Selasa, 19 Feb 2019
radartulungagung
icon-featured
Hukum & Kriminal

Tunanetra dan Dukun Pijat Divonis 15 Tahun Bui Serta Denda Rp 1 Miliar

07 Februari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

Ilustrasi

Ilustrasi (JawaPos.Com)

TULUNGAGUNG- Jarni, 50, warga Kecamatan Kalidawir yang tega gagahi adik ipar hingga hamil, sudah jalani sidang putusan perkara kasus tersebut. Pria tunanetra dan dukun pijat itu divonis 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Vonis tersebut lebih tinggi dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut Jarni hukuman selama 8 tahun penjara atas kasus pencabulan terhadap gadis yang berusia 14 tahun itu.

Awal mula terbongkarnya kasus tersebut berdasarkan kecurigaan keluarga korban. Keluarga curiga dengan tanda-tanda yang di alami korban. Akhirnya korban mengaku juga seringkali di gagahi oleh terdakwa.

Humas Pengadilan Negeri Tulungagung Yuri Adriansyah mengatakan, jika terdakwa dilimpahkan kepada pengadilan pada akhir November 2018 lalu. Sedangkan untuk putusan perkara kasus tersebut telah selesai di gelar, Rabu (6/2). "Sudah selesai kami lakukan gelar putusan, Rabu" jelasnya Kamis (7/2).

Sidang berlangsung dipimpin oleh Hakim Ketua Florence Katerina. Dengan jaksa penuntut umum Puji Astuti memutuskan vonis untuk terdakwa yakni penjara 15 tahun dengan denda 1 miliar subsider 3 bulan kurungan. "Vonis itu lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum," ungkapnya.

Dia menjelaskan, jaksa penuntut umum menuntut kepada terdakwa dengan tuntutan 8 tahun penjara dengan denda 1 miliar subsider 4 bulan kurungan. "Tuntutan itu karena terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan," ujarnya.

Hal tersebut sebagaimana di atur dan diancam pidana dalam pasal 81 ayat 1 junto pasal 76D peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 yang mana telah disahkan menjadi UU No 17 tahun 2016 junto UU No 35 tahun 2014 junto UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam dakwaan kesatu.

Sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku pihaknya tetap memberikan waktu kepada terdakwa untuk mengambil langkah hukum selanjutnya, untuk melakukan banding atau masih pikir-pikir. "Terdakwa memilih pikir-pikir, sesuai ketentuan waktu 7 hari," jelasnya.

Dia menambahkan, beratnya putusan yang diberikan kepada terdakwa dikarenakan beberapa hal yang memberatkan, seperti perbuatan terdakwa yang telah merenggut masa depan korban, mempengaruhi kondisi psikologis, bahkan hingga korban hamil. "Terdakwa juga sudah menodai masa depan, baik pikiran korban yang masih di bawah umur," ungkapnya.

(rt/did/iyo/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia