera selesai, dalam tempo tiga hari dia sudah bisa menyelesaikan satu barongan. Kendati demikian, dia masih harus menyisihkan waktu untuk mencari pakan ternaknya hingga jarak lumayan jauh dari rumahnya.

Obrolan Koran ini dan pria sepuh ini pun terputus sejenak. Karena di saat bersamaan, ada tiga anak kecil yang masuk ke ruang tamu. Tanpa ba bi bu, mereka memainkan kendang dan menyentuh barongan yang diletakkan di kursi ruang tamu. Sesekali tawa kecil menyeruak dari sela bibir mungil. “Ini masih sedikit. Kalau saya sedang memahat, bisa lebih banyak yang berkumpul di depan rumah. Mungkin dianggap hiburan gratis,” ujar ayah lima putra ini lantas tertawa.

Di usianya yang terus merambat senja, kakek empat cucu ini mengaku masih bisa terus berkarya. Tidak hanya barongan yang konvensional, tetapi ada juga barongan mini yang bisa digunakan untuk hiasan sepeda kuno. Tidak jarang, dia pun sering mendapat pesanan miniatur untuk hiasan sepeda yang dihargai sekitar Rp 300 ribu itu. “Selagi masih kuat, saya akan terus berkarya. Meskipun tidak ada anak saya yang mau meneruskan,” tandasnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia