Sabtu, 23 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Kus Sugiantoro Manfaatkan Daun dan Biji untuk Kerajinan

Rambah Pasar Internasional

09 Januari 2019, 10: 33: 47 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

UNIK: Kus Sugiantoro di antara hasil karya kerajinan daur ulang daun buatannya.

UNIK: Kus Sugiantoro di antara hasil karya kerajinan daur ulang daun buatannya. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Siapa bilang limbah dedaunan tak memiliki nilai ekonomi. Di tangan terampil Kus Sugiantoro, berbagai limbah daun dan biji-bijian disulap menjadi aneka kerajinan unik. Bahkan, mulai rambah pasar internasional.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Lembaran pelepah daun pisang yang telah kering tampak dijajar di halaman rumah Kus Sugiantoro, di Desa Gilang, Kecamatan Ngunut. Tak jauh dari sana, aneka lampu hias, lukisan, tempat tisu, dan aneka kerajinan lain berjajar rapi di sebuah rak kaca. “Monggo masuk, maaf rumahnya sedikit berantakan. Sedang menyelesaikan pesanan pelanggan dengan teman-teman ini,” sambut Kus Sugiantoro ramah.

Pria yang akrab disapa Cak Koes ini merupakan seorang perajin (crafter) yang memanfaatkan limbah dedaunan menjadi barang bernilai tinggi. Dia tak menyangka jika hobinya membuat kerajinan dari bahan daur ulang akan menjadi ladang rejekinya.

Dia mengaku sejak kecil kerap memanfaatkan aneka dedaunan kering di sekitar rumah untuk membuat pigora sederhana. “Dulu pas sekolah ada prakarya. Itu membuat dari bahan-bahan limbah atau daur ulang. Nggak tau suka saja dan terus membuat,” jelasnya.  

Hingga pada 2004, Cak Koes pun memberanikan diri keluar dari pekerjaannya dan membuka bisnis crafter dari limbah daun. Sengaja pilih daun lantaran prihatin dengan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

Selain itu, kerajinan berbahan dasar daun memiliki keunikan. Semakin lama, dedaunan mengering akan mengeluarkan serat. Artinya, kian menambah nilai estetika. “Dulu awalnya membuat pigora dari limbah kertas daur ulang. Terus coba ke daun karena sekitar rumah banyak daun-daun yang jatuh dibiarkan begitu saja,” terangnya pada Selasa (8/1).

Tak disangka, hasil kerajinan miliknya mendapat respons positif dari teman-temannya. Itulah yang membuat ayah dua putra ini kian mantap tekuni bisnis handycraft. Semenjak itu terus melakukan berbagai inovasi. Memanfaatkan aneka daun dan biji-bijian kering untuk diubah menjadi aneka kerajinan seperti tempat tisu, lukisan, lampu hias, bahkan suvenir pernikahan.

Dia menjelaskan, pada dasarnya semua daun dapat dibuat menjadi kerajinan. Mulai daun nangka, kopi, eceng gondok, serabut jagung, hingga pelepah pisang. Bahkan biji-bijian seperti jagung dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan yang unik. “Yang susah dibuat itu yang memiliki teksturnya lemes dan daunnya terlalu kecil. Contohnya, daun belimbing itu susah dimanfaatkan,” tandas suami dari Lita Widyasari ini. 

Dalam proses pengerjaan, tak jarang Kus memberdayakan tetangga sekitar khususnya kaum hawa untuk melatih keterampilan melalui kerajinan. Tujuannya, untuk pemberdayaan diri dan menciptakan lapangan kerja secara tidak langsung. Bahkan, kerap diundang untuk mengadakan pelatihan keterampilan dan menjadi narasumber mengenai bisnis industri kreatif. “Kadang ibu-ibu di sini suka belajar membuat entah tempat tisu atau kerajinan lain. Saya senang kalau mereka bisa memberdayakan diri,” ungkapnya.

Berkat keuletan dan semangat terus berinovasi, pria yang hobi bermain voli ini mengaku dapat mengumpulkan sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta dalam sekali proyek pengerjaan. Bahkan, kini bisnisnya mulai merambah pasar internasional. Seperti Singapura dan Timor Leste. “Kerajinan handmade begini unik karena beda orang pasti beda pengerjaan walaupun jenis barang yang dikerjakan sama. Jadi berpotensi untuk dikembangkan terus,” jelasnya. 

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia