Selasa, 19 Feb 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Jajanan Gipang dan Berondong

Optimistis Dilirik Konsumen

13 Januari 2019, 12: 08: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TERUS BERPRODUKSI: Ibu-ibu sedang membungkus gipang yang nanti siap dijual.

TERUS BERPRODUKSI: Ibu-ibu sedang membungkus gipang yang nanti siap dijual.

TULUNGAGUNG – Para pembuat jajanan gipang dan berondong merasa resah. Pasalnya, selain banyak pesaing pabrikan, harga gula dan beras juga naik. Kondisi ini membuat omzet beberapa industri rumahan jajanan tersebut turun.

Seperti yang dialami sebagian pengusaha industri rumahan jajanan gipang dan berondong di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu. Meskipun omzet turun, mereka tetap memproduksi. Mereka juga tetap optimistis jajanan tradisional tersebut tetap dilirik konsumen.

Siti Rohayah, pemilik industri rumahan gipang dan berondong mengungkapkan, penurunan omzet itu mulai dirasakan 2010 sampai sekarang. Pada saat itu industri rumahan makin banyak, termasuk di Desa Serut yang terus berkembang industri jajanan. “Pada 2005 saya mengawali industri gipang dan berondong ini. Tapi pada 2010 industri-industri jajanan gipang lain mulai berkembang. Sampai sekarang industri rumahan yang tergolong besar ada tiga, termasuk saya. Itu belum yang kecil,” tandasnya.

Siti Rohayah mengatakan, berbisnis gipang dan berondong harus bisa membaca keinginan konsumen khususnya harga. Jika jajanan ini dijual mahal, dipastikan tidak laku. Karena itu, dirinya menjual Rp 500 per biji. “Harga gipang dan berondong murah. Karena itu saya memproduksi banyak. Agar mendapatkan keuntungan yang lumayan,” katanya.

Alasan ibu berjilbab ini memproduksi banyak, selain untung lumayan, juga tidak gulung tikar. Ketika memproduksi sedikit, dipastikan tidak untung dan tidak sepadan dengan biaya produksi. “Biasanya yang gulung tikar itu karena produksinya sedikit,” jelasnya.

Dia melanjutkan, rata-rata per hari ada sekitar 1.000 bal gipang dan berondong. 1.000 bal itu berisi 500 bungkus gipang atau berondong. Jika sehari bisa terjual 1.000 bal gipang atau berondong, maka dapat untung sampai Rp 14 juta. Namun, untuk bisa memproduksi 1.000 bal jajanan, itu tergantung jumlah karyawan yang masuk. “Sedangkan untuk mencapai produksi itu, butuh 40 karyawan. Jadi jika ada karyawan yang tidak masuk, jumlah produksinya pun turun,” katanya.

Meski bisa memproduksi dalam jumlah banyak, omzet menurun. Ini dipengaruhi harga bahan-bahan mentah seperti beras dan gula yang mahal. “Terus terang, kini bahan-bahan dasar jajanan itu mahal dibanding 2005 lalu,” katanya.

Mengenai pemasaran, lanjut Siti Rohayah, sekarang daerah yang dijangkau cukup luas. Sedangkan pada 2005-2007 hanya sebatas kota. Kini gipang dan berondong tersebut menjangkau luar kota dan pulau. “Biasanya luar kota itu Surabaya, Malang, dan Sragen. Sedangkan luar Jawa yakni NTT, NTB, dan Papua. Rata-rata kirim sampai 1.500 bal,” jelasnya.

Jajanan yang paling laris adalah gipang. Akibatnya, produksi berondong tak sebanyak gipang. “Dari empat alat oven, beras yang diubah menjadi gipang sehari bisa sampai 1,5 kuintal dengan dua karyawan,” ujarnya.

Dia menambah, industri rumahan ini dijalaninya dengan telaten dari produksi skala kecil dengan pemasaran hanya di dalam kota. Tapi kini sudah dikenal hingga luar pulau Jawa. “Dahulu coba-coba dan memang tak ada usaha lain. Maka dari itu, tetap telaten dan sabar meski saat babat (mulai) itu untungnya kecil,” tandasnya. 

(rt/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia