Minggu, 21 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan

Guru TPA Segera Terima Rp 2,2 Miliar, Tersebar di 732 Lembaga

08 Februari 2019, 17: 29: 59 WIB | editor : Retta wulansari

MENUNGGU: Sejumlah murid TPA Darussalam sedang belajar membaca Alquran sambil menunggu guru atau pengajar mereka datang, Kamis (7/2).

MENUNGGU: Sejumlah murid TPA Darussalam sedang belajar membaca Alquran sambil menunggu guru atau pengajar mereka datang, Kamis (7/2). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Pengelola taman pendidikan Alquran (TPA) di Kota Keripik Tempe boleh sedikit tersenyum. Sebab, ada wacana di 2019 ini lembaga tersebut menerima bantuan operasional, khususnya bagi tenaga pengajar di TPA sekitar Rp 2,2 miliar. “Rencananya demikian, kini masih dalam proses verifikasi untuk hibah kepada TPA” ungkap Kasubbag Perencanaan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Trenggalek Muhammad Ika Rahmanu, Kamis (7/2).

Kini madarasah diniah (madin) telah mendapatkan anggaran dari pemerintah. Yakni anggaran untuk operasional dan guru atau tenaga pengajar. Rencananya, ini juga akan berlaku bagi TPA. Namun, kemungkinan tahun ini hibah TPA tersebut hanya untuk tenaga pengajar.

Dia mengungkapkan, TPA dan madin merupakan lembaga dalam naungan Kemenag. Untuk itu, dalam proses verifikasi ini, pihaknya juga melibatkan Kemenag untuk pendataan lembaga pendidikan agama tersebut. Hasil verifikasi sementara diketahui ada sekitar 732 lembaga TPA di sini.

Hika –sapaannya- mengaku belum mengetahui pasti kapan anggaran ini bisa dicairkan. Sebab, masih ada beberapa tahapan sebelum pencairan. Semisal surat keputusan bupati mengenai penerima hibah dan petunjuk teknis (juknis) untuk hibah TPA yang notabene masih tahap verifikasi penerima.

Jika mengadopsi juknis yang ada pada hibah madin, terdapat perbedaan anggaran operasional yang diterima oleh setiap lembaga. Itu tergantung jumlah pengajar dan murid yang ada di lembaga tersebut. Namun untuk hibah TPA, kemungkinan akan sedikit berbeda, mempertimbangkan banyaknya jumlah lembaga dan keterbatasan anggaran. “Untuk sementara ini pemerataan. Jadi tidak melihat jumlah anak didiknya,” ucapnya.

Menurut dia, jika menggunakan semangat pemerataan, setiap lembaga akan menerima hibah sekitar Rp 3 juta. Itu berlaku untuk setahun. Artinya, guru atau pengajar di TPA akan menerima kurang dari Rp 300 ribu per bulan, tanpa melihat berapa jumlah guru pengajar dalam lembaga tersebut. “Memang sangat kecil karena anggaran pemeritah terbatas,” imbuhnya.

Diakuinya, untuk anggaran madin memang sedikit lebih besar karena ada tambahan atau sharing dengan pemerintah provinsi. Sedangkan, untuk hibah TPA, hanya menggunakan anggaran dari APBD. 

(rt/dre/muh/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia