Jumat, 18 Jan 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Mengenal Rahmad Asrari, Kolektor dan Mekanik Trail Tua di Trenggalek

Telaten dan Hati-Hati Pilih Onderdil

10 Januari 2019, 05: 02: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BONGKAR: Mudmad ketika memperbaiki sepeda motor trail tua yang ada di bengkelnya.

BONGKAR: Mudmad ketika memperbaiki sepeda motor trail tua yang ada di bengkelnya. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Membeli sepeda motor keluaran tahun terbaru mungkin sudah lazim dilakukan masyarakat, tak terkecuali di Kota Keripik Tempe. Pastinya ada keasyikan tersendiri jika sepeda motor yang dibeli keluaran tahun lama alias sepeda motor tua. Seperti Rahmad Asrori yang hobi koleksi dan memperbaiki sepeda motor trail tua.

ZAKI JAZAI

Jadul, gampang macet, butuh biaya yang tidak sedikit untuk memperbaiki, bahkan cari onderdil sulit, tak jarang harus keluar masuk bengkel, hingga laju sepeda motor yang tidak terlalu kencang. Mungkin anggapan itu yang terlintas di benak seseorang jika berbicara terkait sepeda motor tua. Dibutuhkan tekad yang kuat sekaligus modal yang tidak sedikit jika ingin memiliki, bahkan mengoleksi sepeda motor tersebut. Namun, itu tidak menjadi halangan bagi seorang yang hobi mengoleksi sepeda motor tua, seperti Rahmad Asrari.

Hobi tersebut terlihat jelas ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini mengunjungi rumahnya yang berada di wilayah Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek. Kala itu terlihat pria yang akrab disapa Mudmad sedang memperbaiki tiga unit sepeda motor trail tua. Terlihat dia sedang asyik memasang onderdil agar bisa digunakan pada sepeda motor tersebut. “Maklum, sepeda motor tua keluaran tahun 1977 hingga 1990 sehingga saat ini sudah tak diproduksi lagi. Begitu juga dengan onderdilnya,” ungkap Mudmad kepada Koran ini.

Ternyata aktivitas tersebut sudah dilakukannya sejak 2007 lalu. Mengingat kala itu ketika melihat suatu kontes motor trail tua di luar kota, dirinya tertarik. Menurut dia, ada kesulitan tersendiri dalam memelihara sepeda motor tersebut hingga bisa digunakan kembali. Baik itu untuk bepergian ataupun sekadar mengikuti kontes. “Sejak saat itulah saya mulai tertarik atau hobi mengotak-atik sepeda motor tersebut yang berlangsung sampai kini,” tuturnya.

Alasan itulah yang membuatnya ingin belajar bagaimana cara memperbaiki hingga merakit sepeda motor tersebut. Proses pembelajaran tersebut dilakukan terlebih dahulu dengan bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel motor trail. Dari situlah sedikit demi sedikit dirinya mempelajari bagaimana cara memperbaikinya.

Lambat laun, dengan terus memperbaiki sepeda motor pelanggan yang rusak tersebut, Mudmad mulai hafal karakteristik sepeda motor itu. Mengingat berbeda merek sepeda motor tua, berbeda juga merawatnya, khususnya memilih onderdil. Sebab, bagian terpenting sebuah sepeda motor terletak di mesin. “Jenis motor trail tua beraneka ragam. Ada onderdil yang mudah ditemukan karena dulu diproduksi di Indonesia, ada pula yang sulit ditemukan karena asli dibuat di negara pabrikan sepeda motor tersebut yaitu Jepang,” imbuh bapak satu anak ini.

Jika dirinya diminta memperbaiki satu unit sepeda motor trail tua, terlebih dahulu dirinya mengecek bagian mesin, apakah tidak bisa berfungsi secara sempurna. Pada umumnya, karena usianya lebih dari 20 tahun, dipastikan ada beberapa bagian di mesin atau onderdil yang aus. Dari situ mau tidak mau, bagian tersebut harus diganti.

Mengganti bagian onderdil tersebut tidak semudah mengganti onderdil layaknya sepeda motor baru. Karena sudah tidak diproduksi lagi dan tidak dijual di toko, onderdil tersebut dijual oleh beberapa orang saja. Pastinya dalam keadaan bekas. Alasan itulah yang membuatnya harus berhati-hati memilih onderdil agar barang yang didapatkan masih dalam keadaan baik. “Jika ada onderdil dalam keadaan baru, pastinya harga jualnya melambung tinggi. Untuk itu, saya harus cermat dalam mengecek onderdil yang nanti dibeli dalam keadaan bekas,” tutur pria dengan tato di lengan kiri tersebut.

Dari situ, Mudmad harus sering pergi keluar kota untuk mendapatkan onderdil tersebut. Sedangkan untuk meminimalkan biaya ongkos transportasi, biasanya sebelum dirinya pergi keluar kota, terlebih dahulu menghubungi komunitas penggemar trail tua lainnya untuk mencarikan onderdil yang dimaksud. Jika yang bersangkutan bisa dipercaya, maka onderdil tersebut langsung dikirim.

Kendati demikian, ada beberapa bagian onderdil yang tidak bisa dicari. Karena itu, biasanya dengan kesepakatan bersama pemilik sepeda motor tersebut dirinya memodifikasi onderdil yang akan dipasangkan kepada sepeda motor tersebut. “Ada jenis sepeda motor trail tua yang bisa dipasangi onderdil sepeda motor dari trail baru, tapi dengan sedikit modifikasi. Ada juga yang harus dipasang onderdil aslinya. Karena itu, tidak jarang saya membuat sendiri bagian-bagian tersebut hingga mirip dengan aslinya, khususnya pada bagian luar seperti knalpot,” jelas pria 35 tahun ini.

Karena ketelatenannya tersebut, banyak penggemar trail tua, bahkan dari luar pulau memintanya untuk memperbaiki sepeda motornya. Dari situ minimal diperlukan biaya sekitar Rp 10 juta untuk memperbaiki satu unit sepeda motor trail tua agar bisa digunakan lagi. “Untuk memperbaikinya, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Dari situ dipastikan kelengkapan sepeda motor itu komplet agar pemiliknya tidak rugi mengeluarkan biaya banyak untuk memperbaiki,” imbuhnya.

(rt/did/zak/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia