Jumat, 18 Jan 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Cerita Pembalap Muda yang Kesulitan Cari Tempat Berlatih

Hanya Geber Motor sampai Gigi Tiga

12 Januari 2019, 03: 26: 59 WIB | editor : Retta wulansari

PANTANG MENYERAH: Ready (kanan) dan Andreans berlatih di sirkuit Stadion Menak Sopal kemarin.

PANTANG MENYERAH: Ready (kanan) dan Andreans berlatih di sirkuit Stadion Menak Sopal kemarin. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Prestasi tidak bisa diraih dengan mudah, butuh pengorbanan dan proses panjang. Seperti dialami dua pembalap muda asal Kota Keripik Tempe, Aprilia Ready Henanda dan Andreansyah Cahyo Ramadhan. Butuh latihan bertahun-tahun agar kedua bocah tersebut berhasil menjuarai berbagai event balap motor. Belum lagi setiap kali latihan mereka kesulitan mencari tempat latihan.

Suara bising sepeda motor terdengar menderu-deru dari dalam Stadion Menak Sopal yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Kalurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek, Kamis (10/1). Ya, bukan menjadi rahasia umum lagi, di stadion kebanggaan masyarakat Trenggalek tersebut terdapat fasilitas sirkuit untuk balap. Tak ayal, banyak pembalap bukan hanya dari dalam kota, melainkan juga dari luar kota datang ke area tersebut sekadar meng-geber motornya ketika area tersebut diizinkan untuk latihan balap.

Bersamaan itu, terlihat dua anak muda lengkap dengan perlengkapan balapnya. Mereka bergantian memutari sirkuit tersebut. Bahkan sesekali mengadu kecepatan sepeda motor bebek yang di-geber-nya. Ya, mereka Aprilia Ready Henanda dan Andreansyah Cahyo Ramadhan, pembalap muda asal Trenggalek yang kerap menjuarai berbagai event atau kejuaraan balap motor.

Seperti pemuda pada umumnya, setelah selesai meng-geber sepeda motornya dan beristirahat, mereka kerap kali mengeluarkan umpatan untuk bergurau. Ketika itu, teman-teman atau mekanik yang menunggu mereka berlatih juga ikut membalas umpatan tersebut untuk bergurau. “Semua orang yang ada di sini, baik pembalap, mekanik dan sebagainya seperti keluarga. Makanya saat beristirahat kami selalu bergurau agar tidak tegang,” ungkap Aprilia Ready Henanda kepada Jawa Pos Radar Trenggalek ini.

Ternyata, latihan di sirkuit stadion tersebut baru satu minggu ini dilakukannya. Mengingat Ready -sapaan Aprilia Ready Henanda- dan pembalap lainnya tidak bisa berlatih di sirkuit di Stadion Menak Sopal Trenggalek tersebut. Sebab, lebih dari satu tahun ini ada imbauan dari pengelola tentang larangan berlatih di tempat tersebut. “Semenjak ada imbauan akan larangan itu, tidak ada yang bisa kami lakukan selain menuruti dan mencari lokasi lainnya,” ujarnya.

Untuk menjaga stamina dan kemampuannya dalam mengendarai sepeda motor tetap terjaga, dirinya harus pergi ke luar kota seperti Blitar dan Madiun untuk berlatih. Dari situ, biaya yang dibutuhkan untuk sekadar berlatih. Praktis lebih mahal karena ditambah biaya transportasi. Dengan demikian, agar tidak mengganggu jam belajarnya dan meminimalkan biaya, praktis latihan hanya dilakukan setiap hari Minggu. Dengan catatan, ada yang mau mengantar karena sepeda motor harus dinaikkan pikap dahulu.

Dengan situasi tersebut, dirinya harus memiliki cara lain agar kondisinya tetap terjaga. Yaitu menjaga kondisi fisiknya dengan berolahraga. Baik itu dengan bermain bersama teman sebayanya maupun olahraga sendiri dengan cara pemanasan dan berlari-lari di sekitar rumah.

Kendati demikian, itu bukan masalah berarti baginya. Sebab, setiap kali event kejuaraan balap motor dari beberapa kelas yang diikuti, dirinya selalu berhasil naik podium. Beberapa waktu lalu, hal di luar dugaan dicapainya. Yaitu menjadi juara satu dalam kejuaraan balap sepeda motor yang lawan-lawannya memiliki usia di atas 18 tahun. “Pastinya karena usia yang lebih senior, mereka memiliki pengalaman yang lebih bagus. Syukurlah saya bisa mengatasi dan mendapat podium pertama,” ujar siswa kelas IX SMPN 1 Pogalan ini.

Bersamaan itu, Andreansyah Cahyo Ramadhan menambahkan cerita dari Ready. Menurut dia, ketika berlatih di sirkuit luar kota, kemampuannya dan pembalap asal Trenggalek lainnya kurang begitu terlihat.

Selain karena sedikit letih harus menempuh perjalanan puluhan kilometer, panjang sirkuit seperti di Blitar kurang. Mengingat pembalap tidak bisa meng-geber sepeda motornya dengan kencang karena sebentar saja sudah memasuki tikungan. “Karena jarak yang pendek, kami hanya bisa meng-geber sepeda motor sampai gigi tiga. Setelah itu dikurangi lagi karena sudah masuk tikungan,” imbuhnya.

Karena itu, Andreans dan pembalap asal Trenggalek lainnya berharap agar sirkuit milik Trenggalek dibuka setiap hari dan bisa digunakan pembalap, khususnya dari dalam daerah untuk berlatih. Mengingat banyak bibit banyak bibit pembalap dari Trenggalek yang bakal bisa mengharumkan nama daerah asal kesulitan mencari tempat berlatih.

Sekiranya lintasan sirkuit kini diperbaiki. Mengingat di beberapa tikungan, kondisi lintasan tidak rata alias bergelombang sehingga membuat pembalap harus berhati-hati dalam melewatinya agar tidak terjatuh. “Kondisi seperti itu (lintasan bergelombang, Red) sudah terjadi sekitar 2017 lalu. Semoga saja ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaikinya. Sebab, sirkuit ini sering kali digunakan untuk event balap tingkat nasional,” jelas remaja asal Desa/Kecamatan Tugu tersebut.

(rt/dre/zak/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia