Jumat, 18 Jan 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Tim Tari Mahasiswa Sabet Juara I Nasional di Malang

Sempat Pesimistis Sebelum Lomba

11 Januari 2019, 03: 16: 59 WIB | editor : Retta wulansari

PERCAYA DIRI: Peserta dari PGSD STKIP Tulungagung sebelum lomba tingkat nasional di Malang.

PERCAYA DIRI: Peserta dari PGSD STKIP Tulungagung sebelum lomba tingkat nasional di Malang. (ASRI KUSUMANING RATRI FOR RATU)

Beragam aktivitas positif digeluti mahasiswa di Kota Marmer dan bisa mendatangkan prestasi. Seperti lima anggota tim tari dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Tulungagung yang sabet juara I lomba tari tingkat nasional.

AGUS DWIYONO

Gerakan dan lenggok-lenggok bersama tampak dilakukan lima mahasiswa STKIP Tulungagung. Musik tradisional mengiringi setiap langkah dan gerak-gerik penari. Mereka latihan rutin menari sekitar pukul 16.00 Rabu (9/1).

Mereka semakin kompak melakukan gerakan saat musik terus terdengar. Selendang berwarna kuning membantu mereka dalam membuat gerakan dengan tangan gemulai.

Grup tari dari PGSD STKIP Tulungagung itu pada Minggu (6/12/18) lalu menjuarai lomba tari tingkat nasional di Malang.

Salah satu personel grup tari, Indah Dewi Marliana mengatakan, kegiatan yang diikutinya di Malang itu memiliki pengalaman sendiri. “Tim kami baru kali pertama ikut lomba,” ungkapnya.

Lomba diikuti peserta dari berbagai kota. Timnya sempat pesimistis saat mengetahui peserta lomba dari Jogjakarta dan Surakarta. Tim dua kota tersebut terkenal baik dalam menyuguhkan penampilan. “Jumlah peserta ada enam kelompok dari kampus memiliki jurusan PGSD,” ungkapnya.

Mahasiswa semester VII ini mengaku tidak menyangka jika sabet juara I setelah hasil akhir diumumkan. Sontak mereka bahagia saat diumumkan menjadi terbaik. “Sama sekali tidak menyangka jika akan memenangkan lomba, alhamdulillah,” ungkapnya.

Anggota lain, Desinta Ayu Widayani mengaku dapat pengalaman dan cerita unik dari lomba di Malang. Sebelum lomba dimulai, ada insiden mikrofon sistem milik panitia sempat terbakar. “Lomba sempat molor, tapi tidak maslah,” jelasnya.

Dari penampilan yang disuguhkan, dewan juri tidak melihat ada kesalahan fatal gerakan. Namun ada beberapa aksesori hendak jatuh karena kebesaran saat dipakai di kepala. “Ada aksesori mahkota di kepala ukurannya kebesaran, membuat tidak nyaman,” ungkapnya.

Dia menegaskan, tidak ada persiapan khusus ikut lomba. Hanya latihan sesuai prosedur. “Hanya latihan singkat, butuh waktu sekitar lima hari,” ujarnya.

Sementara itu, pelatih tari, Asri Kusumaning Ratri mengakui jika persiapan yang dilakukan untuk ikut lomba sekitar seminggu. Itu karena ada peserta dari berbagai semester, mulai semester III hingga VII. “Yang tersulit menentukan jadwal latihan karena mereka dari semester berbeda sehingga jadwal kuliah berbeda-beda,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, anggota tim mengaku gugup sebelum tampil karena tahu lawan mereka dari luar daerah. “Ternyata setelah di atas panggung semangat mereka luar biasa. Yang awalnya grogi dan lain sebagainya, langsung hilang,” jelas pelatih yang sekaligus dosen itu. 

(rt/did/iyo/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia